Current Issues

Vaksin Coronavirus Bikinan Oxford x AstraZeneca Bakal Diuji ke Anak-Anak

Ahmad Redho Nugraha

Posted on June 1st 2020

Dalam hal penyebaran coronavirus, dibandingkan golongan masyarakat lain anak-anak mungkin adalah golongan yang paling unik. Beberapa studi menunjukkan bahwa anak-anak lebih kebal terhadap infeksi coronavirus karena fungsi paru-paru mereka yang masih baik.

Meski demikian, mengingat cara transmisi coronavirus yang tidak selalu menunjukkan gejala, bukan tidak mungkin anak-anak dapat tetap menjadi carrier virus, dan hal tersebut membuatnya menjadi semakin sulit untuk diidentifikasi.

Tapi ada satu hal yang pasti: anak-anak akan tetap membutuhkan vaksin Covid-19, sama seperti golongan masyarakat lain. Dan itu berarti mereka akan disuntik dengan vaksin yang kini masih dalam proses pengembangan. Seperti yang kita tahu, satu yang tengah mengembangkan vaksin Coronavirus adalah Universitas Oxford dan AstraZeneca.

Mereka berencana menyuntikkan vaksin yang sedang diuji coba ke anak-anak dengan rentang umur 5-12 tahun. Kenapa itu dilakukan karena sekolah-sekolah di Inggris kini mulai dibuka kembali. Tentu saja, penyuntikkan vaksin secara massal kepada anak-anak akan menuai kritik dan penolakan dari banyak pihak, terutama orang tua mereka.

"Ini (penyuntikkan vaksin pada anak-anak) adalah keputusan yang sangat personal, tapi sudah saatnya semua orang mulai bertanya pada diri mereka: apa kita benar-benar ingin anak kita diberi vaksin belakangan, setelah orang lain telah terlebih dahulu divaksinasi?" ujar Beate Kampmann, Profesor infeksi pedriatik dan imunitas. Ia juga Kepala Pusat Vaksin di London School of Hygiene & Tropical Medicine’s.

Selama ini, anak-anak tidak menjadi bagian dari riset Oxford dalam mengembangkan vaksin. Para peneliti Oxford mulanya mengujicoba vaksin yang mereka kembangkan pada orang dewasa, dengan efek samping demam dan nyeri pada lengan.

Ketika Oxford memasuki fase riset yang lebih jauh pada Juni, mereka berencana menyuntikkan vaksin mereka pada 10.260 orang, di mana sebagiannya adalah anak-anak. Juru bicara tim pengembang vaksin Oxford mengatakan, informasi tentang jumlah pasti anak-anak yang akan disuntik vaksin baru dapat ia beberkan dalam beberapa pekan ke depan, ketika mereka mulai mengumpulkan sukarelawan.

Pengumpulan sukarelawan vaksin dari golongan anak-anak di Inggris selama ini selalu dilakukan melalui dokter dan pekerja medis. Uji coba vaksin biasanya dilakukan dari usia paling tua ke usia paling muda, sehingga anak-anak biasanya tidak menjadi sukarelawan pertama yang menerima vaksin.

Pemberian vaksin kepada anak-anak juga dilakukan di rumah dengan pengawasan orang tua. Dan, orang tua juga diharuskan mengecek suhu tubuh dan reaksi tubuh anaknya secara rutin.

Manfaat yang dapat diperoleh oleh anak yang menjadi penerima suntikan vaksin adalah mereka akan mendapatkan imunisasi lain yang biasa mereka dapatkan. Di samping itu, tidak ada pungutan biaya, dan orang tua dapat membatalkan keikutsertaan anak mereka kapanpun.

Meski demikian, vaksinasi anak adalah hal yang kontroversial. Beberapa komunitas di dunia menyuarakan penolakan mereka terhadap vaksinasi anak karena kaitannya dengan penyebab autisme, meski bukti yang mereka gunakan tidak kuat. Salah satu alasan penolakan mereka adalah terjadinya sejumlah kasus narcolepsi pada 2010 yang berhubungan dengan vaksin flu babi.

Tidak semua orang tua menolak pemberian vaksin pada anak mereka. Shamez Ladhani, konsultan penyakit infeksi pediriatik di Rumah Sakit St. George, London, mengatakan bahwa meski terdapat risiko, reaksi yang fatal jarang terjadi.

"Beberapa efek samping tidak benar-benar terlihat hingga 100.000 dosis vaksin disuntikkan kepada semua orang--itu selalu menjadi hal yang layak dicemaskan," ujar Ladhani yang selama ini selalu terlibat dalam uji coba vaksin.

Walau memiliki efek samping, cepat atau lambat, semua orang yang belum terinfeksi Covid-19 di dunia ini tetap membutuhkan vaksin, dan hanya masalah waktu hingga vaksin tersebut digunakan semua orang.(*)

Related Articles
Current Issues
AS Keluarkan Izin Pemakaian Remdesivir untuk Tangani Pasien Covid-19

Current Issues
Dokter Italia Bilang Coronavirus Melemah, Benarkah?

Current Issues
Cegah Gelombang Kedua Covid-19, Jepang Cek Antibodi 10.000 Penduduknya