Current Issues

Skotlandia Lirik Outdoor Learning Sebagai Konsep Sekolah Selama Pandemi

Dwiwa

Posted on May 12th 2020

Saat ini, banyak sekolah yang diliburkan karena pandemi Covid-19. Anak-anak terpaksa belajar di rumah. Skotlandia sepertinya punya solusi mengenai hal tersebut. Anak-anak bisa tetap sekolah dengan sistem outdoor learning atau pembelajaran luar ruangan. 

Dengan pembelajaran luar ruangan, physical distancing lebih mudah diterapkan ketimbang anak-anak belajar di dalam kelas. Konsep ini tengah dikaji karena PM Skotlandia menyebut penutupan sekolah hanya sampai Agustus. 

Menteri anak-anak Skotlandia, Maree Todd mengatakan saat ini semakin banyak tempat penitipan anak (childcare) yang melakukan pengasuhan luar ruangan di Skotlandia. Dari pengamatan, sistem tersebut memiliki banyak manfaat dalam hal menjaga jarak dan meminimalkan risiko penularan.

Ini bisa diterapkan selama masa transisi dari lockdown menuju kembali ke sekolah. Maree menambahkan jika tempat penitipan anak spesialis luar ruangan terbukti bisa menyesuaikan dengan kebutuhan anak-anak untuk berada di luar ruangan sepanjang waktu di luar ruangan.

Sementara lembaga lain tengah mempertimbangkan bagaimana menyesuaikan metode mereka agar lebih banyak waktu yang dihabiskan di taman dan taman bermain.

Sebenarnya outdoor learning sendiri telah menjadi bagian dari curriculum for excellence di Skotlandia. Yakni kurikulum sekolah untuk anak 8-13 tahun. Tapi para dewan memiliki rencana untuk memperluas cakupannya setelah pemerintah setempat berkomitmen untuk meningkatkan pendanaan childcare hampir dua kali lipat tahun ini.

Semenjak lockdown diberlakukan, penitipan anak luar ruang menjadi sangat penting. Sebab, dia telah menjadi pusat pengasuhan anak bagi para pekerja di garda depan.

“Ketika kalian memiliki dunia alami di ujung jari, kalian tidak butuh banyak mainan, yang berarti lebih sedikit permukaan yang bisa menjadi tempat penularan virus,” ujar Zoe Sills, pengelola sekolah pengasuhan anak luar ruang Earthtime di Elgin terkait keuntungan sekolah di luar ruangan.

Dalam proses pembelajaran, masing-masing anak diberikan tas yang berisi kuas, krayon, dan lem milik mereka sendiri. Setelah itu, anak-anak akan berpencar dan menemukan ruang  untuk melakukan aktivitas kerajinan.

Cameron Sprague, pimpinan senior di pengasuhan Fort William di Stramash mengatakan jika mengontrol infeksi lebih mudah ketika berada di luar ruangan. “Kami tidak pernah mengalami situasi dimana satu anak terkena cacar air lalu sepertiga sekolah harus libur,” ujarnya.

Luar ruangan memungkinkan jaga jarak terjadi secara alami. Cuaca saat ini pun mendukung untuk anak-anak bisa bebas bermain di luar ruang. Selain itu, tempat tersebut juga memberikan camilan dan makan siang secara bergiliran untuk menghindari kerumunan serta melakukan cuci tangan setiap jam.

“Ini mungkin cara agar pembelajaran luar ruang lebih diperhatikan, tetapi ini lebih dari sekadar pengendalian infeksi. Guru membutuhkan dukungan untuk ini, ada banyak hal yang bisa diajarkan di luar ruang. Ini hanya butuh berpikir kreatif,” tambahnya.

Kenny Forsyth, pimpinan dari perusahaan sosial Stramash yang mengelola tempat pengasuhan luar ruang di seluruh Highlands menyebut jika jawaban dari semua tantangan yang ditimbulkan oleh virus corona telah tersedia dalam pengaturan luar ruangan.

Menurutnya, jika anak-anak belajar di dalam ruangan tertutup dan aturan pemerintah lokal diterapkan, jumlah anak yang bisa kembali akan terbatas oleh physical distancing.

“Kalian dapat mengelola dan mengendalikan risiko infeksi lebih baik di luar ruangan, dan kami adalah pilihan yang lebih baik, terutama saat ini. Masalah terbesarnya adalah jumlah kami yang tidak cukup banyak,” kata Forsyth.

Dia memperkirakan kurang dari 1 persen dari anak usia sekolah di Skotlandia mendapat pengasuhan sepanjang hari di luar ruang.

Praktisi juga menggarisbawahi jika outdoor learning adalah spesialisasi yang membutuhkan pelatihan dan keahlian dibanding sesuatu yang bisa segera diterapkan di sekolah konvensional yang memiliki jumlah ruang luar sangat beragam.

“Ini adalah tantangan yang signifikan untuk mengharapkan lembaga nasional dalam ruang tiba-tiba memahami bagaimana cara melakukan pembelajaran luar ruang sepanjang hari. Tetapi ini akan memberikan outcome luar biasa untuk negara jika manfaat (pembelajaran) luar ruang diterapkan di semua sekolah,” lanjutnya.(*)

Related Articles
Current Issues
Peneliti: Stoking Nilon Efektif Jadi Bahan Tambahan Masker Kain

Current Issues
Coronavirus Bisa Hidup dan Menular di Air, Jika...

Current Issues
Musim Panas Datang, Akankah Virus SARS-Cov-2 Jadi Tak Berdaya?