Current Issues

Vitamin D Dosis Tinggi Tidak Akan Menyembuhkan dan Mencegah Covid-19

Dwiwa

Posted on May 31st 2020

Semakin meluasnya pandemi Covid-19 membuat berbagai iklan suplemen untuk meningkatkan sistem imun menjadi lebih marak. Salah satu yang baru-baru ini menjadi pusat perhatian adalah vitamin D.

Vitamin yang dapat diproduksi secara alami oleh tubuh saat mendapatkan cukup sinar matahari ini diketahui memiliki hubungan yang positif dengan kasus ringan coronavirus.

Tetapi dosis besar dari vitamin D, baik itu melalui berjemur atau konsumsi suplemen, bukanlah obat mujarab untuk melawan virus ini atau yang lain. Hal ini diungkapkan dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di BMJ Nutrition, Prevention and Health pada 13 Mei lalu.

Dilansir dari Insider, peneliti dari Inggris, Amerika dan Eropa yang bekerjasama dalam laporan tersebut, mendesak masyarakat untuk waspada tentang klaim berlebihan dari vitamin D.

Laporan tersebut juga menunjukkan bukti ilmiah lebih kuat untuk mengevaluasi bagaimana vitamin dapat berdampak pada pasien dengan Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh SARS-Cov-2.

“Meskipun ada bukti jika kekurangan vitamin D dihubungkan dengan infeksi saluran pernapasan akut, saat ini tidak ada bukti cukup untuk vitamin D sebagai terapi untuk Covid-19 dan kelebihan asupan harus dihindari karena dapat berbahaya,” jelas Carolyn Greig, salah satu penulis penelitian dan profesor aging and health di University of Birmingham, Inggris.

Ketika penelitian sebelumnya menemukan kekurangan vitamin D mungkin berhubungan dengan penyakit akibat virus seperti pilek dan flu, hubungan pasti antara zat gizi tersebut dengan kemampuan melawan infeksi masih belum jelas.

Hal ini karena bukti menunjukkan sebuah hubungan tetapi bukan hubungan sebab akibat antara vitamin D dan infeksi. Itu artinya saat ini kita tidak bisa mengatakan secara pasti jika vitamin D adalah yang menyebabkan perbaikan kondisi kesehatan.

Menurut laporan tersebut, untuk memastikannya para peneliti perlu melakukan tinjauan sistematik dan meta-analyses untuk mempelajari data yang ada. Sebab, ada banyak faktor yang dapat menjelaskan mengapa kekurangan vitamin D dihubungkan dengan penyakit pada penelitian sebelumnya.

Misalnya saja dalam sebuah penelitian pracetak yang menemukan kekurangan vitamin D berhubungan dengan tingginya tingkat kematian dari coronavirus. Tingginya angka kematian ini bisa jadi akibat populasi lansia yang juga tinggi (yang cenderung kekurangan vitamin D dan rentan terhadap sakit) atau akibat perbedaan penanganan pemerintah dalam mengatasi outbreak.

Belum ada bukti yang menunjukkan jika menambahkan vitamin D entah bagaimana membuat tubuh kalian menjadi luar biasa dan memaksimalkan peluang dalam melawan virus corona. Bahkan faktanya, terlalu banyak konsumsi vitamin D justru buruk untuk kesehatan.

Menurut Mayo Clinic, asupan vitamin D dalam dosis besar (60 ribu international units dalam sehari, atau 10 kali dari jumlah yang direkomendasikan) dapat menyebabkan penumpukan kalsium yang beracun dan menyebabkan masalah ginjal.

Tetapi ini tidak berarti jika vitamin D tidak penting. Vitamin ini tetap penting untuk kesehatan dan kalian mungkin akan kekurangan jika terus berada di dalam ruangan tanpa sinar matahari. Tetapi jika kalian mendapatkan cukup  vitamin, kelebihan vitamin D tidak akan membantu.

Hal yang lebih baik adalah fokus pada protokol kesehatan lain untuk mencegah terjadinya penulran Covid-19. Misalnya saja dengan menggunakan masker, melakukan social distancing, dan menjaga kebersihan diri dengan mencuci tangan dengan sabun secara rutin. (*)

Related Articles
Current Issues
WHO: Tak Ada Bukti Orang Sembuh dari Covid-19 Jadi Kebal terhadap Infeksi Kedua

Current Issues
Begini Cara Negara Paling Sehat di Dunia Melawan Coronavirus

Current Issues
Berapa Lama Coronavirus Bisa Bertahan di Baju?