Current Issues

Amankah Periksa Ke Rumah Sakit Saat Pandemi Covid-19?

Dwiwa

Posted on May 5th 2020

Semenjak pandemi Covid-19 menyebar luas, kekhawatiran orang-orang akan tertular juga semakin meningkat. Sebisa mungkin, mereka berusaha menghindari tempat-tempat yang mungkin bisa menjadi sumber penularan. Salah satunya adalah rumah sakit.

Tapi benarkah rumah sakit menjadi tidak aman saat pandemi? Haruskah kita menghindar dari rumah sakit jika mengalami kondisi darurat?

Dokter Patricia Best, seorang profesor penyakit dalam dan penyakit kardiovaskuler di Mayo Clinic College of Medicine and Science di Ronchester Minnesota mengatakan hal itu tidak perlu. Sebab, rumah sakit telah meningkatkan prosedur keamanan dalam berbagai cara.

“Dengan pandemi yang mungkin saja berlangsung berbulan-bulan, atau mungkin lebih dari satu  tahun, kami harus memastikan jika semua orang mendapatkan perawatan tepat waktu untuk semua yang mereka butuhkan,” ujarnya.

Hal ini berarti jika memang ada kondisi yang membutuhkan bantuan tenaga medis dengan segera dan harus memanggil ambulans, maka lakukanlah.

Sayangnya, hal ini tidak dilakukan oleh semua orang. Sebuah penelitian di Jurnal American College of Cardiology di bulan April menyebut jika jumlah kasus serangan jantung serius yang dikenal dengan STEMI yang dibawa ke RS mengalami penurunan 38 persen terhitung sejak 1 Maret.

Dalam laporan yang diperoleh, orang-orang secara khusus menjadikan kekhawatiran akan virus corona sebagai alasan menghindari rumah sakit.

Dokter Phillip L. Coule, wakil presiden dan kepala petugas medis di Augusta University Health System di Georgia menyatakan jika jumlah pasien yang datang ke rumah sakitnya menurun antara 25 persen hingga 40 persen.

“Beberapa di antaranya didorong oleh rasa takut. Tentu saja sebagian diantaranya merupakan kasus pilihan yang dibatalkan, prosedur yang ditunda dan hal lain yang sejenis. Tetapi aku yakin jika sebagian diantaranya tidak datang berobat karena khawatir akan potensi tertular Covid-19,” ujarnya.

Phillip pun menyebut jika itu justru ide yang buruk. Sebab, risiko seseorang mengabaikan serangan jantung dan stroke jauh lebih besar dibanding tertular Covid-19 dan mencari pertolongan medis.

Bahkan menurut profesor kedokteran di Boston University School of Medicine, dokter Alice Jacobs menyebut ini berlaku di semua tempat, termasuk daerah zona merah.

“Perawatan cepat adalah kunci. Hubungan antara membuka arteri yang tersumbat penyebab serangan jantung dan peluang kematian diukur dalam hitungan menit,” ujarnya. Terlebih, saat ini para petugas rumah sakit juga harus menerapkan protokol pemeriksaan Covid-19 yang cukup memakan waktu.

Akan tetapi, Alice mengatakan jika semua proses darurat saat ini sedang beradaptasi. Menurut penulis utama pedoman baru perawatan STEMI selama pandemi yang dirilis oleh AHA itu, persiapan dimulai dari ambulans, yang selalu didisinfeksi dan dipersiapkan dengan protokol Covid-19.

Sementara di tempat Phillip bekerja, pasien dengan gejala Covid-19 dipisahkan melalui pintu masuk khusus di ruang gawat darurat. Dengan begitu, mereka tidak akan tercampur dengan pasien lain yang tidak terdeteksi Covid-19.

Di Mayo Clinic, laboratorium kateter tempat Patricia menangani pasien dengan gangguan jantung, juga melakukan perubahan protokol. Pasien yang datang akan disambut oleh petugas medis dengan alat pelindung diri (APD) lengkap, termasuk membatasi keluarga pasien.

Pedoman STEMI sementara, yang juga ditulis Patricia, menyarankan prosedur yang lebih bersih serta mengurangi jumlah tenaga medis yang berpotensi terpapar pasien berisiko. Para ahli lain juga telah mengeluarkan pedoman sementara dari AHA untuk melindungi pasien stroke.

Dokter keluarga ataupun klinik kesehatan mungkin bisa menjadi alternatif untuk pemeriksaan yang lebih aman. Tetapi untuk kasus yang benar-benar darurat, orang tetap harus datang ke instalasi gawat darurat apapun yang terjadi.

Delapan organisasi kesehatan di Amerika Serikat, termasuk American College of Cardiology, Heart Rhytm Society dan AHA menegaskan jika menghubungi layanan darurat secepatnya adalah cara terbaik untuk bisa bertahan atau menyelamatkan nyawa.

Phillips yang sebenarnya merupakan pendukung telemedicine dan lebih menyarankan untuk menggunakan dokter pribadi pun setuju dengan saran tersebut. Terutama untuk mereka yang memiliki gejala serangan jantung dan stroke.

“Mereka adalah pasien yang harus ditangani di tempat yang memenuhi syarat dan mampu merawatnya,” ujar Philips. Dia sendiri sempat ragu untuk periksa ke instalasi gawat darurat saat mengalami nyeri dada.

Tetapi keraguan itu tidak lama. Dia kemudian datang ke instalasi gawat darurat, mendapatkan evaluasi jantung dan semuanya baik-baik saja. Keesokan harinya dia bahkan sudah bisa kembali bekerja.

Ketakutan akan tertular Covid-19 memang wajar. Tetapi Philips justru khawatir tentang adanya gelombang orang-orang yang menunda perawatan dan pengobatan karena hal ini.

“Aku akan memberi tahu orang tuaku, keduanya adalah survivor penyakit jantung, jika mereka membutuhkan penanganan medis, aman untuk datang (ke rumah sakit) dan mendapatkan penanganan. Aku tidak akan khawatir tentang keamanan mereka atau potensi tertular virus Covid-19 di rumah sakit,” tambahnya. (*)

Related Articles
Current Issues
WHO Resmi Sebut Coronavirus Berasal dari Hewan, Bukan Kebocoran Laboratorium

Current Issues
Lockdown Dibuka, di Wuhan Ada Kasus Baru, di Jerman Penderita Meningkat

Current Issues
Harimau Kebun Binatang Bronx Positif Covid-19, Ternyata Begini Cara Ngetesnya...