Current Issues

Terlalu Sering Scrolling Bisa Bikin Instagram Jadi Instagloom

Awalnya nyari hiburan, lama-lama jadi ketergantungan~

Cakra Ajie

Posted on August 9th 2018

Setelah meramaikan jagat dunia maya delapan tahun belakangan ini, Instagram telah menjadi media sosial nomor dua dengan pengguna terbanyak setelah Facebook. Berbagai usia, terutama para remaja, menggemari aplikasi berbagi foto dan video ini karena user friendly dan interaktif.

Tak hanya itu, Instagram juga selalu mampu membidik minat penggunanya. Sehingga apapun yang disebar oleh akun-akun di dalamnya, mulai dari yang memberi inspirasi, memuat positive campaign, gosip artis, sampai yang doyan menebar adu domba, berpotensi lebih cepat viral.

Namun keseruan menggunakan Instagram ini, tanpa kita sadari telah menenggelamkan kita ke dalam never ending scrolling vortex. Selain membuat waktu tahu-tahu berlalu begitu saja, scrolling ini juga menginfeksi kita dengan ‘virus’ Instagramxiety. ‘Virus’ yang bisa bikin kita cemas, depresi, rendah diri, dan fear of missing out.

Dilansir dari TIME, Royal Society for Public Health di Inggris bahkan menyebut Instagram sebagai The Worst Social Media For Mental Health gara-gara ‘virus’ tersebut. Sebab setelah dilakukan penelitian terhadap 1.479 remaja di UK, Instagram menduduki peringkat pertama sebagai penyebab depresi dan kecemasan pada remaja.

“Sangat menarik saat mengetahui Instagram dan Snapchat bisa memberi dampak buruk bagi kesehatan mental—sebab keduanya merupakan platform yang sangat berfokus pada gambar dan inilah pemicu rasa cemas dan rendah diri pada remaja,” ujar Shirley Cramer CBE, Chief Executive Royal Society for Public Health seperti dikutip dari TIME.

Ungkapan Cramer ini seolah mengamini sifat dasar manusia sebagai visual creature. Sebab menurut Krista Neher, seorang marketing industry influencer, gambar bisa diproses otak manusia 60.000 kali lebih cepat dari pada kata-kata. Suatu unggahan yang dilengkapi gambar, akan memberikan kesan membekas dalam waktu singkat. Apa lagi, gambar juga memiliki kemampuan untuk menyampaikan hal-hal abstrak dan kompleks. A picture is worth a thousand words benar-benar nyata adanya. 

Hal tersebut rupanya sejalan dengan studi dari Univeristy of New South Wales terhadap 350 wanita di Australia dan Amerika. Mereka menyebutkan, bahwa wanita-wanita berusia 18-25 tahun ini kerap kecewa dengan tubuh mereka setelah melihat unggahan Kendall Jenner atau Karlie Kloss.

Tentu saja unggahan itu baru secuil dari apa yang mungkin juga kita lihat di Instagram. Belum termasuk unggahan teman atau keluarga yang memamerkan prestasi barunya, traveling-nya, pestanya, juga hal-hal lain yang sering bikin kita worried about the future and the past. Unggahan yang sering bikin kita nge-batin: ‘kok gue gini-gini aja ya?’, ‘gue bakal sepopuler itu nggak ya?’, atau ‘coba gue dulu ambil kesempatan itu.’

“Dulu (saat Instagram belum ada), kita mungkin hanya bertemu dengan beberapa orang saja dalam kurun waktu tertentu. Namun kini (setelah ada Instagram), kita bisa ‘bertemu’ bahkan dengan ratusan orang sekalipun dalam waktu singkat. Inilah yang kemudian membuat kita rendah diri (karena jadi membandingkan diri),” ujar Cal Strode, juru bicara Mental Health Foundation sebagaimana dikutip dari The Sun.

Maka dari itu, nggak jarang kita melihat para pengguna Instagram mengunggah foto-foto dengan gaya kekinian atau di tempat yang Instagram-able demi bisa eksis di pergaulan. Padahal, semakin ingin kita tampil sempurna, semakin meningkatlah cemas itu.

Nah, supaya kita nggak terjerumus ke dalam lembah #sobatkeceinstagram, cobalah untuk selektif dalam mengikuti orang. Seperti yang diungkapkan oleh Jenny Stallard kepada The Telegraph, cobalah berhenti mengikuti orang-orang yang unggahannya membuat kita gelisah. Ikuti lebih banyak akun yang membuat Anda tertawa, atau sekalian saja jauhi Instagram jika kita merasa sedang mengalami hari yang buruk. 

"Jika saya mau, saya masih bisa mengikuti mereka lagi lain waktu. Namun saya rasa, hidup jadi terasa lebih menyenangkan tanpa harus terganggu akun-akun yang membuat saya terus membandingkan diri," ungkap Jenny.

Jika kamu atau orang-orang terdekatmu mulai merasa stres, rendah diri, dan cemas setiap melihat postingan Instagram, mungkin sudah saatnya kamu melakukan apa yang Jenny lakukan: choose wisely who to follow.

 

Related Articles
Interest
Rehat dari Medsos Bantu Selena Gomez Cintai Diri Sendiri dan Hindari Depresi

Current Issues
Instagram Uji Coba Sembunyikan Fitur 'Like' di AS Minggu ini

Current Issues
Sulitnya jadi Influencer: Sering di-Bully dan Rentan Gangguan Mental