Interest

Alasan Di Balik Suara dan Gaya Bicara Penyiar dan Pembaca Berita yang Mirip

Delima Pangaribuan

Posted on April 29th 2020

 
Sebelum podcast jadi tren sekarang, kita lebih sering mendengarkan radio buat jadi hiburan sehari-hari. Mulai dari radio yang muterin playlist kekinian sampai update berbagai informasi. Begitu sampai rumah, kita juga mengkonsumsi tayangan-tayangan di TV buat ngejar update. 
 
Kalau diperhatikan, kerasa nggak suara dan intonasi bicara anchor atau broadcaster yang bawain acara itu mirip-mirip dan bahkan cenderung sama?
 
Memang warna suaranya mungkin berbeda. Ada yang ringan dan renyah, ada juga yang berat dan dalam. Tapi untuk gaya bicara dan intonasi biasanya seperti sengaja dibuat seragam. Kadang media yang ada di daerah pun ikut menggunakan aksen ibu kota dan bukannya akses daerah. Nah, ternyata ada beberapa alasan kenapa anchor atau broadcaster punya kebiasaan yang membuat mereka menjadi begini.

 
Menurut Mental Floss, penggunaan aksen atau dialek yang nggak terlalu kental lebih mudah diterima banyak pendengar. Coba bayangkan kalau pendengar yang tinggal di ibu kota tapi anchor atau announcernya punya logat yang medhok? Beberapa pendengar akan terasa biasa, tapi bagi sebagian yang berdomisili di Jakarta pasti nggak akan familier dan akhirnya memilih siaran lain yang lebih cocok ke telinga mereka.
 
Inilah kenapa banyak sekolah broadcasting yang juga melatih berbicara untuk mengurangi aksen. Sebisa mungkin kalau mau jadi anchor atau pembawa acara, gunakan aksen yang lebih universal dan lebih sedikit aksen daerah. Lain halnya kalau media itu segmentasinya memang buat daerah aja, misalnya stasiun radio atau TV lokal yang penontonnya lebih homogen. Sah-sah aja anchor-nya pakai logat dan bahasa daerah.
 
Kedua, hal yang bikin mirip adalah intonasi dan pemenggalan katanya. Sekolah broadcasting biasanya juga mengajarkan bagaimana membacakan berita dengan baik. Pemenggalan kata harus tepat dan intonasinya harus pas supaya enak didengar, nggak terkesan buru-buru atau terlalu lambat sampai kehabisan nafas. 

 
Anchor pasti butuh jeda supaya nggak kehabisan nafas. Makanya biasanya kalimat di acara berita pendek-pendek, nggak terlalu panjang. Kalimat yang panjang selain bikin anchor-nya capek, kita yang dengerin pasti juga kerasa kurang nyaman. 
 
Ketiga, anchor disarankan buat membacakan berita dengan standar atau datar. Bukan berarti nggak bernada, melainkan membaca dengan plain tanpa penekanan kata berlebihan. Ini supaya anchor bisa menyesuaikan apa pun situasi berita yang mereka bacakan. Nggak terlalu mendramatisir dan informasi bisa tersampaikan dengan baik.
 
Ada juga anchor yang berusaha banget menjaga pelafalannya di depan mic karena mic-nya sensitif banget. Terutama untuk menyebutkan kata-kata yang mengandung unsur huruf dan b, kalau nggak ahli bakal terdengar menggema terlalu keras di mic. 
 
Standar-standar itu yang bikin anchor secara tidak sadar akhirnya kedengaran mirip. Bukan berarti nggak boleh kedengaran berbeda, sih. Ada beberapa anchor atua broadcaster yang punya ciri khas dan masih bisa diterima sama pemirsa atau pendengarnya. 
 
Dan ahli linguistik pun bilang kalau nggak mungkin seseorang itu free accent atau bebas dari dialek. FYI, aksen ibu kota juga termasuk aksen, kan? Tapi memang lebih universal dan bisa diterima lebih banyak kalangan. (*)
Related Articles
Interest
Spotify Rilis Acara ‘The Get Up’, Mirip Radio Pagi Tapi Sesuai Selera Musikmu

Interest
Siapa Tandingan Asus Zenfone Max Pro M1?

Interest
Kreator 'Boruto' Bocorkan Pertarungan Besar antar Kara dan Koji