Tech

Teknologi Facial Recognition Dikembangkan untuk Mengenali Wajah Bermasker

Ahmad Redho Nugraha

Posted on May 20th 2020

 

Selama masa pandemi, masker menjadi outfit yang wajib dikenakan bagi siapapun yang ingin keluar rumah. Beberapa selfie dan update di media sosial selama ini pun tidak lepas dari penampakan wajah orang yang mengenakan masker.

Situasi itu pun dimanfaatkan oleh sebagian peneliti yang tengah mengembangkan algoritma terbaru facial recognition. Ribuan gambar wajah yang diunggah semua orang di Instagram kini dikumpulkan oleh mereka. Lalu digunakan untuk merancang algoritma facial recognition terbaru. 

Kewajiban mengenakan masker membawa dampak buruk bagi industri atau perusahaan yang memanfaatkan teknologi facial recognition dalam menjalankan bisnisnya. Sebabnya tak lain dan tak bukan karena masker menutupi sebagian besar wajah orang yang mengenakannya.

Demi mengatasi tantangan terbaru tersebut, kini para pengembang dari industri terkait tengah mengembangkan fitur facial recognition yang khusus mengenali wajah bermasker.

Bulan April lalu, mereka mempublikasikan "COVID19 Mask Image Dataset" ke Github, yang berisi total 1.200 gambar wajah bermasker yang dikumpulkan dari Instagram.

Para pengembang teknologi dari startup bernama "Workaround" memanfaatkan teknologi AI dalam memilah secara otomatis mana gambar wajah yang mengenakan masker dan mana yang tidak.

"Kami terinspirasi oleh semua perusahaan yang meluncurkan perangkat gratis, atau apapun yang bisa mereka lakukan untuk membantu," ujar Wafaa Arbash, CEO perusahaan tersebut. "Kami mengumpulkan data gambar dari Instagram, sehingga yang kami gunakan bukan gambar pribadi, tapi gambar publik yang cocok untuk digunakan."

Sebulan sebelumnya, peneliti dari Tiongkok sudah terlebih dahulu mengumpulkan database foto yang berisi 5.000 gambar wajah bermasker yang mereka peroleh lewat internet.

Perusahaan yang menggunakan teknologi facial recognition memang sudah lama diketahui memanfaatkan gambar orang lain di yang mereka temukan di internet untuk mengujicoba algoritma mereka. Teknik mereka telah lama diprotes sebagian pihak karena diduga mengancam privasi dan kebebasan berekspresi.

Sebagian besar negara bagian di AS mewajibkan penggunaan masker di tempat umum demi mencegah penyebaran Covid-19, dan itu menghambat penggunaan teknologi facial recognition.

National Institute of Standards and Technology AS berencana akan menambahkan masker pada foto wajah orang yang mereka miliki agar bisa mendapatkan lebih banyak foto orang bermasker, demi bisa mengujicoba algoritma terbaru mereka.

Meski demikian, rencana tersebut sulit direalisasikan mengingat dalam pengujian facial recognition, foto yang diedit tidaklah seefektif foto orang bermasker yang asli. Perusahaan facial recognition juga memerlukan foto yang beragam untuk mengembangkan teknologi mereka dalam mengenali jenis kelamin, warna kulit, usia dan jenis masker yang digunakan semua orang.

Hal tersebutlah yang membuat foto-foto di Instagram menjadi solusi yang lebih mudah dan efisien bagi perusahaan facial recognition. Arbash dan perusahaannya mengumpulkan kurang lebih 3.000 gambar wajah bermasker di Instagram dengan menelusuri hashtag yang berkaitan dengan masker, lalu mengerucutkan jumlah sampelnya menjadi 1.200 foto. 

Arbash mengaku bahwa mereka tidak meminta izin kepada para pemilik foto untuk memakai foto mereka, dan jika mereka memang keberatan fotonya dipakai, para pengguna Instagram tersebut harusnya mengubah saja setting instagram-nya menjadi private.

"Kami tidak menghasilkan uang dari sini, ini bukan aktivitas komersil," tukas Arbash. "Tujuannya adalah membantu para teknisi machine learning dan data science dalam menangani isu keamaan publik."

"The Real World Masked Face Dataset" mungkin merupakan data set foto wajah bermasker yang terbesar saat ini, dengan koleksi total 5.000 foto orang bermasker dari 525 orang berbeda yang dikumpulkan dari internet.

Kumpulan foto tersebut diperoleh para peneliti di Universitas Wuhan, Tiongkok, pasca menyebarnya virus korona. Peneliti tersebut dalam tulisannya 23 Maret lalu menyatakan bahwa gambar yang dikumpulkan tersebut berasal dari "sumber yang berlimpah di internet".

Penggunaan gambar orang lain di internet untuk kepentingan pengembang teknologi memang bukan hal baru, namun kini, banyak pengembang teknologi yang menjadikan pandemi Covid-19 sebagai alasan darurat dalam melakukan aktivitas mereka.

"Kami tidak mengizinkan pihak ketiga untuk mengumpulkan dan menggunakan foto yang dipos oleh pengguna kami, tanpa sepengetahuan mereka. Kami akan menginvestigasi soal ini," tulis Facebook dalam pernyataannya.

"Semua orang mungkin tidak suka ide tentang pemanfaatan gambar mereka untuk mengembangkan sistem keamanan pemerintahan atau penguatan hukum seperti yang dilakukan Tiongkok," tutur jake Laperruque, pejabar senior dari Constituion Project.

"Seseorang bisa saja meletakkan fotonya di internet tanpa niat untuk menjadikannya hal yang pribadi, namun tetap saja ia merasa berhak menentukan foto itu akan digunakan untuk apa," tegasnya. (*)

 

Related Articles
Current Issues
Direktur CDC: Semua Pakai Masker Selama 12 Minggu, Pandemi Bisa Dikendalikan

Current Issues
Pandemi Bukan Halangan Tampil Stylish. Cek Aja Face Shield Louis Vuitton Ini

Current Issues
Mata-Mata Inggris: Teori Covid-19 Bocor dari Laboratorium di Wuhan Masuk Akal