Lifestyle

Lockdown Mulai Dilonggarkan? Hati-hati dengan Re-entry Anxiety

Kezia Kevina Harmoko

Posted on May 19th 2020

(Freepik)

 

Britania Raya alias Inggris telah delapan minggu menerapkan kebijakan lockdown. Kebijakan ini menekan aktivitas warga yang biasanya bebas bepergian menjadi sangat terbatas.

Namun beberapa waktu belakangan lockdown mulai dilonggarkan dan aktivitas kala normal perlahan kembali dilakukan. Mulai dari mengunjungi taman, berjemur, bahkan bertemu orang lain di tempat umum. Banyak orang juga sudah kembali bekerja. Di sana, sekolah dasar dijadwalkan akan kembali buka di awal bulan Juni.

Pastinya ini berita baik dong? Aktivitas bisa perlahan normal karena ada penurunan angka infeksi tentunya. Namun kembali menjadi “normal” setelah cukup lama berada di situasi gawat pandemi bukan hal yang mudah lho.

Mengingat pandemi Covid-19 ini telah menimbulkan jutaan korban jiwa di seluruh dunia hingga kesulitan ekonomi yang sangat signifikan. Bahkan kesulitan ekonomi ini dinilai lebih buruk dari kejatuhan ekonomi di tahun 2008. Segala bayang-bayang menyedihkan ini tentunya menciptakan kekhawatiran berlebih dan gangguan mental lainnya.

Sebuah survei di Inggris menyatakan kalau 60 persen warganya merasa khawatir untuk melakukan kegiatan normal seperti pergi ke restoran, konser, hingga menggunakan transportasi publik ketika kebijakan lockdown telah diberhentikan. Wah, sepertinya pesan stay at home sudah sangat meresap di pikiran mereka ya?

Kekhawatiran untuk beraktivitas normal di tengah pandemi yang belum sepenuhnya usai membuat tagar #ExtendLockdown sempat meramaikan jagat media sosial. Masyarakat cenderung khawatir dengan dicabutnya pembatasan ini justru akan kembali memperburuk angka infeksi coronavirus. Apa lagi menurut pengamatan mereka masih banyak warga yang keluar rumah tanpa menggunakan masker.

Bukan tidak mungkin transportasi umum menjadi media virus-virus tersebar. Kita nggak pernah tahu kan siapa aja yang menggunakan kursi kereta umum, atau mungkin ada yang batuk atau bersin sebelumnya?

Kita nggak pernah tahu. Kira-kira seperti itu bentuk kekhawatiran sebagian dari warga Inggris. Mereka takut upaya keras mereka disiplin dalam lockdown selama dua bulan akan menjadi sia-sia dengan mulai kembalinya aktivitas kehidupan normal di sana.

Kekhawatiran berlebih untuk kembali hidup normal setelah lockdown ternyata adalah kondisi psikologis bernama re-entry anxiety. Dilansir dari Independent, seorang psikolog bernama Marc Hekster berpendapat kalau kondisi ini adalah perasaan takut akan hal-hal yang mungkin terjadi karena kehilangan rasa aman dari berada di rumah selama lockdown.

Lockdown menghasilkan sebuah rasa aman yang palsu pada diri kita,” kata psikolog tersebut.

Ketika kita diimbau untuk di rumah aja selama beberapa bulan terakhir, imbauan tersebut seakan menjadi satu-satunya cara aman untuk kita melindungi diri dari virus. Pemikiran ini terus-menerus menetap di pikiran kita sehingga ketika lockdown dicabut, kita tidak merasa aman lagi.

Di beberapa kasus, kebijakan lockdown juga membuat keluarga menjadi lebih erat karena banyaknya waktu yang bisa dihabiskan bersama. Di masa sebelum pandemi tentunya hal ini menjadi hal yang sangat jarang terjadi, apa lagi di keluarga dengan kesibukan tinggi. Tentunya rasa kekeluargaan ini sulit untuk direlakan ketika kehidupan normal kembali berjalan.

Re-entry anxiety juga punya hubungan dengan respons pada trauma,” Hekster menambahkan. Misalnya ketika kita mengalami suatu kecelakaan mobil, mungkin secara fisik kita bisa sembuh total. Namun, ketika kita mencoba untuk menyetir kembali, ada rasa kekhawatiran akan kecelakaan tersebut mungkin saja terjadi lagi. Ini karena kita takut untuk kembali ke situasi yang sebelumnya berbahaya bagi kita. Dalam hal ini situasi yang berbahaya tersebut adalah lingkungan umum yang mungkin saja menjadi tempat penyebaran virus.

Menurut psikolog bernama Dr. Sarita Robinson, makin kita merasa khawatir terpapar coronavirus maka makin besar pula peluang kita merasakan khawatir berlebih. Untuk anak-anak atau lansia mungkin akan merasakan punya tambahan rasa khawatir, bukan terhadap mereka sendiri namun pada orang yang mereka sayangi.

“Kita tidak perlu mendorong orang-orang untuk beraktivitas secara normal dengan cepat,” ucap psikolog tersebut. Lockdown mungkin saja telah menjadi zona nyaman untuk beberapa bulan ke belakang sehingga butuh waktu untuk seseorang beradaptasi pada keadaan normal.

Ketika kita memaksa terlalu cepat, hal ini bisa mengakibatkan peningkatan detak jantung dan tekanan darah yang dapat berujung pada perasan burned out. Perasaan ini membuat seseorang sulit untuk keluar dari rasa khawatir dan sulit untuk merasa rileks.

Kalau memang kita harus beraktivitas normal di kala pandemi yang belum sepenuhnya usai, lakukan secara bertahap. Ketika merasa panik karena khawatir, coba pengaturan nafas untuk merasa lebih tenang. Kalau kondisi yang dirasakan makin buruk, nggak ada salahnya untuk konsultasi ke tenaga medis lho! (*)

Artikel Terkait
Lifestyle
Keseringan Baca Berita Buruk Bikin Cemas? Begini Cara Mengatasinya

Lifestyle
Gabut di Rumah Aja? Coba 6 Ide Crafting ala TikTok Ini!

Entertainment
Selena Gomez Bagikan Cara Jaga Kesehatan Mental Saat Pandemi, Wajib Ditiru Nih