Current Issues

Sekolah Dibuka Kembali, Siswa Tiongkok dan Korsel Wajib Pakai Masker saat Masuk

Dwiwa

Posted on May 5th 2020

Meskipun jumlah kasus Covid-19 di berbagai belahan dunia terus meningkat, tetapi sebagian negara sudah mulai melonggarkan aturan lockdown yang diberlakukan. Di antaranya adalah Tiongkok dan Korea Selatan. Mereka sudah mulai menjalani kehidupan “normal”.

Sekolah-sekolah yang sempat diliburkan saat awal pandemi kini mulai dibuka kembali. Akan tetapi, dalam kehidupan “normal” yang baru ini tentu tidak sama dengan sebelum pandemi Covid-19 datang. Semua orang wajib memakai masker, termasuk ketika ke sekolah.

Dilansir South China Morning Post, sekolah di Tiongkok sudah kembali dibuka sejak minggu lalu. Sekolah menengah di kota-kota besar seperti Shanghai, Beijing dan Guangzhou mulai beroperasi. Tentu saja mereka semua siswa yang datang menggunakan masker, bahkan ketika berolahraga.

Berdasarkan pedoman yang dikeluarkan bulan Maret, dikatakan jika semua orang harus menggunakan masker sekali pakai saat berada di dalam ruangan. Selain itu mereka juga harus menjaga jarak minimal tiga meter dari orang lain di daerah dengan risiko sedang dan rendah, yang saat ini berada hampir di semua wilayah Tiongkok.

Di dalam panduan tidak ada kewajiban memakai masker di luar ruangan kecuali ada perkumpulan dalam jumlah besar. Meski begitu, sejumlah sekolah menerapkan aturan agar para siswa menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.

Namun profesor Bai Chunxue, spesialis penyakit pernafasan di Rumah Sakit Zhongsan di Shanghai mengatakan itu tidak berguna dan tidak perlu. “Pertama, jumlah kasus impor sangat terbatas dan beberapa kasus domestik berkaitan dengan mereka. Pada dasarnya saat ini sudah aman,” ujarnya.

Kemudian alasan kedua, virus ini tidak dapat ditangkal kecuali kalian menggunakan masker N95 secara benar, yang tidak mungkin dilakukan, terutama oleh anak sekolah. Selain itu, menggunakan masker terlalu lama dapat menyebabkan resistensi pernafasan meskipun tidak sampai membahayakan.

“Dibanding kewajiban menggunakan masker, lebih penting untuk meminimalisir jumlah orang yang berhubungan dengan staf dan murid,” tambahnya. Sementara itu di Korea Selatan, Reuters memberitakan jika sekolah baru akan dibuka secara bertahap mulai tanggal 13 Mei.

Meski begitu, otoritas kesehatan setempat mengingatkan untuk tetap waspada tentang kemungkinan terjadinya peningkatan infeksi dengan sekitar 5,5 juta siswa SD, SMP, dan SMA kembali belajar bersama di ruang kelas. Mereka juga melakukan latihan tiruan dan membuat pedoman untuk berjaga-jaga.

“Saat ini kami tengah dalam persiapan untuk membuka sekolah kembali sembari mengelola risiko penyakit ini. Jika ditemukan ada seorang siswa yang terinfeksi, otoritas kesehatan akan mengambil tindakan dan sekolah akan kembali diganti kelas online,” ujar Menteri Pendidikan Yoo Eun-hai dalam sebuah konferensi pers.

Siswa sekolah menengah atas yang sedang mempersiapkan diri untuk ujian masuk perguruan tinggi tahunan yang sangat kompetitif diijinkan untuk kembali menghadiri kelas mulai 13 Mei. Sementara untuk siswa yang lebih muda, akan mulai kembali sekolah antara 20 Mei dan 1 Juni.

Saat sekolah kembali dibuka, guru dan murid diwajibkan untuk menggunakan masker, kecuali saat makan. Selain itu mereka harus selalu membersihkan meja dan menjaga jarak saat bergerak.

Disinfeksi secara rutin juga harus dilakukan sekolah. Termasuk melakukan pengecekan suhu tubuh dan mengatur ulang tempat duduk. Pengumuman ini muncul sehari setelah pemerintah berencana melonggarkan aturan jaga jarak mulai 6 Mei. Beberapa fasilitas publik seperti museum dan perpustakaan pun bersiap untuk kembali dibuka.

Menurut survey yang dilakukan kementerian pendidikan, ide dibukanya kembali sekolah disetujui oleh mayoritas orang tua dan guru. Korea Selatan sendiri menjadi salah satu negara yang berhasil menurunkan jumlah tingkat infeksi harian dengan cukup cepat.

Pusat Pengendalian Penyakit Korea (KCDC) mencatat hanya ada 8 kasus baru pada hari senin dan semuanya adalah pendatang. Ini menjadikan jumlah kasus secara nasional menjadi 10.801 dengan 252 kematian.

“Kami tidak percaya jika ada kemungkinan terjadi wabah massal saat sekolah kembali dibuka, tetapi kami tidak bisa mengabaikannya,” ujar direktur KCDC Jeong Eun-kyeong di tempat terpisah.

Terkait penggunaan masker selama pandemi, ada beberapa pendapat yang dikemukakan para ahli. Misalnya saja spesialis bedah umum di Amerika Serikat tidak menyarankan masker digunakan orang sehat.

Sedangkan National Health Service di Inggris menyebut jika sedikit bukti tentang keuntungan pengunaan masker bagi masyarakat luas.

Sementara itu otoritas kesehatan Tiongkok mengatakan pendekatan berbasis risiko harus dilakukan terkait penggunaan masker bagi para petugas medis dan masyarakat umum. (*)

Artikel Terkait
Current Issues
Banyak yang Sembuh Lalu Positif Lagi, Bisakah Kita Tertular Covid-19 Dua Kali?

Current Issues
WHO Resmi Sebut Coronavirus Berasal dari Hewan, Bukan Kebocoran Laboratorium

Current Issues
Punya 4 Barang Ini? Tambahkan di Masker Kainmu, Bisa Jadi Filter Ampuh!