Current Issues

Ilmuwan Temukan Virus Lain Mirip SARS-CoV-2 pada Kelelawar

Ahmad Redho Nugraha

Posted on May 13th 2020

Salah satu pertanyaan yang dimiliki para ilmuwan kesehatan dunia pada masa ini adalah: bagaimana Coronavirus berevolusi? Sebab saat ini kebanyakan hasil penelitian menyimpulkan bahwa virus penyebab Covid-19 tersebut berevolusi secara alami, mulai dari tubuh kelelawar, berpindah ke hewan lain sebagai inang, lalu bermutasi hingga ke tahap yang dapat menyebabkan pandemi global seperti saat ini.

Penelitian lainnya turut memperkuat teori tersebut, di mana ilmuwan menemukan jenis virus lain yang mirip dengan SARS-CoV-2 pada tubuh kelelawar. 

"Sejak SARS-CoV-2 ditemukan, tidak ada penelitian yang menemukan bahwa virus ini dikembangkan di laboratorium," ujar Weifeng Shi, mikrobiolog di Universitas Shandong.

"Beberapa pihak berspekulasi bahwa sisipan S1/S2 sangatlah tidak biasa dan merupakan indikasi terjadinya manipulasi laboratorium. Sementara itu, penelitian kami menunjukkan bahwa kejadian tersebut berlangsung secara alami di alam bebas. Ini menjadi bukti kuat untuk menentang dugaan bahwa SARS-CoV-2 adalah virus yang dibuat di laboratorium."

Coronavirus baru yang ditemukan ilmuwan pada tubuh kelelawar diidentifikasi para peneliti saat mereka mengamati 227 sampel kelelawar yang dikumpulkan dari Provinsi Yunan, Tiongkok, sejak akhir 2019 lalu. Setelah menganalisis virus yang mereka temukan pada sampel kelelawar tersebut, para peneliti berhasil mencatat dua genome virus yang hampir lengkap, yang mereka beri nama RmYN01 and RmYN02.

RmYN01 tidak memiliki banyak kesamaan dengan SARS-CoV-2, namun berbeda dengan RmYN02. Coronavirus satu ini memiliki kemiripan genom hingga 93,3 persen terhadap SARS-CoV-2.

Selain itu, para peneliti menemukan bahwa terjadi sisipan pada virus ini. RmYN02 mengandung sisipan asam amino, di mana dua suunit (S1 dan S2) dari jarum proteinnya bertemu. SARS-CoV-2 juga memiliki sisipan S1 dan S2, dan meski kedua virus ini berbeda, kedua sisipan tersebut terjadi secara alami tanpa interupsi laboratorium.

Selain itu, meskipun mirip, RmYN02 tidak serta-merta merupakan kerabat dari SARS-CoV-2. Terutama karena gen dari reseptor pengikatnya hanya memiliki kemiripan 61,3 persen dengan SARS-CoV-2. Penemuan genom ini sangat membantu dalam pengembangan penelitian tentang proses evolusi virus korona.

"Penelitian kami memperkuat teori bahwa kelalawar, terutama kelelawar dari genus Rhinolophus merupakan inang alami bagi virus korona dan merupakan inang juga dari virus lain yang sangat mirip dengan SARS-CoV-2, meski anggapan ini dapat berubah dengan lebih banyak penelitian tentang makhluk liar," tulis tim Shi dalam artikel ilmiah mereka.

"Penemuan RmYN02 sebagai virus yang mirip dengan SARS-CoV-2 pada kelelawar Rhinolophus malayanus cukup mengejutkan, meski virus ini sendiri memiliki sejarah rekombinasi yang rumit," lanjutnya.

Selain RmYN02, virus lain dengan kemiripan genom terhadap SARS-CoV-2 yang pernah ditemukan ilmuwan adalah RaTG13, dengan kecocokan RNA sebesar 96,1 persen. Namun para ilmuwan yakin bahwa masih ada virus lain yang lebih mirip dengan SARS-CoV-2 di luar sana. 

"Baik RaTG13 maupun RmYN02 tidak memiliki kekerabatan dengan SARS-CoV-2, karena tidak ada rantai yang menghubungkan evolusi mereka satu sama lain," terang Shi.

"Penelitian kami menyarankan agar ada lebih banyak pengamatan yang dilakukan kepada spesies hewan liar, demi menemukan virus lain yang memiliki kekerabatan lebih dekat dengan SARS-CoV-2, dan bahkan merupakan evolusi sebelumnya. Pengamatan tersebut akan dapat menunjukkan bagaimana virus ini dapat menular ke manusia." (*)

Related Articles
Current Issues
Tiap Tahun, Ratusan Ribu Orang Mungkin Telah Terinfeksi Virus Corona Kelelawar

Current Issues
Jangan Salahkan Kelelawar, Manusia Juga Punya Andil Dalam Munculnya Wabah Baru

Current Issues
Cegah Gelombang Kedua Covid-19, Jepang Cek Antibodi 10.000 Penduduknya