Current Issues

Aplikasi Covid-19 WHO Dirlis Bulan Ini, Bisa Dimodifikasi Negara Lain

Dwiwa

Posted on May 11th 2020

Badan Kesehatan Dunia saat ini tengah mengembangkan perangkat lunak untuk membantu mengatasi pandemi Covid-19. Hal tersebut sebagai respon dari adanya gap di berbagai negara di dunia terkait aplikasi pelacakan dan deteksi dini gejala Covid-19.

Beberapa negara, seperti India, Inggris, serta Australia diketahui telah mengembangkan beragam aplikasi deteksi dini dan juga pelacakan Covid-19. Tapi di sisi lain, ada pula negara yang tidak memiliki aplikasi apapun untuk membantu mengatasi pandemi yang telah menginfeksi lebih dari 3,9 juta jiwa ini.

Dilansir Engadget, Bernardo Mariano dari WHO mengatakan pada Reuters jika aplikasi deteksi dini gejala Covid-19 kemungkinan dirilis pada Mei ini. Aplikasi tersebut akan menanyakan kepada orang-orang terkait gejala Covid-19 yang mungkin dirasakan. Informasi lain seperti bagaimana untuk bisa mendapatkan tes akan disesuaikan untuk masing-masing negara.

Aplikasi ini memang akan dirilis secara global di platform distribusi aplikasi. Meski begitu, setiap negara bisa mengambil teknologi dasar dari aplikasi kemudian menambahkan fitur dan merilis versi mereka sendiri di toko aplikasi.

Selain itu, WHO juga berencana untuk menambahkan pelacakan kontak dan telah menghubungi Apple dan Google terkait kerja sama penggunaan teknologi pelacakan mereka. Namun menurut Mariano, pertimbangan hukum dan privasi membuat WHO urung menambahkan fitur tersebut.

Apple dan Google memang telah menjanjikan sistem desentralisasi yang membuat data anonim, tetapi masih ada kekhawatiran jika data ini mungkin disalahgunakan untuk menghasilkan keuntungan di kemudian hari .

Aplikasi deteksi dini gejala Covid-19 mungkin menjadi bagian penting dalam menghadapi pandemi. Kehadiran aplikasi WHO ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih baik kepada masyarakat terkait virus corona sehingga lebih banyak orang bisa dites.

Sementara itu, pelacakan kontak secara luas mungkin menjadi penting ketika orang-orang mulai kembali menjalani "kehidupan normal" setelah lockdown dilonggarkan. Hal ini juga dapat membantu pelacakan penyebaran virus lebih akurat dan membantu membatasi cakupan penutupan yang mungkin diperlukan.(*)

 
Related Articles
Current Issues
Covid-19 Disebut WHO 10 Kali Lebih Mematikan Dari Flu Babi

Current Issues
WHO Peringatkan Pandemi Covid-19 Mungkin Masih Bisa Lebih Buruk

Current Issues
WHO: Tak Ada Bukti Orang Sembuh dari Covid-19 Jadi Kebal terhadap Infeksi Kedua