Current Issues

Rahasia Selandia Baru 'Menang' Lawan Coronavirus

Delya Oktovie Apsari

Posted on April 28th 2020

 

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, mengumumkan bahwa negaranya kini telah sukses 'menghabisi' coronavirus COVID-19.

Dilansir dari CNN, jumlah penduduk yang terinfeksi coronavirus COVID-19 dalam beberapa hari ini hanya satu digit. Sedangkan pada hari Senin (27/4), Selandia Baru melaporkan hanya ada satu kasus baru coronavirus COVID-19.

"Ini memberi kami kepercayaan diri bahwa kami telah mencapai tujuan eliminasi virus. Bukan berarti nol, tetapi setidaknya kami tahu dari mana datangnya kasus-kasus kami," kata Ashley Bloomfield, Jenderal Direktur Kesehatan Selandia Baru.

Senin adalah hari terakhir dari lockdown yang dijalankan Selandia Baru selama hampir lima minggu. Jacinda Ardern menyebut lockdown level empat tersebut sebagai "larangan paling ketat yang dijalani warga Selandia Baru dalam sejarah modern".

Selasa (28/4), lebih dari 400.000 warga Selandia Baru mulai berangkat kerja dan ekonomi negara tersebut telah bekerja 75 persen, menurut Ardern. Saat ini, warga Selandia Baru diperbolehkan mengadakan pemakaman kecil dan membeli makanan untuk dibawa pulang.

 

Warga Selandia Baru langsung membanjiri drive thru McDonald's setelah lockdown usai. (Yahoo/Twitter)

 

Sejauh ini, Selandia Baru mencatat ada 1.472 kasus coronavirus COVID-19 dan hanya 19 kematian.

Apa rahasia kemenangan Selandia Baru melawan coronavirus?

 

1. Merespon dengan cepat
Ardern mengumumkan pada 14 Maret bahwa semua orang yang memasuki negaranya harus melakukan isolasi mandiri selama dua minggu. Padahal, waktu itu Selandia Baru hanya memiliki enam kasus coronavirus.

Kemudian, 19 Maret Ardern melarang orang asing memasuki Selandia Baru ketika kasus coronavirus meningkat menjadi 28.

Pada 23 Maret, Ardern mengumumkan lockdown, saat kasus yang dikonfirmasi 102 dan belum ada yang meninggal.

 

2. Melakukan tes secara luas
Selandia Baru telah meningkatkan pengujian coronavirus, sampai mereka bisa melakukan hingga 8.000 tes per hari sekarang, kata Ardern.

Hingga saat ini, Selandia Baru telah melakukan 126.066 tes. Sebagai perbandingan, Inggris - negara dengan penduduk sekitar 13 kali lebih banyak dari Selandia Baru - menyelesaikan 719.910 tes.

Tetapi tanda nyata bahwa pengujian Selandia Baru bekerja adalah tingkat kepositifan tesnya. Sebagian besar tes menunjukkan hasil positif.

Mike Ryan, Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, mengatakan baru-baru ini bahwa tolak ukur yang baik adalah setidaknya ada 10 kasus negatif untuk setiap satu kasus positif yang dikonfirmasi.

Itu berarti jika suatu negara bagian atau negara melakukan pengujian dan hasilnya kasus positif sekitar 9% atau di bawahnya, maka kemungkinan tes ini berjalan dengan baik.

 

3. Kombinasi antara sains dan kepemimpinan
Profesor Michael Baker, dari Departemen Kesehatan Masyarakat Universitas Otago, menyebut pelajaran yang bisa diambil dari Selandia Baru adalah kolaborasi antara sain dan kepemimpinan yang baik.

"Di Selandia Baru, ada hubungan yang bagus antara sains dan kepemimpinan yang cemerlang, dan keduanya bersama-sama menurut saya sangat efektif," kata Baker.

"Saya benar-benar kecewa melihat negara-negara yang memiliki sumber daya sains yang benar-benar top di dunia, yaitu AS dan Inggris, dan negara-negara lain di Eropa, tidak bernasib lebih baik daripada negara-negara seperti Selandia Baru yang memiliki sumber daya terbatas." (*)

Related Articles
Current Issues
Ternyata Pemimpin Perempuan Lebih Baik Dalam Menangani Virus Corona di Negaranya

Current Issues
Rahasia Jepang Tangani Covid-19 yang Bisa Dicontoh Indonesia

Current Issues
Siswa di Wuhan, Kota Pertama Ditemukannya Covid-19, Kembali Sekolah