Interest

Hadapi Pandemi Covid-19, Begini Cara 8 Masjid Besar Dunia Beradaptasi

Dwiwa

Posted on April 27th 2020

Pandemi corona virus disease 2019 (Covid-19) telah mengubah banyak hal di dunia. Tidak hanya soal hubungan antar manusia saja, tetapi penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 ini juga mengusik kehidupan beragama.

Demi mencegah penularan yang lebih besar, semua kegiatan keagamaan tidak boleh dilakukan secara berjamaah. Semua dilakukan sendiri di rumah bersama dengan keluarga. Tempat-tempat ibadah pun menjadi sepi. Termasuk juga masjid-masjid terbesar yang ada di dunia.

Meski tidak ada keramaian umat manusia yang melakukan salat berjamaah, tetapi masjid-masjid tersebut tetap berusaha dekat dengan para jamaah. Salah satunya adalah melalui siaran live-stream dan stasiun tv lokal yang menyiarkan khotbah.

Dilansir dari situs Al Jazeera, berikut kegiatan yang dilakukan oleh 8 masjid besar di dunia sebagai bentuk adaptasi terhadap pandemi yang telah menginfeksi lebih dari 3 juta jiwa ini.

Masjid Agung Mekah

Sepinya Ka'bah akibat pandemi Covid-19. (foto:https://www.aljazeera.com/news/2020/04/praying-time-covid-19-world-largest-mosques-adapted-200406112601868.html)

Sejak pemerintah Arab Saudi melarang kegiatan keagamaan pada 19 Maret lalu, para jamaah juga tidak diperbolehkan untuk memasuki Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi di Madinah, dua masjid utama bagi umat islam.

Menurut seorang warga lokal, Fuad Mohamed, hanya para pekerja di masjid tersebut sajalah yang diperbolehkan masuk. “Dalam beberapa minggu terakhir azan juga ditambahkan dengan seruan untuk ibadah di rumah. Tidak ada salat berjamaah atau salat jumat yang dilaksanakan di Masjidil Haram,” ujarnya. Meski orang-orang tidak bisa melakukan ibadah langsung di masjid, kegiatan ibadah disiarkan online secara livestream.

Ada aturan jam malam yang diterapkan di Makah dan Madinah semenjak 2 April lalu. Mereka tidak diperbolehkan untuk keluar rumah kecuali untuk membeli kebutuhan pokok dan mendapatkan akses kesehatan.

Selain tidak diperbolehkan untuk memasuki dua masjid agung tersebut, Pemerintah Arab Saudi juga melarang salat berjamaah di sekitar Kabah dan Umrah. Masih belum jelas apakah ibadah haji akan tetap dilaksanakan untuk tahun ini. 


Masjid Al-Aqsa di Yerusalem

Masjid Al-Aqsa di Yerusalem yang sepi karena Covid-19. (foto:https://www.aljazeera.com/news/2020/04/praying-time-covid-19-world-largest-mosques-adapted-200406112601868.html)

Secara resmi, Masjid Al-Aqsa ditutup untuk jamaah sejak tanggal 23 Maret. Meski begitu, sejak seminggu sebelumnya akses ke masjid ini juga telah dibatasi. Para jamaah hanya diperbolehkan untuk salat di area terbuka yang berada di kompleks masjid.

Al-Aqsa sendiri merupakan salah satu situs paling suci ketiga bagi umat Islam di seluruh dunia. Dalam kisah sejarah umat Islam, Nabi Muhammad disebut singgah di di Masjid Al-Aqsa saat melakukan perjalanan Isra Mi’raj.

Menurut kepala keamanan markas wanita Al-Aqsa, Zeinat Abusbeih, hanya para pegawai saja yang dibolehkan masuk ke masjid. “Ini menyakitkan tetapi perlu dilakukan,” ujarnya. Dia pun menambahkan jika setiap kali ada adzan, akan ada tambahan anjuran agar jamaah beribadah di rumah.

Meski begitu, salat Jumat masih tetap dilakukan dengan para pegawai sebagai jamaahnya. “Agar orang-orang tetap merasa terhubung dengan Al-Aqsa, anggota keamanan telah melakukan livestream untuk kegiatan salat Jum’at,” tambahnya.

Saudi Arabia mencatat ada lebih dari 17 ribu orang terkonfirmasi positif. Namun dari jumlah belasan ribu tersebut, hanya ada sekitar 139 kematian yang dilaporkan.


Masjid Fatih Turki

Masjid Fatih Turki tampak lengang karena ditutup untuk jamaah umum. (foto:https://www.aljazeera.com/news/2020/04/praying-time-covid-19-world-largest-mosques-adapted-200406112601868.html)

Seluruh kegiatan di masjid, termasuk salat, Jumat telah  dilarang dilakukan sejak tanggal 16 Maret. Para muadzin di berbagai masjid pun mengumandangkan adzan dengan menambahkan anjuran agar para jamaah beribadah di rumah saja.

“Semua kegiatan beribadah dilarang (dilakukan di masjid), tetapi aktivitas lainnya, termasuk kleas dan membaca Quran tetap dilakukan secara online,” ujar Bunyamin Topcu, imam di Masjid Fatih Turki.

Jika beberapa masjid lain menambahkan seruan agar orang-orang beribadah di rumah saja, adzan yang dikumandangkan di masjid yang dianggap sebagai pusat studi Islam di seluruh Timur Tengah ini dilakukan seperti biasa. Hanya saja, tidak ada salat Jumat seperti hari biasa. “Di malam hari, doa dan bacaan Alquran kami siarkan secara langsung melalui mikrofon,” tambahnya.

Turki menjadi salah satu negara yang telah memiliki kasus positif corona di angka lebih dari 110 ribu jiwa. Dari jumlah tersebut, lebih dari 2800 orang harus kehilangan nyawa.


Masjid Agung Sheikh Zayed UEA

Masjid Agung Sheikh Zayed terlihat lengang di tengah pandemi. (foto:https://www.aljazeera.com/news/2020/04/praying-time-covid-19-world-largest-mosques-adapted-200406112601868.html)

Masjid ini telah ditutup untuk umum sejak tanggal 15 Maret silam. Terletak di Abu Dhabi, ibukota negara Uni Emirat Arab, situs ini merupakan masjid terbesar dan tempat ibadah utama untuk kegiatan besar seperti salat Jumat dan Idul Fitri. Selain menjadi tempat ibadah untuk para jamaah, masjid ini juga dikenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit.

Menurut seorang warga lokal yang juga sering datang ke masjid, semua kegiatan di masjid telah dilarang. “Hanya azan yang masih berkumandang. Ini selalu diakhiri dengan seruan agar orang-orang beribadah di rumah. Dan ini terjadi di masjid seluruh negeri,” ujarnya.

UEA setidaknya mencatat ada lebih dari 10 ribu warganya yang telah positif terjangkit Covid-19. Namun dari jumlah sebanyak itu, kasus kematian yang terjadi hanya berkisar diangka 76.


Masjid Agung Moussawi Irak

Suasana sepi di Masjid Agung Moussawi Irak. (foto:https://www.aljazeera.com/news/2020/04/praying-time-covid-19-world-largest-mosques-adapted-200406112601868.html)

Sesuai dengan fatwa yang dikeluarkan oleh pemimpin tinggi Syiah Irak Ayatollah Ali al-Sistani, seluruh pintu Masjid Agung Mousawi di Kota Basra ditutup untuk jamaah maupun pengunjung. Hal ini sebagai tindak lanjut fatwa yang meminta warga melakukan physical distancing dan menghindari kegiatan keagamaan demi mencegah penyebaran Covid-19.

Menurut seorang jurnalis foto lokal, Hussein Faleh, azan yang dikumandangkan tidak berbeda dari hari biasa. Hanya saja, sebelum adzan ataupun di akhir hari, masjid selalu mengingatkan jika masjid ditutup.

Sebagai gantinya, masjid menggunakan channel TV lokal untuk menyiarkan salat Jumat dan doa untuk Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad yang merupakan tokoh penting bagi Muslim Syiah.

“Tidak semua masjid melakukan ini. Tetapi karena Masjid Mousawi adalah pusatnya, siaran dilakukan untuk membuat komunitas tetap merasa terhubung dengan tempat ibadah dan semangat tetap tinggi,” ujarnya.

Irak mencatat ada sekitar 1.800 kasus positif yang telah ditemukan. Dari jumlah tersebut, jumlah kematian yang terjadi tidak sampai menembus angkat seratus.


Masjid Nasional Malaysia

Seorang Imam memimpin salat di dalam Masjid Nasional Malaysia yang sepi. (foto:https://www.aljazeera.com/news/2020/04/praying-time-covid-19-world-largest-mosques-adapted-200406112601868)

Pemerintah Malaysia telah melakukan pembatasan pergerakan sejak tanggal 17 Maret demi mencegah menyebarnya Coronavirus. Berdasar keterangan Siti Syuhada, warga Kuala Lumpur, ini berarti seluruh masjid ditutup untuk umum. Hanya imam dan pegawai saja yang diperbolehkan masuk.

Meski begitu, azan tetap dikumandangkan lima kali sehari untuk mengingatkan waktu salat. “Diakhir, muadzin mengingatkan orang-orang untuk tetap beribadah di rumah,” jelasnya.

Salat Jumat pun tidak diadakan sebagai bagian dari pembatasan pergerakan. Dia pun menambahkan jika kelas yang biasa dilakukan di masjid tetap berjalan secara online melalui YouTube, Facebook, dan Zoom.

Jumlah kasus yang ditemukan di Malaysia sendiri tidak sebanyak di Indonesia dan hanya sekitar 5.780 kasus. Dari jumlah tersebut kematian yang tercatat bahkan kurang dari 100 jiwa.


Masjid East London

Masjid East London melarang jamaah untuk melakukan salat di masjid karena pandemi. (foto:https://www.aljazeera.com/news/2020/04/praying-time-covid-19-world-largest-mosques-adapted-200406112601868.html)

Masjid terbesar di London, Masjid East London (ELM) ini ditutup untuk umum menyusul keputusan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson yang melakukan lockdown total pada 24 Maret silam. Orang-orang hanya diperbolehkan meninggalkan rumah untuk keperluan khusus saja.

Sebelum penutupan dilakukan, asosiasi muslim, termasuk Dewan Muslim Inggris (MCB), telah memanggil semua pimpinan masjid untuk mengantisipasi larangan beribadah berjamaah dengan menyiapkan tautan video livestream kutbah dan kegiatan masjid lain.

Menurut anggota kepercayaan masjid, Abdallah Faliq, masyarakat umum dilarang untuk masuk ke masjid. Sebagai gantinya, ELM yang merupakan salah satu masjid terbesar di Eropa tetap menyiarkan salat lima waktu. Selain itu, salat Jumat dan khotbah juga turut disiarkan di Radio Adhan serta halaman Facebook dan YouTube.

“Di dalam azan, kami mengganti hayaa ‘ala al-salah (marilah salat) menjadi sallu fi buytutikim (salatlah dirumah),” ujarnya. ELM sendiri menjadi satu-satunya masjid di London yang diperbolehkan untuk melakukan azan lewat pengeras suara. Sementara untuk aktivitas lain, seperti kelas dilakukan secara online.

Inggris menjadi salah satu negara yang memiliki kasus Covid-19 cukup tinggi dan berada di posisi ke enam di dunia. Jumlah kasus telah mencapai angka lebih dari 152 ribu dan jumlah kematian di atas 20 ribu.


Pusat Kebudayaan Islam di New York

Pusat Kebudayaan Islam di New York Melarang seluruh kegiatan di masjid selama pandemi. (foto:https://www.aljazeera.com/news/2020/04/praying-time-covid-19-world-largest-mosques-adapted-200406112601868.html)

Pusat Kebudayaan Islam di New York, yang merupakan salah satu masjid terbesar di Amerika Serikat, telah melarang semua jamaah untuk melakukan aktivitas di dalam masjid. Ini termasuk salat Jumat dan kelas rutin yang biasa diadakan setiap hari maupun di akhir minggu.

Selain itu, gedung perumahan di New York University Islamic Centre, yang menjadi pusat kesibukan komunitas dan mahasiswa , juga telah ditutup. Menurut situs resminya, salat Jumat telah dilarang. Namun untuk kelas dan aktivitas lain dilakukan secara virtual melalui Zoom dan Facebook Live.

Amerika Serikat sendiri telah mencatatkan diri sebagai negara dengan kasus terbanyak hingga hampir menembus angka 1 juta orang. Dari jumlah tersebut, lebih dari 55 ribu orang harus kehilangan nyawa karena Covid-19.


Related Articles
Current Issues
Tanpa Prom, Sekolah di AS Punya Berbagai Cara Unik Rayakan Kelulusan

Current Issues
Peneliti: Stoking Nilon Efektif Jadi Bahan Tambahan Masker Kain

Current Issues
Harimau Kebun Binatang Bronx Positif Covid-19, Ternyata Begini Cara Ngetesnya...