Portrait

Mbak Ambon dan Anak-Anak Indonesia

Ferian Fembriansyah

Posted on May 7th 2018

Anak-anak. Itu adalah satu kata yang memiliki sejuta arti bagi sosok Desi Rahmawaty. Keresahannya terhadap kondisi anak-anak di sekitar daerah lereng Merapi, Yogyakarta, membuatnya tergerak dan kemudian mencetuskan ide pembangunan Rumah Baca Lereng Merapi.

Dalam membangun Rumah Baca Lereng Merapi, dia nggak sendirian. Bersama masyarakat desa setempat, mereka saling bantu mengembangkan desa melalui pendekatan literasi anak-anak di kaki gunung Merapi, Sleman, Yogyakarta.

Sosok yang menuangkan seluruh semangatnya untuk anak-anak ini masih muda. Lahir 24 tahun yang lalu di Masohi, Maluku, tepat pada tanggal 26 Desember 1994. Lahir dengan nama Desi, namun kini hampir seluruh anak Indonesia yang pernah ditemuinya mengenal dia dengan sapaan “Mbak Ambon”. 

“Mbak Amboooooon…!”

Begitu kira-kira yang dia dengar kala bertemu dengan anak-anak. Mereka selalu excited tiap bertemu Mbak Ambon-nya.

Nggak cukup hanya membangun Rumah Baca Lereng Merapi, Mbak Ambon yang kini tinggal di Yogyakarta untuk kuliah sebagai mahasiswa Farmasi di Universitas Islam Indonesia, juga menjadi salah satu Fasilitator Forum Anak Nasional.

Forum Anak Nasional sendiri merupakan salah satu bentuk kegiatan dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam mewujudkan Indonesia Layak Anak.

Sebenarnya, kata Mbak Ambon, awalnya dia nggak berniat untuk memperjuangkan isu anak. Namun, isu anak semakin lama justru semakin terasa dekat menyentuh kehidupannya. Batinnya sempat bergolak.

“Di lingkungan tempat kita tinggal, kita pasti banyak menemukan masalah yang terjadi. Memilih untuk tidak diam dan bekerjasama adalah solusinya. Ketika memilih menjadi bagian dari solusi, di situ Aku belajar dan berproses meningkatkan kapasitas diri untuk berbuat lebih banyak lagi,” celoteh Mbak Ambon.

Mbak Ambon juga aktif dalam Yayasan Sahabat Kapas dalam rangka pendampingan anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kutoarjo. Yap! Mbak Ambon emang aktif banget di dalam memperjuangkan isu anak.

Aku pernah penasaran dengan jadwal kesehariannya. Dengan semua kesibukannya itu, ngatur waktunya gimana ya? Aku sempatkan menanyakan itu ke dirinya.

Wah, jawaban Mbak Ambon oke juga nih. Mbak Ambon sendiri percaya ada teori yang menyatakan bahwa sesungguhnya, mahasiswa memiliki 3 tiga zona waktu. Yaitu zona istirahat, zona akademis, dan zona sosial. Dan kita cuma bisa memanfaatkan dua dari ketiga zona tersebut.

Selain itu, gadis berhijab ini juga menyusun ­timeschedule atau timetable harian, bahkan mingguan, mengenai hal apa aja yang akan dikerjakan. Sehingga, tiap harinya dia dapat mengevaluasi mana kegiatan yang dirasa terlalu banyak membuang waktu.

Melihat kisah perjuangan Mbak Ambon, Aku jadi teringat dengan bagaimana perjuangan Kartini masa dulu. Kebayang nggak kalau apa yang dilakukan Mbak Ambon ini juga merupakan hasil dari perjuangan Ibu kita Kartini pada masa lalu?

“Menurutku, Kartini adalah seorang pejuang. Dia mencontohkan bahwa menjadi seseorang pemimpi yang besar, harus dibarengi dengan usaha yang nyata. Perempuan tangguh harus bebas dalam berpikir, belajar dan melakukan tindakan-tindakan yang positif untuk lingkungan sekitar,” tandas Mbak Ambon.

Kayaknya ini jadi catatan tersendiri deh buatku. Dan mungkin juga buat kamu. Bahwa untuk berbuat hal baik, nggak perlu pusing untuk dimulai dari sana atau sini dulu. Cukup dari lingkungan di sekitar kita aja.

Semoga kamu makin tangguh ya Mbak Ambon! (fer/ash)

Related Articles
Portrait
Perjalanan Ferian Menjadi Duta Generasi Remaja Indonesia Emas

Portrait
Belajar Kandel Dari Fias

Portrait
Gus Sholah, Tentang Larangan Merokok dan Aktif di Medsos