Tech

TikTok Terindikasi Langgar Perjanjian Soal Privasi Pengguna di Bawah Umur

Ahmad Redho Nugraha

Posted on May 15th 2020

TikTok memang jadi aplikasi paling populer di dunia belakangan ini, terutama karena semakin banyak warganet yang gabut selama masa karantina diri. Keberadaan konten video-video pendek di dalamnya selalu menghibur dan seringkali viral sehingga di-repost di platform media sosial yang lain.

Namun sejak kemunculannya beberapa tahun lalu, TikTok tidak kunjung lepas dari masalah. Baru-baru ini TikTok dilaporkan melanggar perjanjian yang dibuat perusahaannya dengan Federal Trade Commission (FTC) terkait dengan perlindungan privasi anak-anak dalam kontennya.

Pada 2019, TikTok yang awalnya bernama Musical.ly telah melanggar hukum perlindungan privasi anak-anak secara online. Pelanggaran tersebut terjadi karena TikTok mempublikasikan nama, alamat email, video serta informasi pribadi dari pengguna yang berusia di bawah 13 tahun tanpa pengawasan orangtuanya.

Menurut Dewan Federal Amerika Serikat kondisi itu berbahaya karena ada banyak beberapa pengguna TikTok dewasa yang mencoba menghubungi anak-anak tersebut via alamat kontak yang tertera di TikTok.

Sebagai tindaklanjutnya, TikTok akhirnya sepakat untuk menyertakan persetujuan orangtua sebelum dapat mempublikasikan informasi pribadi pengguna anak-anak di platform mereka.

TikTok juga bersedia menghapus informasi pribadi, termasuk konten video itu sendiri jika mereka menemukan pengguna platform mereka yang berusia di bawah 13 tahun, demikian pula dengan pengguna yang tidak mencantumkan informasi tentang umur mereka.

Namun belakangan, kelompok konsumen yang dipimpin oleh Campaign for a Commercial Free Childhood dan Center for Digital Democracy, melayangkan protes ke FTC karena TikTok dinilai gagal mempertahankan perjanjian tersebut.

Sebagai bukti, mereka turut melampirkan sejumlah video yang diunggah oleh anak-anak berusia di bawah 13 tahun pada 2016 lalu yang tidak juga dihapus oleh TikTok hingga saat ini.

Kelompok konsumen ini juga mempermasalahkan perihal verifikasi usia bagi pengguna yang masih muda. Tahun lalu, aplikasi ini mengeluarkan setting Younger Users untuk pengguna anak-anak yang berusia di bawah 13 tahun, demi mencegah pengguna anak-anak ini untuk mengunggah informasi pribadi mereka di TikTok.

Namun kelompok konsumen ini menemukan bahwa pengguna Younger Users dapat dengan gampang menghapus akun mereka dan meregisterkan diri mereka pada akun biasa dengan menggunakan perangkat telepon yang sama, namun dengan tanggal kelahiran palsu.

"Selama bertahun-tahun, TikTok sudah melanggar hukum perlindungan privasi anak, yang secara tidak langsung mengekspos mungkin jutaan pengguna di bawah umur terhadap bahaya predator anak. Dan sekarang bahkan setelah terbukti bersalah, TikTok tetap tidak mengindahkan peraturan," ujar Josh Golin, Kepala Eksekutif Campaign for a Commercial Free Childhood.

Juru bicara TikTok pun merespons pernyataan tersebut lewat surel. "Kami menanggapi isu privasi dengan serius dan berkomitmen dalam menjadikan TikTok sebagai komunitas yang aman dan menghibur bagi para penggunanya," demikian tulisnya.

Popularitas TikTok sendiri makin meroket di dunia, khususnya Amerika Serikat pasca pandemi melanda negara Paman Sam ini. Hingga saat ini, TikTok sudah diunduh 11 juta kali oleh pengguna internet di seluruh AS pada Maret lalu, hampir dua kali lipat jumlah pengunduh di Bulan Desember 2019.

Anggota Dewan Kongres AS mulai menanggai isu privasi TikTok ini karena potensi perusahaan tersebut dalam menjual data penggunanya kepada ByteDance, perusahaan induknya di Tiongkok. ByteDance membeli Musical.ly pada 2017 lalu dengan harga USD 1 miliar dan menggabungkannya dengan TikTok, perusahaan yang suda lebih dulu mereka kembangkan.(*)

Related Articles
Tech
Tiongkok Punya Andil di Perusahaan Induk, Senat Desak Biden Blokir TikTok

Tech
Siap-Siap, TikTok Tak Bisa Digunakan di AS Jika Gagal Diambil Alih

Tech
Makin Sukses, TikTok Punya 1 Miliar Pengguna Aktif Bulanan