Current Issues

Coronavirus Bisa Hidup dan Menular di Air, Jika...

Dwiwa

Posted on May 4th 2020

Virus SARS-Cov-2 mungkin bisa hidup di dalam air dalam beberapa hari, bahkan mungkin beberapa minggu. Tapi kabar baiknya, meski virus penyebab Covid-19 ini dapat bertahan hidup di dalam air, jumlahnya tidak cukup banyak untuk menginfeksi kalian.

Dilansir dari Forbes, Bruce Y Lee, seorang kontributor senior kesehatan sekaligus ahli kesehatan digital menyebut jika beberapa penelitian memang menunjukkan jika SARS-Cov-2 bisa bertahan pada benda-benda basah selama beberapa waktu.

Misalnya saja penelitian yang dipublikasikan di jurnal Water Research pada 2009 yang menemukan jika dua virus yang menyerupai virus SARS generasi pertama, transmissible ganstroenteritis (TGEV) dan mouse hepatitis (MVH) dapat bertahan hingga sehari di air.

Tim dari Universitas North Carolina (Lisa Casanova, William A. Rutal, David J. Weber, dan Mark D. Sobsey) yang melakukan penelitian menyimpulkan bahwa virus corona bisa tetap menular dalam jangka waktu lama dalam air dan pembuangan limbah yang dipasteurisasi. Ini menunjukkan jika air yang terkontaminasi merupakan alat potensial untuk terjadinya paparan virus terhadap manusia jika disebabkan aerosol.

Penelitian lain yang dipublikasikan di medRxiv pada 17 April menemukan jika ada hubungan antara air limbah dengan jumlah kasus yang terjadi di Paris. Mereka mengambil sampel air limbah di daerah tersebut dan melihat jika konsentrasi SARS-Cov-2 berhubungan dengan jumlah kasus di wilayah tersebut.

Dengan kata lain, jika jumlah kasus Covid-19 di suatu daerah meningkat, maka konsentrasi virus SARS-Cov-2 juga ikut mengalami peningkatan di air selokan. Ini tampaknya menjadi salah satu alasan mengapa memercikkan air selokan atau menarik nafas dalam-dalam di dekat selokan bukan ide bagus.

Akan tetapi, penelitian kedua ini belum diterbitkan dalam jurnal ilmiah peer-reviewed. Artinya, para pakar belum melakukan review terkait kualitas atau akurasinya. Belum ada jaminan jika apa yang ditemukan dalam penelitian tersebut teruji secara ilmiah.

Namun apapun hasil dari penelitian tersebut, keduanya menunjukkan jika virus dapat bertahan selama beberapa waktu di air. Tetapi sekali lagi, kedua penelitian ini tidak memperlihatkan jika infeksi Covid-19 dapat terjadi ketika kalian terpapar air, seperti minum (dengan asumsi jika kalian tidak minum air selokan atau air kotor lainnya), mandi, atau berenang (dengan asumsi kalian tidak berenang di selokan).

Bahkan menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), Covid-19 belum ditemukan dalam air minum. Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) juga mengatakan jika risiko paparan terhadap persediaan air bersih rendah. Air keran yang selama ini menjadi sumber air bersih tetap bisa digunakan.

Hal ini dikarenakan virus tersebut harus melewati berbagai jenis penyaringan dan pengolahan yang biasanya dilalui oleh air minum. Terlebih, ini adalah air yang cenderung melarutkan banyak hal. Bahkan jika mungkin entah bagaimana virus SARS-Cov-2 ini dapat masuk ke dalam air minum, mungkin jumlahnya tidak akan cukup menjadi risiko.

Setiap virus memiliki jumlah minimal untuk bisa menular, jumlah ini yang dibutuhkan untuk membuat seseorang menjadi sakit. Meskipun hingga saat ini jumlah minimal dari virus SARS-Cov-2 ini belum jelas, pengenceran membuatnya menjadi semakin sedikit dari ambang batas.

Hal yang sama mungkin terjadi di kolam renang dan kolam air panas. Berdasar keterangan CDC, tidak ada bukti jika virus penyebab Covid-19 dapat ditularkan orang melalui air di kolam renang, kolam air panas, spa atau area bermain air. Dalam kasus ini, bukan hanya air akan melarutkan virus, tetapi juga mendisinfeksi dengan klorin dan bromin yang akan menonaktifkan virus.

Akan tetapi, jangan pernah berenang di tempat yang tidak melakukan brominasi dan klorinasi dengan baik. Ada begitu banyak mikroba jahat penyebab penyakit yang mungkin terdapat di dalam kolam. Isu yang paling penting adalah apa yang dilakukan orang di dalamnya.

Sementara untuk laut, ini cukup besar. Lagi pula ada pergerakan air di laut. Kedua hal ini dapat melarutkan dan memisahkan virus dengan cukup cepat. Garam yang ada di laut juga menurunkan masa hidup virus. Tetapi ini tidak berarti jika kalian bisa segera bebas ke pantai. Diam di rumah masih menjadi cara paling baik untuk saat ini.

Jika berbicara soal Covid-19, hal paling berisiko di kolam renang, kolam air panas, dan laut bukan soal airnya. Tetapi batuk, bersin, terengah-engah, menggosok wajah, diare dan apa yang ada di dalam dan sekitar air, manusia. Termasuk juga benda-benda yang biasa disentuh seperti pagar pengaman, kursi, dan handuk.

Kuncinya adalah tetap menjaga physical distancing, kebersihan tangan, melakukan disinfeksi pada benda, dan menghindari menyentuh wajah. Jangan pula menyentuh benda-benda seperti tanda di jalan, patung atau apapun yang tidak diperlukan. Kalian tidak tahu dari mana benda itu berasal.

Jika kalian ingin berenang di tempat umum, tunggulah sampai tempat-tempat tersebut dibuka secara resmi. Namun meskipun  sudah dibuka untuk umum, tidak berarti jika kalian langsung bisa bebas saat berenang.

Harus diingat jika mungkin saja virus masih beredar dan bisa kembali menjadi pandemi seperti sekarang. Jadi, tetap patuhilah protokol kesehatan yang diberikan oleh pemerintah setempat.(*) 

Related Articles
Current Issues
Musim Panas Datang, Akankah Virus SARS-Cov-2 Jadi Tak Berdaya?

Current Issues
Peneliti: Stoking Nilon Efektif Jadi Bahan Tambahan Masker Kain

Current Issues
Banyak yang Sembuh Lalu Positif Lagi, Bisakah Kita Tertular Covid-19 Dua Kali?