Current Issues

Berapa Lama Infeksi Coronavirus Bertahan di Dalam Tubuh?

Dwiwa

Posted on May 21st 2020

Beberapa bukti yang berkembang menunjukkan jika coronavirus dapat memiliki efek yang berbeda pada setiap orang. Lama waktu infeksi, keparahan gejala, dan proses pemulihan semua berbeda pada setiap pasien. Dan, masih banyak hal yang perlu dipelajari dari penyakit ini.

Dilansir dari CBS News, seorang perempuan di Kanada mengatakan jika dirinya telah memiliki coronavirus selama 50 hari. Meskipun dia sudah mulai merasa lebih baik, dia masih selalu mendapatkan hasil positif. Perempuan itu adalah Tracy Schofield, seorang perawat yang mulai merasakan gejala coronavirus pada 30 Maret.

Hari berikutnya, dia melakukan tes pertama untuk Covid-19 dan dinyatakan positif. Berdasar pengakuannya pada CTV News, dia mengalami kedinginan, sakit kepala, deman, dan kesulitan bernafas. Kini setelah 50 hari berlalu, Schofield masih merasakan beberapa gejala dan khawatir jika Covid-19 dapat menyebabkan masalah jangka panjang.

“Aku masih merasa sesak napas hingga saat ini. Banyak hal yang telah diambil Covid-19 dariku dan ini terus berlanjut setiap hari,” ujarnya pada CTV. Schofield berharap jika dia sepenuhnya pulih saat ini, hampir dua bulan setelah gejala pertamanya. Sayangnya, dari sembilan tes yang dijalaninya, hanya satu yang memiliki hasil negatif.

Beberapa rumah sakit menerapkan protokol seseorang akan dinyatakan sembuh jika dari hasil swab dua kali berturut-turut dinyatakan negatif. Schofield mengatakan jika pejabat Kesehatan Masyarakat Wilayah Waterloo telah membebaskannya dari isolasi diri setelah 14 hari dan dia juga diizinkan untuk kembali bekerja. Tetapi dia tetap khawatir jika mungkin saja masih bisa menularkan virus.

Bagi orang-orang yang masih memiliki coronavirus dan menunggu kejelasan, seperti Schofield, masih banyak hal yang tidak diketahui tentang proses pemulihan. CDC mengatakan kemungkinan virus dapat terdeteksi di saluran pernafasan atas atau bawah selama berminggu-minggu setelah sakit. Namun dikatakan jika durasi pelepasan virus dan periode penularan Covid-19 belum diketahui.

Schofield bercerita jika dirinya bekerja di lingkungan perawatan jangka panjang dan tidak ingin membuat siapa saja menjadi berisiko. Hal terberat, dia mengatakan, adalah tidak ada orang yang menjawab pertanyaannya.

Dokter Amesh A. Adalja, sarjana senior di John Hopkins Center for Health Security, mengatakan kepada CBS News jika hasil positif dari tes coronavirus tidak selalu berarti virus tersebut masih aktif di dalam tubuh seseorang.

“Tes ini tidak mendeteksi virus yang hidup, tes ini mendeteksi material genetik dari virus. Kita tahu jika ketika orang terinfeksi, setelah mereka sembuh dapat terus batuk dan mengeluarkan sisa virus selama beberapa waktu. Dan ini belum tentu sesuatu yang mencerminkan penularan, meskipun banyak rumah sakit dan panti jompo memerlukan beberapa tes negatif setelah seseorang sembuh untuk membersihkannya,” ujar Adalja.

Adalja mengatakan jika untuk alasan ini, ada dua cara berbeda yang direkomendasikan CDC untuk menentukan jika orang yang pernah terinfeksi dapat meninggalkan isolasi dengan aman. Salah satu caranya dengan melakukan tes sampai ada dua hasil negatif yang diambil setidaknya dalam kurun waktu 24 jam.

“Tidak semua orang membutuhkan protokol ini, biasanya digunakan untuk seseorang yang dipulangkan ke panti jompo,” tambahnya. Cara lain adalah berdasarkan gejala. Jika pasien tidak menunjukkan gejala dalam waktu tujuh hari dan tidak mengalami demam selama 3 hari (tanpa mengandalkan obat penurun demam), maka mereka dapat dianggap sembuh.

Adalja tidak merawat Schoofield tetapi mengatakan jika dia tidak memiliki coronavirus saat ini, dia pernah memiliki coronavirus. “Tes akan tetap positif karena dia masih memiliki sisa-sisa virus,” lanjut Adalja. Dia juga menambahkan jika tes mungkin mendeteksi sisa virus selama berminggu-minggu untuk beberapa pasien.

Menurut Adalja, ada juga kemungkinan lain jika hasil tes Schofield tidak akurat, meskipun tes ini biasanya tidak menghasilkan positif palsu tetapi dapat menunjukkan negatif palsu. Dalam kasus Schofield, Adalja menduga tes positifnya tidak salah. “Aku curiga dia memiliki sisa-sisa virus yang masih berada di saluran hidung yang diambil sebagai sampel saat tes,” katanya.

Kepada CTV, Schofield mengatakan jika dia merasa khawatir dengan sesak napas yang masih dirasakannya. Termasuk bertanya-tanya apakah dia harus menggunakan inhaler selama sisa hidupnya. Adapun soal kekhawatiran kerusakan kesehatan permanen, Adalja mengatakan dia bisa saja mengalami gejala residu.

“Jika seseorang mengalami kerusakan akibat virus, fungsi paru akan membutuhkan waktu lama untuk pulih. Jadi mereka mungkin mengalami sesak napas, tetapi itu bukan akibat dari infeksi yang sedang berlangsung. Itu mungkin hanya hasil kerusakan yang dibuat virus pada organ dalam perjalanan penyakit,” jelas Adalja.(*)

Related Articles
Current Issues
Banyak yang Sembuh Lalu Positif Lagi, Bisakah Kita Tertular Covid-19 Dua Kali?

Current Issues
WHO: Tak Ada Bukti Orang Sembuh dari Covid-19 Jadi Kebal terhadap Infeksi Kedua

Current Issues
Begini Cara Negara Paling Sehat di Dunia Melawan Coronavirus