Tech

Ternyata di Zaman Mesir Kuno Sudah Ada Bisnis Pemakaman dan Mumifikasi

Ahmad Redho Nugraha

Posted on May 6th 2020


Tahun 2018, sebuah penemuan arkeologis di Saqqara, sebuah kota mati di tepian Sungai Nil sempat menjadi headline di beberapa media internasional. Tim arkeolog pada waktu itu menemukan sebuah "rumah pemakaman" yang terkubur jauh di bawah pasir.

Dua tahun sejak saat itu, para peneliti terus melakukan penelitian. Mereka pun menemukan hal-hal baru terkait dari analisa yang dilakukan di situs tersebut. Salah satunya adalah adanya "komersialisasi" pengurusan mayat di zaman Mesir kuno. Wah, sudah seperti zaman sekarang aja ya?

Penemuan di Saqqara itu memang membuka fakta baru terkait makam-makam kuno di Mesir. Selama ini penelitian yang ada hanya  berfokus meneliti makam-makam kerajaan Mesir kuno. Bukan kepada detil kehidupan mumi dari waktu ke waktu.

"Dari hasil analisa arkeologis yang kami temukan membuktikan bahwa para pembalsam mayat di zaman Mesir kuno sudah memiliki kesadaran berbisnis," ujar Ramadan Hussein, seorang egyptolog dari Universitas Tübingen, Jerman. "Mereka pandai dalam mencari alternatif," imbuhnya.

Ternyata pada masa lampau, memumikan jenazah dapat menelan biaya yang tidak sedikit, terutama karena harus melibatkan material logam mulia seperti perak dan emas sebagai aksesoris mumi.

Kata Hussein, mumifikasi juga biasanya menggunakan stoples dari batu pualam putih untuk mengawetkan isi perut jenazah. Penemuan di situs Saqqara menunjukkan bahwa penggunaan material yang mahal pada sesi pemakaman yang "mewah" tersebut dapat diganti dengan semen putih, kertas emas, dan kendi tanah liat biasa.

Hussein mulai meneliti situs Saqqara sejak 2016 lalu untuk mencari kuburan yang bertanggal 600 SM, jauh di bawah tanah situs Saqqara. Pekerjaan Hussein dan timnya didokumentasikan dalam empat serial terbaru National Geographic yang berjudul "Kingdom of the Mummies" yang ditayangkan perdana di Amerika Serikat pada 12 Mei mendatang.

Saat menyelidiki wilayah yang terakhir diteliti pada akhir 1800-an silam, Hussein dan timnya menemukan sebuah liang yang ditimbun batu besar, dipenuhi dengan pasir dan reruntuhan. Setelah menyingkirkan penutup batu sebesar 42 ton tersebut, mereka menemukan sebuah ruangan beratap tinggi yang terletak sekitar 40 kaki di bawah mereka.

Ruangan tersebut berisi ribuan keping tembikar yang kemudian dipindahkan dan didokumentasikan dengan hati-hati selama berbulan-bulan lamanya.

Setelah ruangan tersebut kosong, barulah Hussein dan timnya sadar bahwa ruangan tersebut bukan makam. Ruang tersebut kurang lebih berisi sebuah meja batu yang tinggi, terowongan udara kecil di tembok serta mangkuk batu besar berisi arang, abu dan pasir hitam.

Hussein dan timnya menduga bahwa tempat itu merupakan bengkel mumifikasi, lengkap dengan tungku pembakar jenazah, saluran pembuangan darah dan ventilasi udara.

"Setiap cangkir dan mangkuk tembikar berisi zat tertentu yang digunakan untuk proses pembalsaman," terang Hussein. "Instruksi penggunaannya tertulis langsung di wadahnya."

Penemuan ini menjadi acuan baru bagi para peneliti dalam memandang praktik pemakaman bangsa Mesir kuno, termasuk mengenai ritus bertuah mereka dalam mumifikasi.

“Sangat sedikit bengkel (pemakaman) yang digali dengan baik selama ini,” terang Dietrich Raue, kurator dari Museum Bangsa Mesir di Universitas Leipzig. “Itu menciptakan celah besar dalam pemahaman kita.”

Penemuan-penemuan di situs Saqqara, menurut Hussein, berhasil menutupi celah pengetahuan tersebut. “Untuk pertama kalinya, kami bisa membahas mengenai arkeologi pembalsaman.”

Bangsa Mesir kuno percaya bahwa tubuh akan tetap menjadi “wadah” bagi ruh di kehidupan alam baka. Jadi, pembalsaman jenazah merupakan kombinasi dari ritual sakral dan prosedur medis.

Proses pembalsaman dilakukan dengan berbagai aturan, mulai dari upacara-upacara khusus hingga pembacaan doa-doa tertentu selama 70 hari masa yang dibutuhkan untuk membuat jenazah menjadi mumi.

Jasad mumi dikeringkan dengan garam khusus. Organ-organ dalamnya juga dikeluarkan dan disimpan dalam stoples batu. Terakhir, mumi dibalut dengan sutra, kemudian dikuburkan beserta dengan perhiasan-perhiasan mahal yang diyakini akan menjadi harta benda mereka di kehidupan berikutnya.

Piramida para firaun dan perhiasan emas dari makam Raja Tutankhamun adalah bukti nyata bahwa upacara pemakaman Bangsa Mesir Kuno dapat menjadi sangat mahal.

“Ini semua (proses pemakaman) adalah sebuah industri yang besar,” tambah Hussein.

Di situs Saqqara, berbeda dengan piramida-piramida besar di Mesir, banyak di antara mumi yang dimakamkan sesuai dengan “budget” keluarga mereka masing-masing. Pengurus jenazah di masa Mesir kuno tampaknya menawarkan diskon khusus untuk beberapa kalangan masyarakat tertentu yang hidup pada masa itu.

Masih di situs Saqqara, pada liang kubur yang lain, tim Hussein menemukan ruang makam lain yang berisi sekitar 50 mumi dengan gaya pemakaman yang berbeda. Di dasar makam yang terkubur hampir 100 kaki di bawah tanah tersebut, mumi seorang perempuan tersimpan dalam sebuah peti mati yang terbuat dari batu gamping.

Tak jauh dari sana, mumi perempuan lainnya dihiasi topeng dari emas dan perak, kemungkinan itu adalah perhiasan topeng pertama yang ditemukan di Mesir dalam 50 tahun terakhir.

Pada liang makam yang lain, sekelompok mumi yang diduga berasal dari kalangan pekerja atau tenaga kesar dimakamkan dalam peti sederhana yang terbuat dar kayu, atau hanya dibalut sutra dan ditempatkan dalam lubang pasir.

“Orang-orang harus datang setiap pekannya untuk memberi persembahan kepada jenazah, agar mereka bisa bertahan hidup di alam baka,” ujar Koen Donker van Heel, Egyptolog dari Universitas Leiden yang telah mempelajari kontrak pemakmaan antara pemuka agama dan keluarga jenazah Bangsa Mesir Kuno selama bertahun-tahun. “Pada dasarnya, orang mati berarti uang bagi mereka.”(*)

Related Articles
Interest
Ternyata Ritual Skincare dan Makeup Sudah Ada Sejak Zaman Mesir Kuno

Current Issues
Pemerintah Italia Pugar Habis-habisan Kota Bersejarah Bernama Pompeii

Tech
Ilmuwan Manfaatkan CT Scanning X-Ray untuk Teliti Mumi Binatang