Current Issues

WHO Resmi Sebut Coronavirus Berasal dari Hewan, Bukan Kebocoran Laboratorium

Dwiwa

Posted on April 23rd 2020

Semenjak corona virus disease 2019 (Covid-19) menyebar luas ke berbagai penjuru dunia, banyak teori bermunculan tentang dari mana virus ini berasal. Sejumlah teori konspirasi terlontar dan menyudutkan berbagai pihak.

Salah satu yang cukup menjadi perhatian adalah saling tuduh antara Tiongkok dan Amerika Serikat tentang asal muasal dari virus yang telah menginfeksi lebih dari 2,6 juta orang tersebut. Bahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan jika pihaknya sedang menyelidiki kemungkinan virus berasal dari laboratorium di Wuhan. Sementara Tiongkok menuding virus itu dibawa militer Amerika Serikat ketika mengikuti kejuaraan olahraga di Wuhan, Oktober 2019.

Namun ditengah semua polemik dan teori konspirasi yang bermunculan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan jika virus murni berasal dari hewan. Bukan mikroorganisme yang dikembangkan di dalam laboratorium.

“Semua bukti menunjukkan jika virus ini berasal dari hewan dan tidak dimanipulasi ataupun dibuat di laboratorium manapun. Kemungkinan besar, dan sepertinya, virus ini memang berasal dari hewan,” ujar juru bicara WHO Fadela Chaib seperti dikutip dari ABC.

Tetapi masih belum diketahui secara pasti bagaimana virus tersebut dapat melewati penghalang spesies dan kemudian menyerang manusia. Namun yang jelas, hewan menjadi inang yang berperan dalam perpindahan virus antar spesies ini.

Virus sepertinya berasal dari kelelawar, tetapi masih diperlukan banyak penelitian untuk mengetahui bagaimana virus bisa berpindah dan menginfeksi manusia. Wuhan Institute of Virology sendiri juga menolak gagasan tentang kemungkinan virus disintesis ataupun dibiarkan kabur dari laboratorium.

Jika Amerika menuduh virus berasal dari laboratorium di Wuhan, Tiongkok justru menuduh jika kemungkinan virus dibawa oleh tentara Amerika ke Wuhan. Duta Besar Tiongkok, Cui Tiankai mengkritisi tuduhan tak berdasar yang dilayangkan Trump yang mengalihkan informasi ilmiah tentang virus.

Cui juga membela penanganan yang dilakukan Tiongkok dalam menangani wabah. Mereka dituduh gagal untuk secara cepat dan transparan memperingatkan dunia tentang risiko dari coronavirus. “Yang membuatku khawatir adalah transparansi, bukan berkaitan dengan sains atau penanganan medis, tetapi lebih kepada perkembangan politik, terutama di Amerika Serikat,” ujarnya.

Dia pun menyebut jika perhatian yang diberikan kepada ilmuwan lebih sedikit karena beberapa politisi lebih memilih untuk melakukan stigmatisasi melalui tuduhan tak berdasar.

Permasalahan saling tuduh ini juga membuat Donald Trump mengumumkan akan menghentikan bantuan dana mereka kepada WHO. “Kami masih menganalisa situasi terkait pengumuman Presiden Trump. Kami akan menilai situasi dan bekerja dengan semua mitra kami untuk mengisi celah yang mungkin terjadi,” tambah Fadela.

Amerika serikat sendiri menjadi donor terbesar untuk organisasi yang berbasis di Jenewa tersebut kemudian disusul oleh Gates Foundation dan Inggris. “Sangat penting untuk melanjutkan apa yang sudah kami lakukan. Bukan hanya dengan Covid-19, tetapi juga untuk berbagai program kesehatan lain,” sambungnya. Beberapa program tersebut misalnya memerangi polio, malaria, hingga HIV.(*)

 
Related Articles
Current Issues
AstraZeneca Siap Produksi Jutaan Vaksin Potensial Covid-19 Mulai September

Current Issues
Peneliti MIT Sebut Jarak 2 Meter Masih Belum Aman dari Penularan Coronavirus

Current Issues
WHO: Tak Ada Bukti Orang Sembuh dari Covid-19 Jadi Kebal terhadap Infeksi Kedua