Current Issues

Dokter NHS Inggris: Puasa Dapat Tingkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

Dwiwa

Posted on April 25th 2020

Tahun ini, seluruh umat muslim di dunia menyambut Ramadhan dengan cara yang berbeda. Merebaknya pandemi corona virus disease 2019 (Covid-19) membuat masjid-masjid yang biasanya penuh sesak untuk beribadah, kini tampak sepi dari jamaah.

Tradisi buka bersama dan sahur keliling juga tidak lagi dijumpai. Bahkan mudik pun sudah resmi dilarang oleh pemerintah. Semua dilakukan demi mencegah agar virus SARS-Cov-2 tidak semakin banyak menginfeksi manusia.

Lalu, mungkin timbul pertanyaan di sebagian kalangan tentang amankah berpuasa di masa pandemi ini. Apakah puasa akan berpengaruh terhadap kerentanan seseorang terhadap infeksi virus corona? Sebab, selama puasa orang tidak akan makan dan minum dari azan subuh hingga maghrib.

Faktanya, puasa telah dipercayai memiliki banyak manfaat untuk tubuh, termasuk di antaranya meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dikutip dari Al Jazeera, dokter Amir Khan dari National Health Service Inggris menuliskan beberapa kebiasaan puasa telah diamati untuk melihat kebenarannya. Sekedar diketahui, dr Amir Khan juga merupakan dosen senior di University of Leeds School of Medicine dan University of Bradford.

Beberapa kebiasaan puasa di berbagai agama yang diamati di antaranya adalah Ramadan untuk muslim, bulan menjelang Paskah untuk Kristen dan selama Yom Kippur untuk Yahudi. Bukti lain juga ditemukan pada orang Mesir kuno yang melakukan puasa dalam waktu lama untuk membersihkan tubuh dari penyakit.

Penelitian terbaru pun menunjukkan jika puasa memiliki efek menguntungkan pada sistem kekebalan tubuh manusia. Efek ini diperoleh karena puasa dapat mengurangi jumlah peradangan yang dapat terjadi pada sel di seluruh tubuh.

Puasa dianggap membuat tubuh berada pada “mode konservasi energi” karena berkurangnya nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Dalam rangka untuk menghemat energi, tubuh mendaur ulang sel imun lama ataupun yang sudah rusak dan membuat sel baru yang lebih sehat saat periode puasa berakhir.

Sel baru ini lebih efisien dan cepat dalam memerangi infeksi. Dengan kata lain, semua kemampuan sistem kekebalan tubuh meningkat.

Menurut Amir, yang membedakan puasa Ramadhan dengan berbagai diet puasa intermitten adalah tidak minum air. Sebuah penelitian menyebutkan jika tidak minum air dalam waktu 12-24 jam dapat membuat sistem imun mengalami kerusakan kecil sehingga sedikit rentan infeksi. Akan tetapi, disebutkan pula jika imun akan menjadi lebih baik segera setelah makan dan minum lagi.

Puasa yang diteliti dalam penelitian tersebut memang bukan spesifik Ramadan. Tetapi penelitian berbeda menemukan jika puasa Ramadan memiliki manfaat kesehatan yang sama dengan berbagai jenis puasa lainnya.

Bukti juga menunjukkan jika tidak makan dan minum selama 12 jam memiliki efek menguntungkan pada sistem imun. Tetapi harus diingat, mengatur pola makan sehat juga sangat diperlukan untuk bisa memperoleh manfaat tersebut.

Sudah menjadi rahasia umum jika gorengan telah menjadi salah satu makanan berbuka favorit orang Indonesia. Sayangnya ini tidak akan membantu meningkatkan kekebalan tubuh. Menggantinya dengan makanan yang lebih sehat, semisal buah dan sayur selama sahur dan berbuka tentu akan lebih bermanfaat.

Meski puasa Ramadan terbukti memiliki banyak manfaat, niat kalian saat berpuasa tetap harus benar ya guys. Jangan pula mengandalkan sistem imun sebagai perlindungan dari Covid-19. Aturan untuk mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, physical distancing, hingga di rumah aja juga tetap harus diterapkan. Selamat puasa.(*)

Related Articles
Current Issues
Skotlandia Lirik Outdoor Learning Sebagai Konsep Sekolah Selama Pandemi

Current Issues
Peneliti: Stoking Nilon Efektif Jadi Bahan Tambahan Masker Kain

Current Issues
Pola Tidur Berubah Saat Puasa, Akankah Kita Jadi Rentan terhadap Coronavirus?