Current Issues

Menilik 5 Wabah Terparah Sepanjang Sejarah dan Bagaimana Mereka Diakhiri

Ahmad Redho Nugraha

Posted on May 11th 2020

Dunia kini sedang berlomba dengan waktu untuk menemukan vaksin dan obat Covid-19, demi menghentikan pandemi yang menelan ribuan nyawa. Dengan teknologi medis yang ada sekarang, beberapa pakar berpendapat bahwa dibutuhkan waktu setidaknya 18 bulan untuk menciptakan vaksin yang terbaik.

Lantas, bagaimana keadaan dunia dulu kala, saat teknologi dan ilmu kesehatan belum semaju sekarang? Mainmain.id merangkum beberapa wabah yang pernah terjadi di bumi di masa lampau, dan bagaimana wabah tersebut berakhir.

 

 

Wabah Justinian : Menjaga Jarak dengan Penderita

Bakteri yersinian pestis yang menjadi penyebab 3 wabah mematikan (foto:gettyimages)

Di antara semua pandemi mematikan yang pernah melanda umat manusia, terdapat tiga pandemi yang disebabkan oleh satu jenis bakteri, yaitu Yersinia Pestis yang pertama kali disebut dengan Wabah Justinian.

Wabah Justinian pertama kali menyebar lewat Konstantinopel, ibukota Kerajaan Byzantium Timur pada tahun 541 Masehi. Pada kala itu, Byzantium menarik upeti dari wilayah Mesir yang baru saja mereka taklukan.

Upeti berupa gandum yang mereka bawa melintasi Laut Mediterania ternyata turut membawa tikus hitam yang ditempeli oleh kutu pembawa bibit penyakit ini.

Wabah ini membinasakan sebagian besar penduduk Konstantinopel, kemudian menyebar ke seluruh Eropa, Asia, Afrika Utara dan Arab. Setidaknya separuh penduduk bumi pada masa itu, atau 30 juta hingga 50 juta manusia tewas akibat wabah ini. 

"Orang-orang pada waktu itu belum mengetahui cara untuk melawan penyakit itu, selain dengan  menghindari orang lain yang sakit," ujar Thomas Mockaitis, profesor sejarah dari Universitas DePaul. "Saat pandemi berakhir, banyak orang yang selamat, dan mereka memiliki imunitas terhadap penyakit tersebut."

 


Black Death : Pemberlakuan Sistem Karantina Pertama di Dunia

Ilustrasi wabah Black Death (foto:AFP / ┬ęBianchetti / Leemage)

Wabah Justinian rupanya belum benar-benar hilang dari muka bumi. Penyakit yang sama kembali muncul dan menyebabkan pandemi baru 800 tahun setelahnya. Tahun 1347, pandemi baru ini disebut Black Death dan membunuh 200 juta manusia hanya dalam waktu 4 tahun.

Pada masa ini, umat manusia masih belum memiliki pengetahuan ilmiah dalam menangani penyakit tersebut. Namun mereka punya kesadaran untuk menjaga jarak dengan orang yang sakit.

Ragusa, kota yang pada masa itu dikontrol oleh Venesia memberlakukan sistem isolasi bagi pelaut yang baru tiba di wilayah mereka hingga mereka terbukti tidak sedang sakit.

Pada mulanya, para pelaut diharuskan berdiam diri di kapalnya selama 30 hari, dan hukum ini dikenal dengan nama trentino.

Seiring dengan waktu, pemerintah Venesia memutuskan untuk menambah masa isolasi menjadi 40 hari, yang kemudian dikenal dengan nama quarantino atau kini karantina. Sistem yang sama kemudian diadopsi oleh wilayah-wilayah lain.


Wabah London : Pemberlakuan Isolasi Mandiri

Ilustrasi Wabah London (foto:gettyimages)

Sejak wabah Black Death terjadi, London mengalami wabah bertubi-tubi yang terjadi setiap 20 tahun sekali sejak tahun 1348 hingga 1665. Total 40 kali wabah dalam 300 tahun. Pada setiap epidemi tersebut, 20 persen dari penduduk London meninggal.

Pada awal abad ke-15, pemerintah Inggris mulai mewajibkan pemisahan dan isolasi bagi orang-orang sakit. Rumah orang yang terkena wabah ditandai dengan ikatan jerami di tiang depan rumahnya.

Jika seseorang memiliki anggota keluarga yang terkena penyakit tersebut, ia wajib membawa tongkat berwarna putih saat keluar rumah. Kucing dan anjing yang diduga menjadi pembawa bibit penyakit tersebut akhirnya dibantai secara massal.

Wabah London tahun 1665 adalah yang terakhir dan terburuk yang pernah dialami penduduk London, karena membunuh 100.000 warga London hanya dalam waktu 7 bulan. Segala fasilitas hiburan di Inggris ditutup dan penderita penyakit ini dipaksa tinggal di rumah untuk mencegah penyebaran penyakit. Salib merah digambar di depan pintu rumah mereka, lengkap dengan tulisan "Lord have mercy upon us."

Pemberlakuan isolasi di rumah tersebut, walaupun kejam, menjadi kunci untuk mengakhiri wabah tak berujung tersebut.


Cacar Air : Penemuan Vaksin Pertama

dr. Edward Jenner saat menyuntik Hames Phipps dengan vaksin cacar pertama (foto:gettyimages)

Cacar air adalah penyakit endemik di wilayah Eropa, Asia dan Arab selama berabad-abad. Penyakit ini membunuh 3 di antara 10 orang penderitanya, sementara 7 sisanya mengalami cacat kulit berbentuk bintil-bintil kecil.

Meski demikian, cacar air akhirnya masuk ke Benua Amerika pada abad ke-15 melalui penjelajah Eropa, dan angka kematian di Amerika jauh melampaui angka kematian di tempat lain.

Penduduk asli Meksiko dan Amerika Utara tidak memiliki imunitas sama sekali dalam menghadapi cacar air, sehingga virus tersebut membunuh puluhan juta orang di masyarakat mereka.

"Belum pernah ada kematian dalam sejarah umat manusia seperti yang terjadi di Amerika pada masa itu--sekiat 90 hingga 95% penduduk lokal mereka lenyap dalam satu abad," terang Mockaitis. Penduduk Meksiko berkurang jumlahnya dari 11 juta pada masa sebelum penjajahan, menjadi hanya 1 juta.

Beberapa abad kemudian, cacar air menjadi epidemi virus pertama yang berakhir karena penemuan vaksin. Pada akhir abad ke-19, seorang dokter berkebangsaan Inggris bernama Edward Jenner menemukan virus cacar lain yang lebih lemah yang dinamai cacar sapi. Penderitanya ternyata kebal terhadap cacar air.

Jenner kemudian menyuntikkan virus cacar sapi kepada anak penderitanya, kemudian mendekatkannya pada virus cacar air, kemudian tidak terjadi infeksi apapun. “Pemusnahan cacar air, penyakit paling mengerikan bagi uma tmanusia, adalah hasil akhir dari praktik ini," tulis Jenner pada 1801.

Hampir dua abad setelah itu, pada tahun 1980, WHO akhirnya mengumumkan bahwa cacar air telah lenyap dari muka bumi. Cacar air menjadi penyakit pertama yang disembuhkan dengan bantuan vaksin.


Kolera : Pengembangan Sistem Sanitasi yang Higienis

Bakteri kolera dalam tampilan mikroskopis (foto:halodoc)

Sejak awal hingga pertengahan abad ke-19, wabah kolera muncul di Inggris dan membunuh puluhan ribu manusia. Analisis awal pada masa itu menyimpulkan bahwa wabahh ini menyebar lewat udara jelek yang dinamai "miasma".

Namun seorang dokter berkebangsaan Inggris bernama John Snow memiliki dugaan lain. Ia beranggapan bahwa penyakit yang membunuh korbannya dalam hitungan hari tersebut disebabkan oleh air minum.

Snow meneliti catatan medis rumah sakit dan melacak lokasi penyebaran pertama penyakit tersebut. Dia membuat diagram geografis yang menggambarkan lokasi kematian dalam 10 hari, dan menemukan 500 klaster kematian yang berada di sekitar sumur Broad Street, yaitu sumur yang sering digunakan untuk minum oleh masyarakat sekitarnya.

Snow akhirnya menyarankan polisi setempat untuk menyegel sumur itu dan mencabut pompanya, lalu infeksi kolera pun berkurang drastis. Meski hasil investigasi Snow tidak menyembuhkan penyakit kolera, namun usahanya membuktikan pentingnya sanitasi yang higienis dan menjaga sumber air agar tidak terkontaminasi.

Hingga kini, kolera terus diperangi di negara-negara berkembang di seluruh dunia. Penyebaran kolera dapat terjadi karena sistem drainase perkotaan yang buruk dan sulitnya akses masyarakat terhadap sumber air bersih.


Related Articles
Current Issues
Meski Ada Vaksin Covid-19, Kehidupan Diperkirakan Baru Akan Normal Pada 2022

Current Issues
Ilmuwan: Covid-19 Hanya Awal dari "Era Pandemi"

Current Issues
Pedoman Baru CDC Akui Covid-19 Menular Melalui Udara