Current Issues

Disinfeksi dengan Sinar UV Hanya Efektif untuk Benda, Bukan untuk Tubuh

Dwiwa

Posted on May 25th 2020

 

Belakangan makin banyak orang menjual produk yang diklaim bisa sebagai alat disinfeksi benda-benda. Terutama benda yang tidak mungkin terpapar disinfektan cair, seperti ponsel dan uang. Alat itu menggunakan teknologi sinar UV. 

Dilansir dari Cnet, disinfeksi dengan menggunakan sinar UV bukanlah hal baru. International Ultraviolet Association mengatakan ini adalah teknologi yang berguna selama lebih dari 40 tahun, berkontribusi untuk membersihkan air dan udara. Banyak perangkat konsumen yang juga menggunakan sinar UV untuk mendisinfeksi botol. Ada juga wadah anti-UV yang dapat membersihkan ponsel.

Ketika berbicara tentang coronavirus, banyak hal yang tidak begitu jelas. Ada risiko yang muncul akibat penggunaan perangkat sinar UV, terutama ketika menggunakannya pada kulit.

Sebelum memutuskan untuk memesan alat disinfeksi dengan sinar UV, ada baiknya kalian lebih dulu mengetahui bukti terkini tentang disinfektan sinar UV dan risiko potensial yang mungkin terjadi.

Bagaimana cara proses disinfeksi sinar UV bekerja?

Sinar UV utamanya datang dari matahari, tetapi ada juga yang dibuat oleh manusia termasuk tanning bed dan lampu disinfeksi yang saat ini tengah ramai. Ada tiga kelas sinar UV, yakni UV-A, UV-B dan UV-C.

Sinar UV-A dan UV-B menyebabkan kulit terbakar dan penuaan dini dan paparan keduanya berhubungan dengan kanker kulit. Sinar UV-C, yang memiliki energi terbesar, adalah yang paling berbahaya.

Untungnya, atmosfer menyerapnya sehingga tidak sampai ke permukaan bumi. Ada juga cahaya UV-C buatan manusia, inilah yang digunakan dalam pembersih sinar UV yang diklaim dapat membunuh coronavirus.

Sinar UV telah digunakan untuk mendisinfeksi permukaan dan air dalam waktu lama, dan umumnya berhasil. Hal ini terjadi karena sinar UV-C cukup kuat untuk menghancurkan material genetik, baik itu DNA atau RNA, dari virus dan bakteri.

Saat ini, belum ada bukti jika sinar matahari yang ada dapat membunuh coronavirus, jadi keluar di saat panas matahari terik tidak menurunkan risiko terpapar virus.

 

Dapatkah sinar UV membunuh coronavirus?

National Academies of Science, Engineering dan Medicine (NASEM) melaporkan jika sinar UV mungkin dapat membunuh novel coronavirus. “Sinar UV telah terbukti membunuh coronavirus, jadi ini mungkin juga bekerja pada novel coronavirus,” tulis mereka dalam sebuah situs. Ini termasuk MERS-CoV dan beberapa sindrom pernapasan akut lain terkait coronavirus atau SARS.

Tetapi ada sebuah peringatan penting. NASEM menyebut jika sinar UV dapat merusak kulit manusia. Jadi, harus digunakan untuk obyek atau permukaan benda mati. Artinya, kalian tidak boleh menggunakannya sebagai pengganti hand sanitizer atau permukaan kulit lain.

Tetap berpeganglah pada kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan air sesuai dengan protokol atau menggunakan hand sanitizer berbahan dasar alkohol saat sabun dan air tidak tersedia.

WHO juga memperingatkan melalui situs resminya jika orang-orang tidak seharusnya menggunakan sinar UV untuk membersihkan tangan atau permukaan kulit lain karena radiasi UV dapat menyebabkan iritasi kulit dan merusak mata.

“Tidak ada perangkat sinar UV yang dapat mengganti cuci tangan, menggunakan masker, dan jaga jarak,” ujar dokter Tylier Hollmig, direktur Dermatological surgery di University of Texas Dell Medical School di Austin.

Meskipun ilmuwan tengah bekerja untuk membuat produk disinfektan ini aman untuk digunakan, peralatan yang saat ini ada tidak aman untuk tubuh. Itu karena sebagian besar dari produk ini belum disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) atau lembaga kesehatan lain.

Dalam dosis sangat kecil, jangkauan sinar UV-C dalam jarak jauh mungkin tidak berbahaya untuk manusia atau binatang. Tapi menggunakan dosis yang terlalu kuat didekat kulit dapat berbahaya. Konsekuensi dari penggunaan sinar UV-C di tubuh meliputi luka bakar seperti terbakar matahari parah dan kerusakan retina. Ditambahkan dr Hollmig, perangkat sinar UV biasanya juga tidak murah.

 

Hand sanitizer sinar UV dan masalah kesehatan kulit

Holmig membantu menjelaskan sinar UV yang berkaitan dengan kesehatan kulit yang didasarkan pada panjang gelombang. Sinar UV-A (panjang gelombang terpanjang) dihubungkan dengan penuaan kulit dan juga beberapa kanker kulit tertentu. Sedangkan sinar UV-B (panjang gelombang medium) dihubungkan dengan kulit terbakar dan kanker kulit.

“UV-C memiliki spektrum panjang gelombang paling pendek tetapi mungkin yang paling beracun. Untungnya, atmosfer menerap UV-C, jadi kulit dan mata kita tidak terpapar,” ujar Holmig. Sinar UV-C biasa digunakan sebagai sanitizers untuk membunuh atau menonaktifkan mikroorganisme dengan menghancurkan dan mengacaukan asam nukleat.

Jika ada perangkat yang diuji dengan baik dan digunakan dengan benar, ini dapat bekerja membunuh patogen. Tetapi sesuatu yang terlalu kuat dapat berbahaya bagi tubuh. Peralatan ini tidak didesain untuk digunakan mendisinfeksi kulit dan dapat berbahaya jika tidak digunakan dengan benar.

 

Kesimpulannya, jangan menggunakan perangkat sinar UV langsung ke kulit. Berhati-hatilah dengan peralatan sinar UV di rumah kalian. Lakukan penelitian kecil sebelum memasuki gedung yang sudah memasang lampu UV. Dan tentu saja jangan mencoba untuk menggunakan sinar UV atau bahan disinfektan lain ke bagian tubuh.(*)

Artikel Terkait
Current Issues
Vaksin Covid-19 Buatan Tiongkok Baru Siap untuk Publik Tahun Depan

Current Issues
WHO: Tak Ada Bukti Orang Sembuh dari Covid-19 Jadi Kebal terhadap Infeksi Kedua

Current Issues
Banyak yang Sembuh Lalu Positif Lagi, Bisakah Kita Tertular Covid-19 Dua Kali?