Portrait

Mengintip Kerja Keras Nakes di UEA yang Tetap Berpuasa Sambil Melawan Covid-19

Ahmad Redho Nugraha

Posted on May 14th 2020

Bagi umat muslim, Bulan Ramadan adalah bulan yang menuntut kesabaran dan kekuatan ekstra. Mereka harus tetap menjalankan aktivitas sehari-harinya sembari menahan lapar dan haus karena berpuasa.

Berpuasa dalam kondisi biasa saja tidak mudah, apalagi bagi mereka yang kini bekerja keras melawan pandemi Covid-19. Seperti yang dialami tenaga kesehatan (nakes) di seluruh dunia. Bagaimana cara mereka menjalani harinya? 

"Setiap tahun, momen berbuka puasa seharusnya menjadi saat untuk berkumpul dengan keluarga, tapi sekarang aku lebih sering baru tiba di rumah tepat saat waktu berbuka, bahkan sering juga jauh setelahnya," ungkap dr. Faisal Dalvi, dokter spesialis penyakit dalam di Rumah sakit Burjeel, Uni Emirat Arab.

"Ada begitu banyak pasien yang harus diperiksa setiap hari, ditambah lagi pasien yang datang di luar jam praktik. Waktu kerja yang seharusnya enam jam, malah bertambah menjadi delapan jam," lanjtnya lagi.

Hal senada juga disampaikan Rana Al Sayed, perawat di IGD Rumah Sakit Sharjah. Perawat asal Yordania ini mengatakan bahwa cobaan terbesarnya sepanjang Ramadan adalah keterbatasan waktu.

"Waktu kerja 12 jam, ditambah suasana puasa di Bulan Ramadan, mengharuskan kami (para perawat) beralih dengan cepat dari satu tugas ke tugas lain. Agar aku sempat menyiapkan makananku, aku harus menggunakan libur dua hariku dalam sepekan untuk menyiapkan makanan selama satu pekan berikutnya," beber Al Sayed.

Berpuasa di negara Timur Tengah seperti UEA tentu saja berbeda dengan berpuasa di Indonesia. Penduduk UEA harus menahan lapar dan haus selama 14 jam lamanya. Sebagian besar waktu puasa tersebut dihabiskan para tenaga medis di lingkungan kerjanya.

Tekanan itu ditambah lagi dengan kewajiban mereka menyiapkan hidangan berbuka bagi keluarganya setelah mereka tiba di rumah.

"Anakku berumur 12 dan 10 tahun, dan mereka semua berpuasa tahun ini. Karena karantina wilayah, orangtuaku juga kini tinggal di rumahku. Aku merasa, menyiapkan hidangan bagi mereka adalah kewajibanku," ujar dr. Maha Osman, dokter spesialis di Pusat Kesehatan Medcare di pusat kota Mirdiff.

Dokter tiga anak bekerja sembilan jam dalam satu shift. Sebagaimana petugas medis lain, dr. Osman langsung mandi setibanya di rumah, lalu belanja ke toko swalayan, dan dilanjutkan dengan memasak. "Setiap malam aku menyiapkan sambusek dan daging yang bisa kami konsumsi di hari esoknya," 

Di lain sisi, dr. Naveed Ahmed, kardiolog di Rumah Sakit Mankhool, beserta istrinya, seorang dermatolog, juga wajib mengikuti prosedur sanitasi yang sesuai protokol segera setelah mereka tiba di rumah, demi menjaga keluarga mereka dari penyebaran virus korona.

Prosedur tersebut termasuk menanggalkan sepatu di depan pintu, mandi dan mencuci pakaian yang mereka kenakan. "Syukurnya, sejauh ini kami selalu sempat pulang ke rumah sebelum waktu berbuka," ujar dr. Ahmed.

Meski demikian, tidak semua pekerja medis dapat tiba di rumah tepat waktu. Beberapa orang perawat seperti Hasna Kakki biasanya terpaksa berbuka puasa dengan kurma dan air putih dalam perjalanan pulangnya ke rumah. "Biasanya bahkan aku bisa terlambat pulang sampai pukul 10 malam," terangnya.

Cobaan lainnya bagi pekerja medis yang berpuasa adalah saat mereka diharuskan mengenakan APD yang panas dan pengap selama bertugas. dr. Dalvi mengatakan bahwa ia wajib mengenakan seragam hazmat full-body dan masker N95 saat mengecek pasien Covid-19.

"Selama bertugas, aku juga wajib mengenakan sarung tangan, baju pelindung dan penutup sepatu, dan aku harus menggantinya setiap kali akan memeriksa pasien lain," terang dr. Ahmed.

Dengan segala halangan dan tantangan tersebut, dedikasi dan motivasi para pekerja medis tersebut akan pekerjaan mereka sangat perlu diapresiasi. 

"Kami sangat merindukan shalat berjamaah di masjid dan berbuka bersama teman-teman, tapi itu sulit dilakukan dengan pekerjaan kami yang seperti ini. Tapi kami yakin Allah akan membalas pekerjaan kami ini dengan kebaikan," tambah dr. Ahmed.

"Pekerjaan ini memang berisiko besar, tapi aku sudah berikrar untuk melayani semua orang sebagai seorang dokter, sama seperti kewajibanku beribadah puasa sebagai seorang muslim. Allah pasti akan membalas pengorbanan ini," ujar dr. Dalvi, di lain tempat.

Dewan Fatwa UEA sejak awal Ramadan lalu menyatakan bahwa, berbeda dengan keadaan normal, para pekerja medis muslim di seluruh UEA diizinkan untuk tidak berpuasa selama bertugas di garda terdepan melawan Covid-19.

Dalam hukum Islam, muslim yang sakit tidak diwajibkan untuk berpuasa, dan Dewan Fatwa UEA menyatakan bahwa hal tersebut juga berlaku bagi tenaga medis yang berinteraksi dengan pasien yang sakit selama bekerja.

Itu karena daya tahan tubuh mereka dapat menurun selama berpuasa, sehingga menjadi lebih rentan tertular sakit atau menjadi tidak fokus dalam menangani pasien.

Meski demikian, sebagian besar pekerja medis muslim di seluruh UEA memilih tetap melaksanakan ibadah puasa Ramadan selama menjalankan tugas mereka menangani pasien. (*)

Related Articles
Portrait
So Sweet, Milenial di Bolivia 'Adopsi' Lansia Selama Pandemi Covid-19!

Current Issues
Menilik 5 Wabah Terparah Sepanjang Sejarah dan Bagaimana Mereka Diakhiri

Current Issues
Ilmuwan Tiongkok: Mutasi Coronavirus Tertentu Lebih Mematikan