Current Issues

Kesendirian dan Kesepian Itu Beda. Yuk Kenali yang Namanya Lockdown Loneliness

Kezia Kevina Harmoko

Posted on June 9th 2020

Freepik

 

Pandemi Covid-19 membuat orang seakan-akan terpenjara di rumahnya sendiri. Yang biasanya bisa sekolah dengan normal, hangout bareng teman ke mall, menikmati indahnya tempat wisata, harus mengubah kebiasaanya. Hal ini ternyata berpengaruh pada kesehatan mental. 

Dampak paling sederhana yang dirasakan adalah nggak bisa bersosialisasi dengan teman-teman seperti biasanya. Padahal semasa sekolah, sebagian besar waktu dihabiskan bersama mereka. Biasanya bercanda bareng, saling memberi semangat, ngegosip, pokonya apapun dilakukan bersama. Tapi karena pandemi jadi berkurang deh ketemunya.

Berkurangnya sosialisasi ini punya efek kuat terhadap kesehatan mental. Sebuah studi yang dilakukan oleh Universitas Oxford berjudul Achieving Resilience During COVID-19” diikuti 500 partisipan berusia 13-18 tahun. Sepertiga dari partisipan menunjukkan bahwa mereka mengalami rasa kesepian yang sangat tinggi.

Kesepian beda lho dengan kesendirian. Kalau kesendirian, kita memilih untuk sendirian aja. Misalnya ketika kita melakukan me-time dengan membaca buku dengan tujuan mengisi lagi daya sosial kita.

Sedangkan kesepian bukan sebuah pilihan, namun sebuah emosi menyakitkan yang dirasakan karena hubungan sosial yang dilakukan nggak sesuai seperti yang diinginkan. Ini bisa karena hubungan sosial tersebut terasa kurang dalam segi jumlah atau terasa kurang berkualitas. Atau bisa juga karena hubungan sosial yang dilakukan kurang luas.

Nah, kesepian ini yang bisa membawa kesehatan mental makin terpuruk. Apalagi jika kesepian yang dirasakan makin parah atau kronis. Menurut Dr Maria Loades, seorang psikolog klinis, dampak kurangnya bertemu dengan teman sebaya ini memang lebih dirasakan oleh remaja.

“Hal ini diperburuk dengan kurangnya dukungan dari para tenaga pendidik akibat lockdown ini. Perasaan yang dirasakan makin tidak keruan karena bercampur dengan kegiatan sekolah yang dibatalkan, ujian yang tertunda, kekhawatiran untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya, dan segala ketidakpastian akan keadaan lingkungan akibat pandemi ini,” jelasnya seperti yang dilansir dari Euronews.

Sebuah studi juga menunjukkan bahwa kesepian yang dirasakan remaja bisa jadi awal dari gangguan kesehatan mental seperti depresi dan gangguan kecemasan berlebih. Mungkin bukan dalam jangka waktu dekat, namun beberapa tahun setelahnya.

Semakin lama durasi kesepian yang dirasakan maka semakin kuat pula peluang gangguan mental lain hinggap di diri kita. (Baca JugaCemas Berlebih Gegara Corona? Manfaatin Konseling Online Berikut Ini)

Masa remaja sering kali menjadi masa-masa di mana kita sedang dekat banget dengan teman sebaya dibandingkan keluarga. Sebenarnya wajar kok, karena masa remaja ini masa peralihan kita dari masa anak-anak yang selalu bergantung dengan keluarga menjadi orang dewasa yang tidak terikat lagi.

Karena inilah, terkadang hubungan dengan keluarga memunculkan masalah karena kita ingin membuktikan bahwa kita seseorang yang dewasa dan nggak butuh bantuan lagi.

Di sini deh peran teman sebaya penting banget. Karena pandemi memaksa sebagian besar dari kita untuk tetap di rumah bersama keluarga, peran teman sebaya yang biasanya menjadi sohib jadi hilang.

Nah, gimana dong biar terhindar dari lockdown loneliness ini? Kesepian akibat pandemi ini memang nggak mudah untuk diusir karena sosialisasi kita memang jauh berkurang. Namun kita bisa nih meningkatkan hubungan sosial melalui media komunikasi digital, apalagi sekarang sudah banyak jenis media sosial yang bisa dipilih.

Pastikan untuk tetap rutin melakukan komunikasi ya. Walaupun sederhana, hal ini bisa mengusir rasa kesepian yang kita rasakan selama pandemi. Bisa juga coba komunikasi cara jadul seperti menulis surat sebagai cara berkomunikasi yang seru.

Jangan lupa, atur waktu dalam menggunakan gadget. Jangan terlalu lama ngedrakor, mabar, atau ngescroll media sosial dibandingkan bersosialisasi dengan manusia sungguhan.

Kegiatan-kegiatan tersebut mungkin bisa mengusir kebosanan namun tidak akan bisa mengusir kesepian. Jauh di dalam diri kita pasti deh merasakan kesepian yang lama-lama semakin parah jika tidak ditangani.

Berhubung lagi sekolah atau kuliah online, biasanya jadwal pelajaran jadi lebih fleksibel. Cobain deh untuk olahraga sebentar. Nggak perlu yang ribet-ribet, sekadar lari sekeliling rumah atau work-out singkat aja sudah cukup membantu tubuh kita agar lebih bugar. Daripada rebahan melulu.

Ingat juga, jangan sering begadang atau kurang tidur. Kasih tubuh kita sendiri waktu istirahat yang optimal biar tetap sehat.

Kalau merasakan emosi negatif atau kesulitan menghadapi kondisi mental yang dirasakan, nggak ada salahnya lho untuk bercerita. Cerita ke orang yang dipercaya bisa membantu, namun jika dirasa kondisi yang dirasakan tidak membaik, konsultasikan ke tenaga medis.

Sekarang sudah banyak aplikasi konseling atau komunitas yang membuka konseling dengan tenaga medis profesional di bidangnya. Jangan ragu, being not okay is completely okay! (*)

Related Articles
Current Issues
Kepanikan Massal Akibat Corona Bisa Picu Gangguan Kecemasan

Current Issues
10 Cara Mengurangi Stres Gara-gara Coronavirus dari Pakar Kesehatan Mental

Current Issues
5 Tips Agar Mental Tetap Sehat Selama Karantina Corona dan Social Distancing