Current Issues

Terpaksa Banget Harus ke Luar Rumah? Simak Dulu Panduan Amannya Berikut Ini

Delima Pangaribuan

Posted on May 25th 2020

Physical distancing belum berakhir ya, kawan-kawan. Agak miris melihat banyak orang yang keluar rumah dan berdesak-desakan belanja buat Lebaran beberapa hari terakhir. Kita sebenarnya boleh-boleh saja keluar rumah, tapi ada panduannya.

Semenjak Covid-19 merebak, kita memang disarankan untuk menjalani physical distancing dan tinggal di dalam rumah aja untuk sementara. Tujuannya supaya virus nggak semakin menyebar dan menjangkiti banyak orang. Di beberapa negara, kasus positif Covid-19 sudah mulai berkurang. Sedangkan di Indonesia masih banyak. Duh, jadi sampai kapan kita tinggal terus di dalam rumah?
 
Well, kayaknya pemerintah bakal melonggarkan pembatasan di luar rumah bulan depan. Orang dewasa di bawah 45 tahun diperbolehkan keluar rumah untuk bekerja. Anak sekolah perlu kembali belajar di sekolah sekaligus bersosialisasi sama teman. Para pedagang juga bisa berjualan di luar lagi.
 
Tapi bukan berarti kembali seperti kondisi sediakala, kawan-kawan. Karena bahaya virus masih mengintai. Epidemologis asal Harvard University dan Boston University Amerika Serikat bikin panduan gampang yang ngejelasin seberapa besar risiko yang kita hadapi ketika keluar rumah dan apa yang harus kita lakukan.

 
Mengutip Vox, epidemologis Harvard University Julia Marcus mengakui bahwa sebenrnya di dalam rumah pun masih ada kemungkinan kita terkena virus. Sifatnya sulit dihindari, dan pemikiran itu akhirnya bikin banyak orang "nekat" keluar rumah aja. 
 
"Banyak orang yang ketika mendengar kalau kita tidak bisa benar-benar menghilangkan risikonya, mereka berpikir "Oh, kalau nggak bisa dihindari, ya udah aku pergi aja ke luar dan ngelakuin apa pun seperti biasa. Kalau sakit, ya udah sakit aja"," jelas Julia. Wait, kayaknya ini kalimatnya mirip sama yang diomongin Indira Kalista, deh.
 
"Tapi sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita upayakan antara 'tidak melakukan apa-apa di rumah' dan 'melakukan semuanya seperti biasa' kok," lanjut Julia.

 
Julia menegaskan kalau rumah, meskipun juga berisiko ada virus, tetaplah merupakan tempat yang paling aman selama pandemi. Jadi kalau betul-betul nggak ada kepentingan mendesak, di rumah aja. Tapi kalau terpaksa harus keluar, ada tingkatan risiko dan langkah-langkah pencegahan yang harus kita perhatikan.
 
Pertama, luar ruangan atau outdoor lebih aman dibandingkan indoor. Tentu ssaja ada virus bertebangan di luar ruangan, tapi udara terbuka membuat virus menguap lebih cepat dan lingkupnya juga luas. Apalagi kalau cuacanya sedang panas. 
 
Sementara kalau di dalam ruangan yang ramai justru lebih berbahaya. Ruang gerak virus terbatas dan bisa menempel dibanyak beda dalam ruangan, yang berpotensi kita sentuh.
 
Kalau diurutkan, yang paling aman adalah kegiatan luar ruangan sendiri-sendiri. Kedua, kegiatan kumpul-kumpul di luar ruangan. Dan yang paling berbahaya adalah kegiatan kumpul-kumpul dalam ruangan.
 
 
Julia Marcus membuat semacam infografis singkat bersama rekan sejawatnya, Eleanor Murray tentang tingkatan risiko itu. Tindakan pencegahan paling banyak dijabarkan buat kegiatan kumpul-kumpul dalam ruangan. Di poin terakhir, mereka bahkan menegaskan kalau bisa mending jangan ada acara kumpul-kumpul dalam ruangan semacam ini. 
 
"Orang-orang bakal tetap mengambil risiko untuk keluar, suka atau tidak suka. Yang bisa kita lakukan adalah memberitahu strategi yang harus mereka lakukan untuk meminimalkan risiko. Kalau tidak, maka kita bakal semakin kehilangan kesempatan buat menang melawan virus ini," jelas Julia.(*) 
 
Related Articles
Current Issues
Angka Kematian Covid-19 di Singapura Terendah di Dunia, Apa Rahasianya?

Current Issues
Perangi Hoax, YouTube Tambahkan Link Sumber Terpercaya pada Konten Vaksin Covid

Current Issues
Penyakit-Penyakit Ini Bisa Bikin Covid-19 Makin Parah, Cek Yuk Apa Saja!