Tech

Momen Bersejarah Dekade Ini, NASA dan SpaceX Kirim Dua Astronot ke Luar Angkasa

Ahmad Redho Nugraha

Posted on May 27th 2020

 

Hari ini, tepatnya Rabu (27/05) SpaceX meluncurkan dua astronot NASA dengan bantuan kapsul Crew Dragon dan roket Falcon 9 buatan SpaceX dalam sebuah misi bernama "Demo-2", sesuai dengan yang mereka umumkan pada April lalu.

Langkah perusahaan yang digawangi Elon Musk ini akan menjadi terobosan pertama dalam sejarah penerbangan antariksa komersil.

Peluncuran Crew Dragon tidak akan terhtunda karena pandemi Covid-19. NASA mengatakan bahwa mereka harus tetap melanjutkan misi mereka, yaitu mengirim astronot AS untuk bertugas di ISS (International Space Station) yang mengorbit pada bumi.

Pejabat tinggi NASA, Jim Bridenstine, menyatakan harapannya agar peluncuran tersebut dapat memberikan kabar baik bagi publik yang kini sedang "murung" karena krisis kesehatan yang melanda dunia.

Misi yang dilakukan NASA dengan kolaborasinya bersama SpaceX ini adalah misi penerbangan manusia ke luar angkasa pertama yang dilakukan AS sejak 2011 lalu. Sejak tahun 2011, astronot NASA perlu berlatih di Rusia dengan pesawat luar angkasa Soyuz, dengan biaya sebesar USD$86 juta.

NASA menggaet perusahaan swasta seperti SpaceX untuk mengembangkan pesawat luar angkasa yang dapat mengangkut penumpang manusia, dari dan ke ISS. Langkah ini diambil karena dinilai lebih menghemat waktu dan ongkos riset sementara mereka dapat lebih fokus pada penelitian lain mengenai sistem tata surya.

NASA pada 2014 lalu menandatangani dua kontrak, satu yang senilai USD 4,2 miliar atau sekitar Rp 61,6 triliun dengan Boeing untuk membuat kendaraan Starliner, serta satu kontrak lagi senilai USD 2,6 milyar dengan SpaceX untuk mengembangkan versi paling mutakhir dari pesawat luar angkasa Dragon.

Dragon sebelumnya sudah digunakan NASA untuk mengangkut kargo ke ISS. Jika misi Demo-2 berhasil, itu akan menjadi kemenangan gemilang bagi NASA.

NASA dan SpaceX menargetkan peluncuran pada pukul 4:33 sore waktu setempat di Kennedy Space Center, Brevard, Florida, atau Kamis (28/5) sekitar pukul 3.30 dini hari Waktu Indonesia Barat.

Jika terhalang kendala cuaca, mereka akan mengalihkan penerbangan ke tanggal 30 dan 31 Mei. Naun ramalan cuaca mereka pada Senin pagi menunjukkan 60% peluang peluncuran bisa berjalan. Para operator akan mengevaluasi kembali cuaca selama enam jam.

Roket akan diluncurkan dari Pad 39A, situs yang sama yang menjadi tempat peluncuran misi-misi di era Apollo, termasuk pendaratan di bulan pada 1969 silam.

Akan dibutuhkan waktu setidaknya 19 jam bagi Crew Dragon untuk tiba di ISS sesuai perhitungan NASA dan SpaceX. CNN dan jaringan berita lainnya akan menayangkan secara langsung siaran peluncuran tersebut di saluran TV dan internet.

Selama pandemi, NASA dan SpaceX bekerja dengan protokol keamanan kesehatan yang ketat. Para astronot telah dikarantina secara ketat dengan pengawasan ekstra agar semuanya higienis. Ruang kontrol NASA selama berlangsungnya misi juga akan diawasi dan dibersihkan setiap pergantian shift.

Anggota pers yang dapat meliput pun dibatasi, dan Kennedy Space Center tidak akan menerima tamu selama misi berlangsung. Bridenstine juga mengimbau agar masyarakat tidak menonton peluncuran roket beramai-ramai di tempat terbuka untuk menghindari potensi tertular Covid-19.

Adapun astronot yang diterbangkan NASA adalah Robert Behnken, 49 tahun dan rekannya, Douglas Hurley, 53 tahun. Mereka adalah astronot veteran di NASA dan telah bekerjasama dengan SpaceX selama ini dalam pelatihan mereka menggunakan kapsul Crew Dragon.

Sebelum menjadi astronot, Behnken dan Hurley telah berpengalaman menerbangkan pesawat jet supersonik selama ratusan jam terbang. Mereka juga ikut serta dalam dua misi penerbangan Space Shuttle sebelumnya.

Behnken dan Hurley akan tetap tinggal di ISS hingga NASA siap mengirim orang lain untuk bertugas di ISS, dengan estimasi waktu maksimal 110 hari bumi. Setelah Behnken dan Hurley selesai bertugas, mereka akan diterbangkan kembali ke bumi dengan Crew Dragon, lalu mendarat di Samudera Atlantik dengan bantuan parasut.

Crew Dragon sendiri adalah sebuah kapsul berdiameter 13 kaki yang dilengkapi kontrol layar sentuh dan tujuh bangku. Crew Dragon akan menampung Behnken dan Hurley, lalu diterbangkan ke ISS dengan bantuan roket Falcon 9.

Setelah Falcon 9 melontarkan Crew Dragon ke luar batas gravitasi bumi, Crew Dragon akan melepaskan diri dari Falcon 9, lalu melontarkan dirinya untuk menuju ISS.

Crew Dragon beroperasi secara otomatis, sehingga para astronot hanya perlu mengawasi sistemnya saja dan terus kontak dengan pengendali misi di bumi. Behnken berujar bahwa mereka tidak membawa banyak perlengkapan dalam kapsul terbang mereka. Dan mengejutkannya, Crew Dragon ternyata dilengkapi dengan toilet.

ISS sendiri sudah mengorbit pada Bumi selama dua dekade belakangan, dan sudah ada 240 astronot dari 19 negara yang selama ini pernah mengunjunginya dan bertugas disana sejak tahun 2000.

Eksplorasi astronot ke ISS memberikan informasi baru kepada para ilmuwan tentang berbagai hal, termasuk tentang bagaimana tubuh manusia merespons kondisi di luar angkasa.

Penerbangan Crew Dragon ke ISS memakan biaya USD 55 juta atau sekitar Rp 806,8 miliar per bangku yang digunakan oleh astronot NASA. Ini sedikit lebih murah dari rata-rata biaya terbang dengan Soyuz milik Rusia yang berkisar USD 55,4 juta per bangkunya.

Meski demikian, nilai kontrak dengan SpaceX tersebut hanya berlaku untuk enam misi penerbangan pertama bersama NASA. (*) 

 

Related Articles
Entertainment
Tom Cruise, SpaceX dan NASA akan Buat Film di Luar Angkasa

Interest
Ada "Dinosaurus" Numpang di Penerbangan Luar Angkasa NASA x SpaceX

Tech
Titik Awal UEA Observasi Mars Berhasil Diwujudkan Lewat Pengorbitan Hope Probe