Tech

Kata Peneliti Belanda, Antibodi Jenis Ini Berpotensi Tangkal Infeksi Coronavirus

Ahmad Redho Nugraha

Posted on May 6th 2020

Ilmuwan baru-baru ini menemukan jenis antibodi yang diduga dapat mencegah coronavirus dari menginfeksi sel tubuh manusia. Tim peneliti ini berharap antibodi tersebut bisa digunakan untuk menciptakan metode pengobatan baru dalam menangani Covid-19. 

Tim peneliti yang mempublikasikan tulisannya via jurnal Nature Communication ini telah mengamati apakah antibodi monoklonal dapat membantu pasien Covid-19 dalam proses penyembuhan. Antibodi monoklonal adalah jenis protein artifisial yang dapat mengikat jenis senyawa tertentu ke dalam tubuh. Antibodi ini meniru sistem imun tubuh saat merespons ancaman dan digunakan dalam pengobatan beberapa jenis kanker.

Antibodi monoklonal dengan nama 47D11 itu digunakan untuk mengikat protein tonjolan (spike protein) yang selama ini digunakan oleh SARS-CoV-2 --virus penyebab Covid-19-- untuk masuk ke dalam tubuh manusia, kemudian menghalanginya untuk masuk dengan menetralisir patogennya.

Dalam penelitiannya, para ilmuwan mengujicobakan penggunaan antibodi tersebut kepada tikus putih. Mereka menyuntikkan protein tonjolan yang dapat diinfeksi oleh Covid-19 tersebut kepada tikus, yang kemudian memproduksi 51 jenis antibodi untuk menetralisir protein tonjolan yang diifeksi oleh coronavirus.

Para peneliti kemudian menemukan bahwa 47D11 adalah antobodi yang dapat menangkal infeksi coronavirus.

Bereng-Jan Bosch, salah satu penulis dalam penelitian tersebut yang berasal dari program pendidikan imunitas dan infeksi Universitas Utrecht menjelaskan, penelitian tersebut merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya yang ia dan timnya lakukan terkait SARS-CoV, virus penyebab SARS.

"Melalui kumpulan antibodi SARS-CoV ini, kita bisa mengidentifikasi bahwa antibodi yang sama ini juga dapat dipergunakan untuk menetralisir infeksi yang disebabkan SARS-CoV-2 dalam sebuah jaringan sel. Antibodi penetralisir ini berpotensi untuk mengubah infeksi pada tubuh penderita (Covid-19), membantu pemberantasan virus atau melindungi individu yang belum terinfeksi oleh virus," jelas Bosch.

Peneliti lainnya, Frank Grosveld, Profesor di Bagian Biologi Sel Pusat Kesehatan Erasmus Rotterdam mengatakan bahwa penemuan tersebut dapat menjadi landasan awal dalam penelitian-penelitian berikutnya untuk menciptakan alternatif pengobatan Covid-19 terbaru.

Penemuan tersebut disambut baik oleh beberapa ahli, namun juga memperoleh kritik karena keterbatasan dalam pengujiannya. 

Penny Ward, profesor Obat-obatan Farmasi di King's College London mengatakan, antibodi memang berpotensi untuk digunakan mencegak infeksi SARS-CoV-2. Meski demikian, tanpa penelitian lebih lanjut yang melibatkan hewan sebagai sampelnya, masih belum jelas mana pendekatan yang paling efisien dalam penggunaan antibodi ini.

"Penemuan tersebut akan dapat lebih dimanfaatkan jika tim penelitinya dapat mencegah dan mengobati Covid-19 pada jenis hewan tertentu," ujar Ward.

Lain halnya dengan pendapat Gary McLean, profesor di bidang Imunologi Molekular Universitas London Metropolitan. Kata dia, keterbatasan penelitian ini muncul karena belum ada ujicoba kepada manusia dan sejauh yang kita tahu.

"Memang belum diketahui apakah antibodi sejenis pernah ditemukan pada tubuh manusia atau tidak. Meskipun begitu, penelitian ini dilakukan dengan baik dan menunjukkan adanya potensi alternatif baru yang bisa digunakan untuk mengobati Covid-19," ujar McLean.

Hasil penelitian ini melengkapi penelitian lain yang menguji apakah teknik terapi kuno "plasma konvalesen" dapat dimanfaatkan untuk mengobati Covid-19. Terapi plasma konvalesen adalah teknik pengobatan di mana darah dari penderita Covid-19 yang sudah sembuh disuntikkan kepada pasien penderita Covid-19 yang belum sembuh, dengan harapan darah tersebut dapat membantu proses penyembuhan.

Terapi plasma konvalesen tentu tidak lagi efisien, karena antibodi yang diperoleh lewat darah penderita Covid-19 yang sudah sembuh dapat dibuat sendiri di laboratorium. Penelitian ini masih perlu didukung dengan penelitian-penelitian lain yang lebih lanjut, karena menyuntikkan antibodi ke tubuh manusia memiliki risiko tersendiri, dan itu perlu dipelajari lewat percobaan klinis lainnya.(*)

Artikel Terkait
Current Issues
Penelitian: Kekebalan Antibodi Pasca Covid-19 Menurun dari Waktu ke Waktu

Current Issues
Peneliti: Penyintas Covid-19 Tidak Mungkin Tertular Lagi Hingga Enam Bulan

Current Issues
Berapa Lama Sih Kemungkinan Kita Kebal Terhadap Covid-19?