Current Issues

Kasus Kematian Covid-19 Pada Anak di Indonesia Tinggi, Apa Sebabnya?

Dwiwa

Posted on June 12th 2020

Berbagai literatur di dunia selalu menyebutkan jika virus SARS-Cov-2 yang menyebabkan Covid-19 paling rentan untuk para lansia. Tetapi itu tidak berarti jika orang-orang di usia muda jadi aman terhadap penularan virus yang telah menginfeksi lebih dari 7,2 juta orang di dunia ini.

Baru-baru ini, Reuters melaporkan jika Ratusan anak di Indonesia diyakini telah meninggal karena Covid-19. Ini menjadikan ibu pertiwi sebagai salah satu negara dengan kematian anak tertinggi di dunia akibat virus corona yang sempat disebut ahli kurang berbahaya bagi usia muda.

Dokter spesialis anak dan juga pejabat kesehatan Indonesia mengatakan jika tingginya kematian anak akibat penyakit yang banyak membunuh lansia ini akibat berbagai faktor mendasar. Beberapa diantaranya adalah kurang gizi, anemia, serta fasilitas kesehatan anak yang tidak memadai.

“Covid-19 membuktikan jika kita harus melawan Covid-19,” ujar juru bicara Corona Indonesia, Achmad Yurianto kepada reuter. Dia mengatakan jika anak-anak dengan penduduk terpadat keempat di dunia ini berada dalam lingkaran setan, siklus kekurangan gizi dan anemia yang meningkatkan kerentanan terhadap virus corono.

Dia pun mengibaratkan anak kurang gizi seperti struktur yang lemah yang hancur akibat gempa bumi.

Hingga berita ini diturunkan, tercatat ada 2 ribu kematian yang terjadi di Indonesia akibat virus corona, paling tinggi di Asia Timur di luar Tiongkok. Berdasarkan dokumen kementerian kesehatan pada 22 Mei yang diperoleh Reuters, 715 orang berusia 18 tahun mengidap Covid-19 dan 28 orang meninggal dunia.

Selain itu, tercatat lebih dari 380 kematian di antara 7.152 anak yang masuk dalam kategori pasien dalam pengawasan (PDP), yang berarti orang-orang dengan gejala virus corona parah yang tidak ada penjelasan lain tetapi memiliki hasil tes negatif.

Bahkan, catatan resmi kementerian kesehatan pada 22 Mei menunjukkan angka kematian anak 28. Ini sudah membuat Indonesia memiliki tingkat kematian anak tinggi, yakni 2,1 persen dari total.

Amerika Serikat, yang saat ini mencatat jumlah kasus Covid-19 tertinggi di dunia bahkan memiliki angka kematian yang lebih kecil yakni hanya sekitar 0,1 persen. Jumlah tersebut ditemukan pada pasien yang berumur di bawah 24 tahun.

Sementara di Brasil, tingkat kematian pada pasien yang diduga Covid-19 di bawah 19 tahun adalah 1,2 persen. Sedangkan Filipina mencatat ada 2,3 persen anak-anak berusia di bawah 19 tahun yang meninggal dari total pasien.

Sebagai negara yang masih berkembang, Indonesia memang masih berjibaku dengan masalah kekurangan gizi. Menurut data United Nation Children Fund, setidaknya ada tiga masalah gizi utama yang masih menjadi persoalan di Indonesia, yakni kerdil, anemia pada ibu dan obesitas. Bahkan disebutkan jika hampir satu dari tiga anak balita Indonesia kerdil.

“Status gizi berdampak pada kekebalan tubuh anak. Itu penting untuk meringankan infeksi Covid-19,” ujar dokter Nastiti Kaswandani, dokter ahli paru di Jakarta. Sementara itu, dokter anak menyebut jika sistem perawatan kesehatan yang tidak lengkap juga menjadi sumber masalah.

“Kesenjangan terbesar di Indonesia adalah ketersediaan unit perawatan intensif anak,” jelas dokter spesialis anak di Jakarta, Sheila Putri Sundawa. Kementerian kesehatan sendiri menolak untuk menunjukkan data unit perawatan untuk anak tetapi seorang pejabat senior mengatakan jika sistem tersebut masih belum kewalahan.

Kesenjangan keberadaan ruang perawatan intensif anak ini sendiri semakin terasa di luar ibukota Jakarta. Seorang dokter spesialis anak yang bekerja di salah satu rumah sakit di Madura Jawa Timur, Dominicus Husada,  mengatakan jika ditempatnya bekerja tidak memiliki ventilator untuk anak. Seorang bocah 11 tahun pun harus kehilangan nyawa akibat virus corona pada bulan Maret.

Sementara itu di Lombok Nusa Tenggara Barat, keberadaan unit perawatan ini juga masih belum merata.

Iyansyah, seorang ayah yang harus kehilangan bayi berusia 9 bulan akibat Covid-19 mengatakan kepada Reuters jika rumah sakit tempat anaknya dirawat tidak memilik unit perawatan intensif untuk anak. “Sejujurnya, jika rumah sakit yang aku datangi memiliki fasilitas lengkap, mungkin dia bisa selamat,” ujarnya. (*)

Related Articles
Current Issues
Belum Melandai, Daerah-Daerah Ini Alami Lonjakan Covid-19 yang Signifikan

Current Issues
Kefatalan Akibat Infeksi Corona Mengalami Penurunan Dibanding Awal Pandemi

Current Issues
Obesitas Tingkatkan Risiko Kematian Akibat Covid-19 Pada Pria