Current Issues

56 Tahun Lalu June Almeida Menemukan Coronavirus, Tapi Sosoknya Dilupakan

Delya Oktovie Apsari

Posted on April 23rd 2020

June Almeida saat bekerja di Ontario Cancer Institute, Toronto, Canada pada tahun 1963. (Norman James/Getty)

 

56 tahun yang lalu, pakar virus June Almeida mungkin tidak menyangka kalau ilmuwan yang kala itu berusia 34 tahun tersebut telah menemukan virus yang saat ini menjadi musuh seantero dunia: coronavirus.

Terlahir dengan nama June Hart, June kecil tinggal di Glasgow, Skotlandia. Ia merupakan murid yang cerdas dan sangat berambisi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Namun, ayahnya hanyalah supir bus, sehingga tidak memiliki uang cukup untuk menyekolahkan June.

Ketika berusia 16 tahun, June keluar dari sekolahnya dan bekerja sebagai teknisi lab di Glasgow Royal Infirmary. Di sana, ia menggunakan mikroskop untuk menganalisis sampel jaringan.

Setelah pindah ke pekerjaan serupa di Rumah Sakit St Bartholomew, London, June menikah dengan seniman asal Venezuela, Enriques Almeida, lalu berimigrasi ke Kanada.

June pun melanjutkan kariernya di Institut Kanker Ontario, Toronto, dan mengembangkan teknik-teknik baru serta mempublikasikan beberapa jurnal tentang virus-virus yang belum pernah diketahui sebelumnya.

Dilansir dari National Geographic, teknik mikroskop June sebenarnya sangat sederhana, namun revolusioner di bidang virologi.

Contohnya, saat bekerja dengan partikel mikroskopis, sulit untuk mengetahui apa yang harus dicari. Sebuah mikroskop elektron memunculkan spesimen dengan seberkas elektron dan kemudian merekam interaksi partikel dengan permukaan spesimen. Karena elektron memiliki panjang gelombang yang jauh lebih pendek daripada cahaya, ilmuwan hanya bisa melihat gambar dengan detail yang jauh lebih halus, lebih kecil. Tantangannya adalah menentukan apakah gumpalan kecil tersebut adalah virus, sel, atau sesuatu yang lain.

Untuk mengatasi masalah ini, June menyadari bahwa dia dapat menggunakan antibodi yang diambil dari orang yang sebelumnya terinfeksi untuk menentukan sebuah virus. Antibodi tertarik pada antigen-rekannya — jadi ketika June memperkenalkan partikel-partikel kecil yang dilapisi antibodi, mereka akan berkumpul di sekitar virus, mengingatkannya akan keberadaannya. Teknik ini memungkinkan dokter untuk menggunakan mikroskop elektron sebagai cara untuk mendiagnosis infeksi virus pada pasien.

June kemudian mengidentifikasi sejumlah virus termasuk rubella, yang dapat menyebabkan komplikasi selama kehamilan. Para ilmuwan telah mempelajari rubella selama beberapa dekade, tetapi June adalah sosok yang dapat melihatnya pertama kali.

 

Menemukan coronavirus

Karier June melejit. Ia pun kembali ke London untuk bekerja di Sekolah Kedokteran Rumah Sakit St. Thomas. Pada tahun 1964, ia dihubungi oleh Dr. David Tyrell, yang mengawasi penelitian di unit flu Salisbury, Wiltshire.

Timnya telah mengumpulkan sampel virus mirip flu yang mereka beri label "B814" dari seorang anak sekolah yang sakit di Surrey, tetapi kesulitan membudidayakannya di laboratorium. Ketika metode tradisional gagal, para peneliti mulai curiga bahwa B814 ini merupakan jenis virus yang benar-benar baru.

Kehabisan pilihan, Tyrrell mengirim sampel pada June, berharap teknik mikroskopnya bisa mengidentifikasi virus tersebut.

"Kami tidak terlalu berharap tetapi merasa itu patut dicoba," tulis Tyrrell dalam bukunya Cold Wars: The Fight Against the Common Cold.

Meskipun June memiliki bahan terbatas, temuannya melebihi harapan Tyrrell. June tidak hanya menemukan dan membuat gambar yang jelas dari virus, tetapi dia ingat pernah melihat dua virus serupa dalam penelitiannya: pertama ketika melihat bronkitis pada ayam dan yang kedua saat ia mempelajari peradangan hati hepatitis pada tikus.

June menulis makalah tentang keduanya, tetapi ditolak. Para pengulas berpendapat bahwa gambar itu hanyalah gambar partikel virus influenza berkualitas rendah. Dengan sampel dari Tyrrell, June yakin mereka melihat kelompok virus baru.

Ketika June, Tyrrell, dan penyelia June berkumpul untuk membahas temuan mereka, mereka bertanya-tanya apa sebutan yang pas untuk kelompok virus baru ini.

Setelah melihat-lihat gambar, mereka terinspirasi oleh struktur virus yang seperti halo, dan memutuskan menamakannya dengan Bahasa Latin 'mahkota', yaitu corona.

Sebelum meninggal pada tahun 2007, June kembali ke St. Thomas sebagai penasihat dan membantu mempublikasikan foto berkualitas tinggi pertama dari HIV, virus yang menyebabkan AIDS.

"Tanpa diragukan lagi, dia adalah salah satu ilmuwan Skotlandia yang luar biasa pada generasinya, tetapi sayangnya dia dilupakan [...] Meskipun ironisnya, wabah COVID-19 ini telah menyinari pekerjaannya lagi," kata Hugh Pennington, profesor bakteriologi di University of Aberdeen yang pernah bekerja sama dengan June di St. Thomas dan menyebutnya sebagai mentor.

Hingga hari ini, ilmuwan masih menggunakan teknik June untuk mengidentifikasi virus secara cepat dan akurat. (*)

Related Articles
Current Issues
5 Ilmuwan Perempuan Berbakat di Bidang Sains, Teknologi, Teknik dan Matematika

Current Issues
Bisa Deteksi Penggunaan Masker, Robot Jadi Penerima Pasien di Rumah Sakit Belgia

Current Issues
Peneliti MIT Sebut Jarak 2 Meter Masih Belum Aman dari Penularan Coronavirus