Portrait

Tahukah Kalian, Slovenia adalah Negara Pencinta Lebah

Ahmad Redho Nugraha

Posted on May 10th 2020

Peter Kozmus bukanlah selebriti, atlet, jutawan ataupun politisi. Tapi kepulangannya ke Slovenia dari New York pada 2017 lalu disambut oleh masyarakat Slovenia. Mereka menganggap Cozmus pahlawan, karena ia baru saja menyukseskan sebuah petisi yang menyarankan PBB agar 20 Mei menjadi Hari Lebah Internasional.

Peter Cozmus memang seorang peternak lebah. Lantas mengapa ia bisa disambut bagai pahlawan?

Slovenia adalah negara kecil dengan 2 juta penduduk. Bereternak lebah adalah budaya penduduknya. Bahkan 1 dari setiap 200 warga Slovenia adalah peternak lebah. Itu 4 kali lebih banyak dari skala jumlah peternak lebah di seluruh Eropa.

Hasilnya, madu pun menjadi bahan tidak terpisahkan dari berbagai makanan  Slovenia. Mereka juga menggunakan lebah sebagai media apiterapi, yaitu pengobatan sakit dan luka yang mengandalkan madu dan produk turunannya. 

Populasi lebah madu di dunia, khususnya Eropa dan Amerika, mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Di Eropa misalnya, penurunannya mencapai 17% dari tahun 2000 hingga 2014. Di Amerika Utara, populasinya bahkan turun sebesar 46%.

Selain penggunaan pestisida, pemanasan global menjadi faktor utama dalam depopulasi lebah madu di alam bebas.

Meski demikian, populasi lebah di Slovenia tetap terjaga. Asosiasi Peternak Lebah Slovenia melaporkan kenaikan populasi lebah madu tahunan sebesar 2%, dan terdapat kenaikan jumlah sarang lebah sebesar 57% sejak 2007 hingga 2017 menurut FAO (Food and Agriculture Organization).

Menghadapi pemanasan global yang kini mengancam dunia, warga Slovenia tidak hanya ingin menjadi peternak lebah, tetapi juga berdiri di garis terdepan dalam menghadapi perubahan iklim dengan menyebarkan teknik beternak lebah mereka kepada dunia. "Ini darurat," ujar Kozmus.

Peternakan lebah di Slovenia telah berlangsung sejak abad ke-18, ketika Maria Theresa, ratu dari Kerajaan Habsburg, mendirikan sekolah peternak lebah pertama di dunia dan menunjuk Anton Janša sebagai pengajarnya.

Kini, Janša dikenal sebagai pionir dalam apikultur modern, dan Å½irovnica, tempat asalnya, merupakan tempat awal bermulanya budaya ternak lebah Slovenia. Nah, 20 Mei yang merupakan tanggal lahirnya kini diperingati sebagai Hari Lebah Dunia.

"Di Slovenia, peternak lebah bukan hanya memelihara lebah madu untuk menghasilkan madu dan uang, tetapi karena mereka memang mencintai lebah," ujar Blaz Ambrozic, seorang peternak lebah yang mewarisi ilmunya dari paman buyutnya saat ia masih berusia 11 tahun.

Asosiasi Peternak Lebah Slovenia yang dibentuk sejak 1873 memiliki 8.000 orang anggota. Kegiatan mereka antara lain bervariasi dari mengadakan kelas peternak lebah di sekolah-sekolah hingga melakukan kampanye nasional dalam mempromosikan hidangan sarapan khas Slovenia yang berbahan madu.

Pengaruh organisasi ini mulai menguat sejak 10 tahun lalu, ketika peternak lebah Slovenia melaporkan bahwa banyak lebah mereka yang mati. Mereka menemukan bahwa pestisida neonikotinoid, yaitu insektisida berbahan nikotin pada tanaman petani merupakan penyebab utamanya.

Meski tidak memiliki bukti ilmiah, naluri para peternah lebah tersebut dipercaya oleh Menteri Pertanian Slovenia waktu itu, yaitu Dejan Å½idan. Slovenia pun resmi melarang penggunaan insektisida berbahan neonicotinoid sejak tahun 2011, dan menjadi negara pertama di Eropa yang melakukannya.

"Peternak lebah Slovenia sama aktifnya dengan peternak lebah Perancis dalam membuka wawasan semua orang," ujar Jeff Petis, presiden Apimondia, Federasi Internasional Persatuan Petani Lebah.

Di negara lain, para politisi mungkin tidak akan mendengarkan aspirasi dari peternak lebah, Tapi di Slovenia, peternak lebah memiliki kekuatan demografisnya sendiri dalam menentukan arah konstitusi.

"Karena ada banyak sekali peternak lebah disini, kami jadi memiliki kekuatan," ujar Kozmus, yang kini mengepalai dewan peternak lebah di Kementerian Pertanian Slovenia. "Para politisi tidak akan berani marah pada komunitas peternak lebah, karena dalam pemilihan umum, peternak lebah adalah bagian penting dari pemberi suara."

Masyarakat Slovenia beternak lebah berdasarkan tradisi kuno mereka dan tetap memelihara lokalitas dalam praktiknya. Pada tahun 2002, pemerintah memberikan status konservasi kepada lebah madu Carniola, yaitu lebah madu endemik Slovenia.

Pemerintah juga melarang impor spesies lain lebah madu untuk menghindari kemunculan penyakit baru, kemudian mendanai program perkawinan spesies lebah Carniola. Hingga kini, lebah madu Carniola menjadi satu-satunya spesies lebah madu yang dilindungi di seluruh Uni Eropa. 

Sikap pemerintah Slovenia yang fokus pada lebah lokal menjadi faktor mereka sukses beternak lebah. Negara-negara lain seperti Amerika Serikat cenderung mengimpor jenis lebah madu dari negara lain.

Spesies lebah madu tersebut ternyata tidak bisa beradaptasi di lingkungan baru mereka dan menjadi lebih rentan terserang penyakit. Dengan kondisi perubahan iklim seperti sekarang, banyak ahli yang berpendapat bahwa spesies lebah madu yang diimpor akan lebih sulit beradaptasi di lingkungan yang berbeda. 

Slovenia juga mempromosikan tipe sarang lebah mereka yang unik, yaitu "AŽ" yang merupakan inisial dari nama penemunya Anton Žnideršic. Masyarakat Slovenian menggunakan desain kandang AŽ dalam membudidayakan lebah madu carniola mereka.

Sarang AŽ yang berbentuk menyerupai laci sangat populer di AS karena membuat peternaknya dapat mengawasi lebah mereka dengan lebih efektif dan berhati-hati. Sarang ini juga tahan terhadap musim dingin, termasuk angin yang kencang dan temperatur yang dingin, sehingga cocok dalam menghadapi perubahan iklim yang tidak menentu.

Karena ukuran sarang AŽ yang lebih kecil, peternak lebah Slovenia dapat menemukan masalah pada lebah ternak mereka dengan lebih gampang. 

"Di AS, peternak lebah memiliki ribuan sarang untuk diawasi," tukas Willian Blomstedt, peternak lebah Amerika yang tinggal di Slovenia. "Tapi disini, peternak lebah memiliki lebih sedikit sarang lebah, tapi mereka bisa mengawasi dan merawat lebah mereka dengan lebih baik."

Setelah lobi selama tiga tahun, PBB akhirnya memproklamirkan 20 Mei sebagai Hari Lebah Internasional pada 2017 lalu. Kini, semua orang dan organisasi yang bekerja dalam program pelestarian lebah madu memiliki momen tersendiri khusus untuk menumbuhkan kesadaran internasional tentang pentingnya peran lebah madu dalam suatu tatanan ekologi. 

"Kami tidak ingin Hari Lebah Internasional hanya menjadi momen perayaan, karena belum ada yang bisa kita rayakan untuk saat ini," ujar Kozmus. “Kami ingin ini menjadi hari tersebut menjadi alat untuk mengingatkan manusia bahwa keberadaan lebah sangat penting." (*)

 

Related Articles
Interest
8 Museum Mobil Ini BIsa Kamu Kunjungi Secara Virtual Selama Pandemi

Current Issues
Gelombang Pertama Masih Berlanjut, WHO Peringatkan Covid-19 Bukan Musiman

Current Issues
Kasus Covid-19 di Amerika Cetak Rekor. Sehari, Catatkan 83 Ribu Pasien Positif