Current Issues

Rahasia Jepang Tangani Covid-19 yang Bisa Dicontoh Indonesia

Dwiwa

Posted on May 31st 2020

Stasiun Shinagawa dipenuhi orang-orang pada hari Selasa, sehari setelah pemerintah Jepang mencabut status kedaruratan. (Reuters)

Jepang menjadi salah satu negara yang memiliki angka kematian rendah meskipun kasus postif Covid-19 cukup banyak. Beberapa ahli yang tergabung dalam panel khusus Covid-19 dari pihak pemerintah Jepang menyebut salah satu rahasia dari keberhasilan ini terletak pada ketaatan warganya menggunakan masker.

Ketika di berbagai negara penggunaan masker memicu kontroversi dan awalnya sempat dianggap tidak efektif oleh WHO, masker telah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari bagi warga Jepang. Tetapi hanya dengan mengandalkan ini saja tentu tidak akan cukup untuk mengatasi pandemi.

Rabu (27/5), Jepang mengonfirmasi lebih dari 16 ribu orang terinfeksi Covid-19. Namun angka kematiannya tercatat hanya 850. Ini menjadi angka kematian terendah di antara negara Group of Seven (kelompok negara besar dengan laju pertumbuhan ekonomi pesat). Meski begitu, krisis masih belum berakhir.

Bahkan ketika negara mulai melanjutkan kembali aktivitas, mereka harus bergerak cepat untuk mendeteksi kluster baru sehingga bisa menghindari gelombang kedua yang lebih serius. Ini artinya penggunaan kombinasi uji PCR dan antigen serta memaksa orang untuk menghindari situasi berisiko.

Perdana Menteri Shinzo Abe mengakhiri status darurat pada Senin (25/5), setelah kasus Covid-19 berhasil diatasi. Dia menyusun rencana untuk memulai kembali kegiatan ekonomi dan sosial secara bertahap, bersamaan dengan pencegahan terjadinya outbreak lagi.

Jepang memang dianggap dapat menangani Covid-19 dengan relatif baik, namun sistem perawatan kesehatannya hampir hancur. Meski tidak ada pemaksaan lockdown secara hukum, tetapi social distancing menyebabkan kehancuran ekonomi parah. 

Hal itu dipaparkan Mikihito Tanaka, seorang profesor jurnalisme di Waseda University, yang menjadi penghubung panel dengan media.

Dilansir dari Japan Times, panel tersebut membeberkan beberapa hal yang menjadi rahasia Jepang berhasil menangani Covid-19. Menurut ketua panel ahli, Shigeru Omi, kesadaran kuat dari masyarakat Jepang juga memiliki peran dalam mengendalikan pandemi.

Hal ini karena adanya kesadaran kuat terkait kebersihan umum. Misalnya kebiasaan mencuci tangan. Dan berdasarkan pengalaman sejarah, warga memiliki pengetahuan tentang cara mencegah infeksi. Faktor sosial lain adalah warga Jepang nyaman menggunakan masker dalam kehidupan sehari-hari.

Masker digunakan karena banyak orang yang alergi dengan serbuk sari. Jadi mereka selalu menggunakannya selama musim serbuk sari, dari awal hingga musim semi, sekaligus untuk melindungi dari influenza.

Untuk mengantisipasi gelombang kedua, Jepang telah memetakan kluster yang memungkinkan mereka dapat mengawasi lokasi yang berisiko tinggi. Mereka juga telah menemukan jika menggunakan masker, menjaga kebersihan tangan, physical distancing dan menghindari berbicara keras efektif mencegah penularan.

“Gelombang kedua sangat mungkin, jadi kita perlu mendeteksi kluster lebih cepat dari sebelumnya. Kita juga harus menggunakan tes antigen yang kami kembangkan, bersama dengan tes PCR, untuk menemukan kasus sebelum gejala menjadi serius,” jelas panel tersebut.

Terkait jumlah tes Covid-19 yang dilakukan Jepang, jumlahnya memang tidak sebesar negara lain. Kebijakan awal yang dilakukan negara ini adalah memeriksa orang-orang yang direkomendasikan oleh dokter.

Tetapi seiring penyebaran virus SARS-Cov-2 yang semakin luas di pertengahan Maret, mereka tidak bisa menguji semua warga yang membutuhkan. Kapasitas uji PCR tidak cukup cepat untuk mengimbangi.

Jumlah tes yang dilakukan pun terbilang lebih rendah dari negara lain, tetapi pada kenyataannya jumlah tes untuk setiap kasus kematian lebih tinggi di Jepang. Proporsi tes positif Jepang sendiri sempat mencapai 30 persen dan sekarang telah turun dibawah 1 persen untuk seluruh negeri.

“Pada titik ini kami masih belum yakin tentang akurasi, terutama dalam hal sensitifitas dan spesifitas tes antibodi. Sementara sejauh ini kami tidak salah membaca penyebaran infeksi, untuk mengurangi kecemasan masyarakat Jepang kami harus dapat melakukan tes antibodi lebih cepat. Juga penting untuk memiliki sistem komunikasi untuk mendengarkan pandangan orang-orang,” jelas mereka. (*)

Related Articles
Current Issues
Banyak yang Sembuh Lalu Positif Lagi, Bisakah Kita Tertular Covid-19 Dua Kali?

Current Issues
Begini Cara Negara Paling Sehat di Dunia Melawan Coronavirus

Current Issues
Bosan Diam Di Rumah? Coba Ikuti 9 Tips Isolasi Diri Dari Astronot Ini