Current Issues

Peneliti Inggris: Bilik Disinfeksi Bisa Berbahaya Jika Terhirup dan Kena Mata

Dwiwa

Posted on May 22nd 2020

Para ahli memperingatkan penggunaan bilik disinfeksi yang digunakan oleh berbagai negara untuk disemprotkan ke orang-orang yang masuk ke tempat tertentu. Gagasannya adalah orang berjalan melalui bilik untuk didisinfeksi agar risiko penyebaran Covid-19 berkurang.

Namun, para ahli mengatakan jika bilik ini tidak hanya membantu untuk membatasi penyebaran coronavirus, tetapi juga dapat menyebabkan bahaya bagi orang yang menggunakannya. Sebuah laporan dalam jurnal Occupational Medicine yang berbasis di Inggris memperingatkan jika bahan kimia mungkin aman dioleskan dalam bentuk cair, tetapi sangat beracun ketika dibuat kabut dan dihirup.

Dilansir dari The Straits Times, penelitian tersebut memperlajari sembilan disinfektan yang biasa digunakan sebagai bahan dalam bilik disinfeksi. “Kontak aerosol langsung dengan kornea dapat menyebabkan iritasi dan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki. Iritasi dan kerusakan kulit juga umum terjadi,” tulis laporan tersebut.

Ditambahkan pula jika partikel aerosolis mudah terhirup ke paru-paru dan dapat bereaksi dengan lapisan mukosa (seperti lapisan dalam mulut dan hidung) yang menyebabkan iritasi, pembengkakan dan ulserasi di saluran pernapasan.

Beberapa bahan kimia dapat diserap melalui mukosa ke dalam aliran darah dan dapat mempengaruhi sitem organ yang jauh, seperti sistem saraf pusat dan saluran pencernaan.

Dalam artikel juga disebutkan jika menggunakan radiasi ultraviolet, dan dibutuhkan waktu 15 menit untuk membunuh virus, ini dapat menyebabkan kerusakan pada mata dan kulit serta sudah diketahui jika menjadi penyebab kanker kulit.

Lebih lanjut, pakaian yang telah disemprot menyebabkan kulit terpapar dalam jangka waktu lama, kecuali jika pakaian dilepas dan kulit secara menyeluruh disiram air.

Dokter Kristen Coleman dari Duke-NUS Medical School mengatakan jika dia menghargai upaya untuk merancang metode inovatif untuk melindungi masyarakat terhadap Covid-19 dan Amerika Serikat dibuka kembali. “Bilik disinfeksi manusia bukanlah jawaban karena ini dapat menimbulkan kesehatan yang serius dan risiko keamanan,” ujarnya.

Ahli dalam bioaerosol itu menambahkan jika disinfeksi kima didesain untuk menonaktifkan mikroorganisme di luar tubuh manusia. Tetapi disinfektan ini beracun jika untuk manusia jika tidak digunakand dengan benar.

“Terpapar di lingkungan kabut disinfektan kimia melalui kontak langsung dan inhalasi dapat menyebabkan kerusakan pada kulit, mata, dan sistem pernapasan,” tambahnya.

Dua perusahaan yang menyediakan bilik disinfeksi di Singapura mengatakan jika mereka menggunakan disinfektan “tidak beracun” yang aman untuk manusia. Salah satu dari mereka menggunakan 70 persen etil alkohol food grade, yang aman digunakan untuk membersihkan permukaan yang bersentuhan dengan makanan, dan isopropil alkohol. Kedua alkohol ini dianggap aman untuk digunakan sebagai pembersih tangan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Meski begitu, kedua bahan ini diketahui menyebabkan iritasi ketika dihirup atau dengan paparan yang lama. Mereka mengiritasi mata, hidung, kerongkongan dan saluran pernapasan bagian atas, dan menyebabkan kantuk, pusing, sakit kepala dan kulit kering.

Perusahaan kedua menggunakan V-Stop Air Shield Sanitising Concentrate sebagai disinfektan. Produk ini memiliki bahan aktif N-alkyl aminopropyl glicin dan diformulasikan untuk pelembap dan pembersih udara, dan tidak mengandung alkohol.

Profesor Dale Fisher, seorang konsultan penyakit menular senior di National University Hospital mengatakan jika tidak ada bukti jika bilik atau terowongan semacam ini benar-benar efektif. Bahkan jika mereka benar-benar mendisinfeksi pakaian dan kulit, mereka tidak akan mencegah seseorang yang sudah memiliki Covid-19 tidak menyebarkan penyakit ketika mereka memasuki gedung.

Menurut Profesor Fisher mengatakan jika virus corona ada di dalam orang yang terinfeksi, bukan pada pakaian yang mereka kenakan. “Virus tidak melayang di sepanjang jalan dan mencemari pakaian,” ujarnya.

Tetapi, ada potesi bahaya untuk orang. Dia menyebutkan jika disinfektan yang didesain untuk membersihkan lingkungan tidak pernah digunakan untuk mengekspos manusia dan hewan dalam jangka panjang. Profesor Fisher mengingatkan jika paparan “disinfeksi” semacam itu beberapa kali sehari selama berbulan-bulan dapat meningkatkan potensi peradangan dan kanker.

Dokter Brenda Ang, yang mengetuai komite pengendalian infeksi di Tan Tock Seng Hospital setuju, demikian juga Associate Professor Hsu Liyang dari Saw Swee Hock School of Public Health. Menurut Prof Hsu, dosis tinggi disinfektan dapat mengiritasi dan menyebabkan ketidaknyamanan.

Related Articles
Current Issues
Berapa Lama Coronavirus Bisa Bertahan di Baju?

Current Issues
WHO Resmi Sebut Coronavirus Berasal dari Hewan, Bukan Kebocoran Laboratorium

Current Issues
Jangan Pegang Bagian Depan Masker! Ini Alasannya