Current Issues

Dokter Italia Bilang Coronavirus Melemah, Benarkah?

Ahmad Redho Nugraha

Posted on June 2nd 2020

Dokter ahli di Italia melaporkan penemuan uniknya selama merawat pasien Covid-19 beberapa waktu belakangan. Dibandingkan dua bulan lalu, pasien Covid-19 yang ia tangani sekarang memiliki lebih sedikit infeksi virus korona di saluran pernapasan atas mereka.

Alberto Zangrillo, kepala Rumah Sakit San Raffaele di Milan baru-baru ini mengejutkan komunitas medis di dunia lewat pernyataan tersebut. Ia menyatakan dalam siaran TV nasional bahwa virus korona secara klinis tidak ada lagi di Italia. 

Dia juga berteori bahwa sesuatu yang "berbeda" telah terjadi terhadap virus tersebut, sehingga interaksinya dengan saluran pernapasan atas manusia menjadi berubah."Kami tidak bisa mendemonstrasikan bahwa virus tersebut bermutasi, tapi kami juga tidak bisa menutup mata dari penemuan klinis kami yang meningkat pesat," ucapnya.

Teori dari dr. Zangrillo tersebut memperoleh respon keras dari Michael Ryan, pejabat tinggi di World Health Organization (WHO). "Kita harus sangat berhati-hati untuk tidak menyimpulkan bahwa virus ini dengan sendirinya menjadi tidak patogenik. Itu sama sekali tidak benar," ujarnya lewat sebuah konferensi.

Para pakar pun sepakat bahwa penemuan di Italia tersebut tidak merefleksikan perubahan pada virus itu sendiri secara langsung. Pengamatan klinis Zangrillo lebih seperti menunjukkan fakta bahwa setelah puncak wabah berlalu, sirkulasi virus di antara masyarakat menjadi lebih jarang, sehingga masyarakat tidak terpapar virus dalam jumlah banyak seperti sebelumnya.

Pandemi Covid-19 mengalami evolusi dengan sangat cepat, dimana sekarang terjadi penurunan jumlah kasus secara drastis pada daerah yang terdampak parah seperti Italia Utara dan New York, sementara di tempat lain seperti Brazil, Peru dan India, jumlah kasus meningkat dengan signifikan.

Meski demikian, virus korona tetap bermutasi meski lambat. Pakar Penyakit Menular Vaughn Cooper dari Pittsburgh School of Medicine mengatakan bahwa dibandingkan influenza dan mikroba lain, SARS-CoV-2 yang menjadi biang Covid-19 bermutasi dengan lebih lambat dan perubahan tampilan genetikanya terjadi secara tidak beraturan.

"Aku yakin bahwa perubahan yang ditemukan oleh dokter di Italia murni disebabkan oleh perubahan dalam penangan medis dan perubahan perilaku manusia, sehingga jumlah transmisi dan infeksi baru menjadi berkurang, bukan karena perubahan virus itu sendiri," terangnya.

Semua virus di dunia ini memang berubah seiring dengan waktu, dan banyak pakar penyakit infeksi yang berpendapat bahwa novel coronavirus akan menjadi kurang mematikan terhadap manusia di masa mendatang, sama seperti keempat jenis virus korona lainnya yang menjadi penyebab demam.

Meski demikian, belum ada bukti kuat yang mendukung jika virus ini sudah melemah sejak pertama kali pandemi dimulai lima bulan lalu. (*)

 

Related Articles
Current Issues
Cegah Gelombang Kedua Covid-19, Jepang Cek Antibodi 10.000 Penduduknya

Current Issues
Ilmuwan Tiongkok: Mutasi Coronavirus Tertentu Lebih Mematikan

Current Issues
Menilik 5 Wabah Terparah Sepanjang Sejarah dan Bagaimana Mereka Diakhiri