Entertainment

FMF 2018: Efek Rumah Kaca Menutup Hari Pertama secara Sempurna

Jean Marais

Posted on August 10th 2018

            Sekitar ada lebih 5.000 lautan manusia hilir mudik menembus kesejukan kota Batu. Ada yang berdandan ala hippies lengkap dengan bandana warna warni dan kaos tie dye. Sebagian lain justru lebih tampak seperti pengelola villa daripada pengunjung konser; berselimut sarung, topi kupluk a la vokalis Jamrud dan mantel tebal. Apapun identitas yang mereka sematkan, Folk Music Festival adalah alasan mereka hadir diatas rerumputan Agropark, sore itu (4/8)

            Itu adalah hari pertama festival. Dan penonton pun tampak begitu antusias dengan sederet talenta bernas yang dijadwalkan akan tampil pada hari itu. Gardika Gigih, seorang pianis tunggal asal Yogyakarta membuka pertunjukan dengan paripurna. Denting-denting yang lahir dari jemarinya, membius penonton untuk larut dan tidak berhenti terpukau lewat penampilan seorang Gardika Gigih.

            Seraya duduk diatas tikar atau beralaskan rumput, penonton tampak khidmat menyaksikan alunan syahdu dari grand piano diatas panggung. Siang pun terlewat dengan cepat, dan sore pun tiba-tiba tergelincir menjadi malam. Diantara jeda, Tiga Pagi, sebuah kolektif folk bernuansa muram membuka kembali pertunjukan lewat nomor-nomor di album Roekmana’s Repertoire.

 Ia pun mendapuk Danilla, seorang solois perempuan, untuk berbagi panggun dengan membawakan nomor barunya, yang berjudul Tidur Bersama. Penonton pun sebagian berteriak histeris. Karena ini adalah momentum yang tidak bisa ditemukan di konser-konser lain. Lalu setelahnya, giliran Danilla yang ambil alih pertunjukan, dan dilanjutkan oleh Pusakata sebelum akhir acara tiba.

Dipuncak pertunjukan hari pertama, Efek Rumah Kaca di dapuk sebagai penutup. Di belantika music alternatif, nama ERK (Efek Rumah Kaca) tentu sudah terhitung gaek. Sebagai band yang cukup monumental, mereka membuka set malam itu dengan nomor Lagu Kesepian. Tanpa basa-basi, Cholil dan kawan-kawan lain langsung mengeber lagu tersebut tanpa tedeng aling-aling.

Penonton yang semula duduk dan bermalas-malasan, seketika bangkit berdiri. Ajaibnya, keputusan ini seolah menjadi kesepaktan bersama. Tanpa dikomando dari atas panggung, mereka bersepakat untuk menikati Efek Rumah Kaca dengan berdiri saja. Gemuruh tepuk tangan pun mulai hadir tatkala Adrian, bassist pertama mereka diundang ke atas panggung. Ada perasaan haru yang terjadi saat itu. Penonton pun tampak cukup rindu keberadaan seorang Adrian, diatas panggung Efek Rumah Kaca.

Tanpa butuh waktu lama, setelahnya, mereka memilih lagu teranyar mereka, Seperti Rahim Ibu. Adrian diberi kesempatan oleh Cholil untuk mulai turut menyumbang suara. Ada perasaan gemetar; penampilan mereka tidak pernah secantik ini. Malam itu, lagu yang mulanya biasa-biasa saja, tiba-tiba menjadi sangat syahdu. Seolah mengandung unsur magis di dalamnya. Hingga puncaknya, ada beberapa penonton pun dibuat bersedu sedan oleh penampilan Adrian.

Dan pada saat nomor Jingga, sebuah lagu yang menarasikan tentang korban-korban penculikan reformasi ’98 yang hingga hari ini belum ditemukan. Tiba-tiba mereka mengepalkan tangan di atas langit pertunjukan. Yang kemudian, tanpa dikomando, penonton pun turut serta. Kepalan tangan disatukan, untuk menutut keadilan yang hingga hari ini masih menemui jalan buntu. Kepalan yang semula berjumlah puluhan, lantas menjadi ratusan, dan kemudian bertambah menjadi ribuan.

Setelah Jingga dipungkasi, mereka kembali mengajak audiens larut dalam nostalgia dua album pertama mereka. Sebelum kembali memainkan lagu dari album Sineastia dan menutup malam pertama Folk Music Festival dengan sempurna.

Lebih dari sekedar sosok legenda hidup, disini Efek Rumah Kaca berhasil mengorganisir massa untuk tetap merawat ingatan. Ada gagasan besar yang diemban oleh lagu-lagu mereka. Dan susunan rundown Folk Music Festival 2018 menempatkan mereka sebagai pemungkas acara, adalah keputusan sempurna. Efek Rumah Kaca berhasil menutup malam pertama dengan paripurna.

Artikel Terkait
Entertainment
Menyemai Senja bersama Daramuda

Entertainment
Reda Gaudiomo : Terus Menghidupi Puisi Meski Tanpa Ari

Entertainment
Lagu-Lagu Bertema Desember ini Mungkin Menarik Masuk Playlistmu