Sport

Masuk Nominasi Stadion Termegah di ASEAN, Ini Fakta SUGBK yang Perlu Kamu Tahu

Dwiwa

Posted on May 4th 2020


Baru-baru ini, nama Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) kembali menjadi perbincangan hangat. Meski seluruh kegiatan olahraga di tempat tersebut terhenti sementara karena pandemi Covid-19, kemegahan SUGBK tetap tidak bisa diabaikan. Apalagi setelah Federasi Sepakbola Asia (AFC) memasukkan SUGBK ke dalam nominasi stadion termegah di ASEAN.

Dalam situs resminya, AFC juga menuliskan empat stadion megah lain yang ada di kawasan ASEAN. Keempat stadion itu adalah Stadium Australia di Sydney, National Stadium di Malaysia, My Dinh Stadium di Vietnam, dan Rajamanggala Stadium di Thailand. 

SUGBK sendiri telah menjadi kebanggaan Indonesia sejak lama. Berbagai perhelatan olahraga berskala internasional pun sudah berkali-kali diadakan di stadion yang menjadi bagian dari kompleks Gelanggang Olahraga Bung Karno.

Lalu kira-kira seberapa kenal sih kalian dengan SUGBK ini? Jangan-jangan hanya tahu kalau stadion ini sering digunakan untuk pertandingan sepak bola saja.

Nah biar kalian semakin kenal dengan stadion kebanggaan ini, simak yuk fakta-fakta menarik yang telah tim Mainmain.id kumpulkan dari berbagai sumber berikut.

1. Dibangun era presiden Soekarno

Pembangunan SUGBK mulai dilakukan pada awal 1960 atas ide dari presiden Soekarno. Pada awal dibangun, stadion rancangan Frederich Silaban ini didesain untuk mampu menampung 110 ribu penonton. Untuk bisa membangun stadion sebesar itu, setidaknya dibutuhkan dari sekitar USD 12,5 juta dengan 12 ribu pekerja.

Hal menarik lainnya dari pembangunan stadion yang pernah memiliki nama Stadion Utama Senayan ini adalah adanya atap temugelang yang menutupi seluruh tribun. Saat awal diusulkan oleh Bung Karno kepada para arsitek Uni Soviet yang merancang, ide ini sempat dimentahkan karena dianggap aneh kala itu.

Tetapi bagi Bung Karno, hal ini tetap harus dibuat agar seluruh penonton yang hadir bisa terhindar dari hujan dan terik matahari. Selain itu, juga dimaksudkan agar menjadi ikon dari SUGBK yang dapat membuat orang terkagum melihatnya.

 

2. Mengalami renovasi dan penurunan kapasitas

Dalam perjalanannya, SUGBK juga sempat mengalami renovasi dan penurunan kapasitas. Jika saat dibangun di era Bung Karno stadion ini dapat menampung hingga 110 ribu orang, pada tahun 2006 kapasitasnya menurun hingga 88.083 dan saat ini kembali turun sampai 78 ribu.

Renovasi besar dilakukan pemerintah Indonesia pada tahun 2016-2017. Dalam renovasi tersebut, SUGBK yang sudah megah dirombak menjadi lebih memukau. Tidak heran jika biaya yang harus digelontorkan mencapai Rp 770 miliar.

Setelah mengalami renovasi, kemegahan SUGBK semakin terlihat jelas. Rumput yang digunakan di stadion ini telah memenuhi standar FIFA. Lampu yang digunakan untuk pencahayaan juga memiliki kekuatan sekitar 1500 lux. Hal ini tentu membuat pertandingan di malam hari semakin nyaman disaksikan.

Selain itu, single seat yang menjadi salah satu indikator stadion kelas internasional juga sudah terpasang. Kursi-kursi tersebut ditata dengan pola sehingga menampilkan warna merah putih. Tidak ketinggalan juga sentuhan modern melalui papan skor elektronik mewah dan juga sound system yang mumpuni.

Para penonton difabel juga bisa lebih leluasa mengakses SUGBK karena ada lift khusus yang disebar di 24 sektor. Keamanannya juga semakin terjaga dengan adanya kamera CCTV yang dilengkapi fitur face recognition yang terpasang di berbagai sudut.

3. Punya Kembaran di Rusia

Siapa sangka ternyata SUGBK kebanggan Indonesia memiliki kembaran di Rusia. Namanya adalah Stadion Luzhniki yang terletak di Moskow. Rupa-rupanya, ide pembuatan SUGBK memang terinspirasi dari stadion yang menjadi venue opening ceremony Piala Dunia 2018 itu.


themoscowtimes.com


homify

Di era presiden Soekarno, Indonesia memang memiliki hubungan dekat dengan Uni Soviet. Bahkan arsitek dan pekerja dalam pembangunan SUGBK pun sebagian dari Uni Soviet. Termasuk juga bantuan dana sebesar USD 12,5 untuk mewujudkan bangunan yang menjadi venue opening ceremony Asian GAMES 2018 tersebut.

Kemiripan antara Luzhiniki dan SUGBK dapat dilihat dari atap gedung berbentuk bundar yang saling terhubung. Selain itu, di awal pembangunan, kedua stadion ini juga memiliki trek lari dan mampu menampung penonton lebih dari 100 ribu.

Namun kini kedua stadion ini sama-sama telah melakukan renovasi besar-besaran untuk menyambut perhelatan akbar pada 2018. Meski begitu, saat menyaksikannya dari luar, kalian masih akan melihat adanya kemiripan.

 

4. Jadi tempat penyelenggaraan berbagai event internasional

Sebagai stadion utama di Indonesia, sudah banyak event internasional yang dilangsungkan di tempat ini. Setelah diresmikan oleh Bung Karno di tahun 1962, gedung ini langsung dijadikan tuan rumah untuk Asian Games 1962.

Kemudian di tahun berikutnya, perhelatan Games of the New Emerging Forces 1963 juga dilaksanakan di SUGBK. Berbagai kejuaraan seperti Piala Asia AFC 2007, ASEAN Games, Piala AFF Suzuki 2008 dan 2010, hingga Kejuaraan U-19 AFC 2018 pernah digelar di lokasi ini.

Namun event yang semakin membuat SUGBK menjadi sorotan adalah Asian Games 2018 silam. Setelah mengalami renovasi besar-besaran dua tahun sebelumnya, SUGBK memang berubah menjadi semakin mewah dan modern. Tidak heran jika dalam upacara pembukaan Pesta Olahraga Asia tersebut begitu spektakuler sehingga membuat media asing ramai memperbincangkan.

Wah, ternyata SUGBK keren banget ya. Tidak salah kalau selama ini menjadi kebanggaan Indonesia. Nah, jika kalian ingin mendukung SUGBK agar menjadi stadion termewah di ASEAN, kalian bisa melakukan vote di situs resmi AFC ini ya guys. 

Sampai saat ini SUGBK masih memimpin dengan jumlah vote 55 persen. Sementara di urutan kedua ada Bukit Jalil National Stadium dengan vote 23 persen, Stadium Australia 11 persen, Rajamanggala Stadium 8 persen dan terakhir My Dinh National Stadium 3 persen.(*) 

Related Articles
Sport
4 Medali dari 4 Skateboarder Indonesia

Sport
Laga Pembukaan Euro 2020 di Italia Boleh Disaksikan Penonton

Sport
Bunga Nyimas Cinta, Peraih Medali Termuda di Asian Games 2018