Tech

Ghana Manfaatkan Teknologi Drone untuk Antar Hasil Tes Covid-19

Ahmad Redho Nugraha

Posted on April 28th 2020

Apa yang dilakukan Ghana ini bisa jadi contoh negara-negara lain. Mereka bisa memanfaatkan teknologi dengan efektif dan efisien untuk mencegah penularan Coronavirus. Mereka menggunakan drone untuk mengirim hasil tes Covid-19.

Adalah Bismark Sarkodie yang ada di balik penggunaan teknologi tersebut. Ia adalah seorang Kepala Dinas Kesehatan di wilayah perdesaan Ghana. Bismark Sarkodie memerintahkan 224 pekerja bangunan di wilayahnya untuk mengarantina diri setelah tiga di antara mereka terbukti positif terjangkit Covid-19. Sarkodie bertekad untuk tidak mencabut perintah karantinanya hingga hasil swab tes dari semua pekerja tersebut keluar.

Untuk menghemat waktu perjalanan ke fasilitas kesehatan terdekat di Accra --yang bisa mencapai 2 jam berkendara-- Sarkodie menggunakan teknologi drone otomatis. Ia menerbangkan sampel untuk swab test tersebut ke Accra. Hasil swab tes pun ia dapat pada dua hari kemudian via SMS: negatif. Semua pekerja tersebut pun akhirnya dapat dipulangkan dari tempat karantina.

Sarkodie mengungkapkan, ia cukup kagum karena Ghana adalah negara pertama di dunia yang menggunakan teknologi drone dalam membantu pengujian Covid-19. "Pengujian (kesehatan) adalah yang paling penting, dan jika tes tersebut dapat dilakukan dengan lebih cepat, maka lebih baik lagi," katanya.

Walau terdengar sepele, namun kenyataannya, Ghana berhasil memangkas durasi pengecekan Covid-19 bagi warga terdampak di wilayah pedesaan lewat pemanfaatan teknologi drone. Selain untuk mengantarkan sampel untuk swab tes ke rumah sakit, drone yang sama juga digunakan untuk menerbangkan obat-obatan dan peralayan medis ke wilayah perdesaan Ghana. 

Kini perusahaan logistik kesehatan Amerika, Zipline, juga telah mempopulerkan jasa perusahaan mereka dengan menerbangkan drone otomatis mereka untuk mencapai wilayah perdesaan yang sulit dicapai lewat darat.

Ini kali pertamanya drone otomatis dimanfaatkan untuk pengantaran barang jarak jauh dari dan ke wilayah padat penduduk, dan telah menunjukkan peran baru bagi teknologi drone dalam memerangi Covid-19. Zipline berencana mempromosikan teknologi mereka untuk digunakan di wilayah Amerika Serikat, namun sekarang mereka masih berfokus membantu program-programnya di Ghana.

"Penggunaan drone sebagai media pengantaran sampel untuk tes Covid-19 dapat membantu pemerintah dalam merespons pandemi dengan lebih cepat, dan tentu saja dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa," ujar Keller Rinaudo, CEO Zipline.

Sejauh ini, Ghana telah melakukan 70.000 swab test, terbanyak di seluruh Afrika. Jika di Amerika Serikat terkendala suplai peralatan medis, di Ghana persoalannya beda lagi. Ghana lebih terkendala keberadaan fasilitas kesehatan yang sangat jauh dari pedesaan-pedesaan padat penduduk.

Pengantaran sampel untuk swab test via jalur darat dapat memakan waktu hingga paling lama enam jam, sehingga kurang efisien dalam mencegah penyebaran Covid-19.

Ghana mencatatkan 1.000 kasus Covid-19. Untuk mencegah bertambahnya jumlah kasus, Ghana perlu melakukan pelacakan kontak fisik antara carrier virus korona dengan lingkungan sekitarnya. Dan itu hanya bisa dilakukan setelah pemerintah memiliki jaringan pengujian lab yang efisien.

"Masalah utama Ghana bukanlah di minimnya fasilitas tes, tapi pengantaran sampel swab test-nya. Pemerintah ingin menastikan bahwa pengujian di wilayah perkotaan dan perdesaan dapat dilakukan secara berimbang, dan disinilah peran kami," ujar Daniel Marfo, General Manager Zipline Ghana.

Setelah dikumpulkan oleh klinik lokal maupun pekerja kesehatan yang ada di lapangan, sampel untuk pengujian Covid-19 akan dikemas dalam kontainer berisi es, dilengkapi perangkat parasut, kemudian diikatkan di bagian tengah drone.

Kemasan tersebut tidak akan mendarat langsung di laboratorium, melainkan dijatuhkan di drop zone khusus yang telah disediakan oleh tenaga medis di lokasi tujuan. Dari sana kemudian dikonfirmasi penerimaannya via SMS. Proses penerbangan drone bolak-balik dari wilayah perdesaan ke lokasi tes di kota hanya memakan waktu kurang dari 30 menit.

Drone milik Zipline mampu mengangkut 15.000 sampel tes setiap harinya dalam 300 penerbangan. Perusahaan ini juga memiliki dua landasan drone yang dapat dioperasikan secara online untuk melayani 2.000 klinik kesehatan.

Perusahaan ini awalnya dibuka di Rwanda pada 2016 lalu. Tujuannya untuk mengantarkan kantong darah dan perlengkapan medis ke wilayah perdesaan.

Zipline baru dibuka di Ghana pada 2019 lalu dan melayani pengantaran 200 macam perlengkapan kesehatan, termasuk vaksin, kantong darah, plasma darah, dan alat pelindung diri (APD). 

Sebelum pandemi Covid-19 berlangsung, Zipline sudah berencana untuk memperluas jangkauan bisnisnya ke Amerika Serikat pada akhir tahun ini. Rinaudo berkata, kini mereka tengah mengurus izin usahanya dengan Otoritas Penerbangan Federal.

Namun berbeda dari rencana awalnya untuk menyediakan jasa pengantaran produk darah dan obat-obatan, kini Zipline juga akan melayani pengantaran perlengkapan medis yang langka seperti peralatan tes dan APD, seperti yang mereka lakukan di Ghana.

Meski demikian, tidak menutup kemungkinan Zipline akan tetap mengantarkan obat-obatan seperti biasa, terutama untuk pasien penyakit kronis yang jauh dari rumah sakit dan tidak mampu melakukan perjalanan karena perintah karantina wilayah. Di Rwanda, Zipline sudah mempraktikkan pengantaran obat-obatan kemoterapi untuk pasien di wilayah perdesaan yang kesulitan bepergian selama pandemi.(*)

Artikel Terkait
Interest
Imigran Afrika Gotong Royong Kumpulkan Makanan Sehat untuk Warga Italia

Current Issues
Afrika Selatan Segera Uji Coba Vaksin Temuan Mereka ke Manusia

Tech
Twitter Berlakukan WFH Permanen untuk Karyawannya