Tech

Amazon, Facebook dan Instagram Rambah Industri Musik Lewat Fitur Baru Mereka

Ahmad Redho Nugraha

Posted on May 28th 2020

Agar bisa terus bertahan di pasarnya, perusahaan-perusahaan teknologi memang diharuskan menjual inovasi dan kreativitas yang terus di-update sepanjang waktu.

Maka jangan heran, jika perusahaan teknologi raksasa seperti Facebook, Instagram dan Amazon membuat kolaborasi yang unik untuk "memanjakan" para penggunanya lewat fitur-fitur baru, contohnya yang berhubungan dengan musik.

Saat DJ Marshmello dan Halsey hendak merilis lagu terbaru mereka yang berjudul Be Kind pada akhir April lalu, mereka dimintai tolong oleh Charli D'Amelio, bintang TikTok, untuk membantunya membuat lagu juga.

Setelah merekrut agen pemasaran kreatif, mereka bertiga akhirnya meluncurkan apa yang mereka sebut sebagai "pengalaman musikal yang belum pernah ada sebelumnya" di Echo, produk smart speaker Amazon yang diaktifkan lewat perintah suara.

Sejak tanggal 27 Mei lalu hingga 2 Juni mendatang, pengguna dapat menggunakan Echo mereka untuk menanyakan "Alexa, apa yang dipikirkan Marshmello (dan Alexa) hari ini?" untuk mengetahui apa yang dipikirkan oleh DJ Marshmello.

Amazon juga baru-baru ini membuka lowongan pekerjaan untuk software engineer di departemen musik mereka yang sesuai dengan deskripsi ini : Ukirlah sejarah bersama kami lewat proyek-proyek besar yang akan kami luncurkan di masa mendatang. Secara eksplisit, lowongan itu tampaknya berkaitan dengan ekspansi Amazon ke ranah industri musik.

Dan di hari yang sama, entah sengaja atau tidak, kolaborasi antara Halsey-Marshmello tersebut juga diluncurkan pada fitur baru di dua platform lain yang berbeda, yaitu Facebook dan Instagram, yang juga berhubungan dengan musik.

Pada Rabu (27/05) lalu, Instagram baru saja merilis fitur baru yang membuat penggunanya dapat membuat efek yang merespon terhadap musik. Fitur ini dapat bekerja dengan bantuan aplikasi Spark AR Studio.

Aplikasi itu menghasilkan efek augmented-reality berupa filter foto dan video yang beroperasi dengan sinkronisasi musik. Dengan kata lain, Instagram tampaknya berusaha menarik pengguna baru dengan menjadikan platform-nya sebagai sumber hiburan berbasis musik, menyusul Snapchat yang sebelumnya sudah melakukan hal tersebut lebih dahulu.

Tak lama setelah Instagram, Facebook, perusahaan induk Instagram pun merilis aplikasi bernama Collab yang dapat digunakan untuk membuat music video (MV) secara kolaboratif.

Para pengguna Facebook yang secara bersamaan menggunakan Collab dapat menggabungkan video yang mereka unggah untuk membuat MV eksklusif. Meski demikian, versi ini masih berupa versi beta dan masih dikembangkan oleh Facebook.

Tiga inovasi di ranah musik ini dirilis hampir bersamaan, dan tampaknya digunakan untuk menarik minat Gen Z yang menjadi konsumen utama ketiga perusahaan tersebut untuk membeli produk-produk yang berhubungan dengan industri musik.

Survei Business Insider tahun lalu melaporkan bahwa 65% responden berlatar belakang Gen Z menyatakan mereka mengecek Instagram setiap hari, sementara survei konsumen menunjukkan bahwa mereka lebih tertarik membeli suatu barang atas rekomendasi dari media sosial.

Jika para konsumen tersebut tertarik membeli barang karena saran dari Instagram, maka besar pula kemungkinannya mereka akan lebih tertarik mengunduh atau mendengarkan lagu.

Proyek ketiga raksasa di industri teknologi ini dilirik sebagai jalan baru bagi industri musik untuk tetap bertahan di masa-masa krisis akibat pandemi Covid-19. Industri hiburan, termasuk industri musik, termasuk salah satu industri yang paling terdampak Covid-19, karena banyaknya event musik yang dibatalkan sejak pandemi bermula. (*)

 

Related Articles
Tech
8 Update Direct Message Instagram Mulai dari Emoji Custom sampai Mode Menghilang

Tech
Instagram Lite Muncul Lagi buat Pemilik HP Kentang atau yang Mau Hemat Kuota

Tech
Rilis Tab Facebook Shop demi Dukung Usaha Kecil