Current Issues

Ilmuwan Tiongkok: Mutasi Coronavirus Tertentu Lebih Mematikan

Ahmad Redho Nugraha

Posted on April 22nd 2020

Penelitian dari ilmuwan-ilmuwan Tiongkok baru-baru ini menemukan bahwa sebagian Coronavirus yang selama ini menyebar mungkin lebih mematikan dari sebagian Coronavirus yang lain.

Profesor Li Lanjuan dan rekan-rekan penelitinya dari Universitas Zhenjiang mengungkapkan bahwa mereka menemukan banyak jenis mutasi virus ini yang sebelumnya belum pernah dilaporkan dari pengamatan pasien dalam kelompok kecil. Mereka juga mengonfirmasi bahwa dengan bukti lab, beberapa jenis mutasi dalam menghasilkan virus Sars-CoV-2 yang lebih mematikan daripada jenis lainnya.

"Sars-CoV-2 dapat mencapai mutasi yang dapat mengubah sifat potogenisitasnya," tulis Li dan rekan-rekannya dalam penelitian yang ia rilis di medRxiv.org pada Ahad (19/04) lalu. Penelitian tersebut belum melewati proses peer-review, namun penemuannya itu memberikan bukti terbaru bahwa proses mutasi dapat berdampak kepada tingkat kerusakan yang bisa ditimbulkan virus kepada penderitanya.

Li menggunakan pendekatan yang tidak biasa dalam menginvestigasi mutasi virus. Ia menganalisa sampel virus yang ia ambil dari 11 pasien Covid-19 dari Hangzhou secara acak. Ia kemudian menguji kemampuan virus tersebut dalam menginfeksi dan membunuh sel.

Mutasi paling mematikan yang ditemukan pada pasien di Zhejiang juga ditemukan pada kebanyakan pasien yang ada di seluruh Eropa, sementara mutasi dengan efek yang lebih ringan dapat ditemukan pada penderita Covid-19 di sebagian Amerika Serikat, seperti di Washington.

Sementara itu, dalam penelitian yang berbeda, virus yang ditemukan di New York ternyata berasal dari Eropa, dan itu tampak pada angka kematian New York yang sama seperti rata-rata negara Eropa.

Meski demikian, mutasi yang lebih lemah tidak berarti risiko yang lebih kecil. Di Zhejiang, dua pasien berusia 30 tahunan dan 50 tahunan yang memiliki virus dengan mutasi lemah tetap saja menderita sakit. Keduanya bisa sembuh, walau pasien yang berusia 50 tahunan perlu dirawat secara intensif.

Hasil penelitian Li dapat memberikan secercah cahaya dalam menggambarkan angka kematian di tiap daerah. Selama pandemi, angka infeksi dan kematian di setiap negara berbeda-beda, dan banyak ilmuwan yang berteori soal ini.

Peneliti genetika menyadari bahwa jenis mutasi virus di wilayah geografis yang berbeda juga cenderung berbeda satu sama lain. Meski banyak peneliti yang yakin bahwa angka kematian dipengaruhi oleh mutasi virus, namun hingga kini belum ada bukti yang valid mengenai hal itu. Kemampuan Coronavirus dalam menginfeksi manusia sendiri juga sangat dipengaruhi banyak faktor, seperti usia, riwayat kesehatan dan golongan darah.

"Pengembangan obat dan vaksin, meski urgen, juga harus disertai pertimbangan tentang pengaruh mutasi virus ini demi mencegah masalah-masalah potensial di masa mendatang," ujar Li dan rekan-rekannya.

Jumlah sampel virus yang dipergunakan dalam penelitian ini relatif kecil dibandingkan dengan penelitian-penelitian lain tentang mutasi virus yang biasanya menggunakan ratusan, bahkan ribuan sampel virus. Tim peneliti Li menemukan adanya lebih dari 30 mutasi, dan 19 di antaranya adalah jenis mutasi yang baru.

Sebagian besar mutasi ini dapat mengarah kepada perubahan fungsional dalam paku protein virus, yaitu bagian unik dari struktur virus yang membuat virus tersebut dapat melekat pada sel tubuh manusia. Simulasi komputer bahkan mengungkapkan bahwa mutasi tersebut dapat meningkatkan kemampuan virus dalam menginfeksi sel manusia.

Untuk membuktikan teorinya, Li dan rekan-rekannya sengaja menginfeksi sel dengan virus yang sudah bermutasi. Virus paling agresif dapat berkembangbiak hingga 270 kali lebih banyak daripada virus dengan mutasi terlemah, dan jenis mutasi ini juga paling cepat dalam membunuh sel. Hasil tersebut sangat tidak terduga, mengingat jumlah sampel manusianya yang sedikit.

Kecepatan rata-rata Coronavirus dalam sekali bermutasi adalah satu bulan. Berdasarkan Pusat Bioinformasi Nasional Tiongkok, pada Senin (20/04) lalu, dari 10.000 virus yang diamati peneliti dari seluruh dunia, terdapat setidaknya 4.300 jenis mutasi. Namun hasil tersebut diperoleh lewat pendekatan standar yang dilakukan secara cepat, sehingga ada kemungkinan kesalahan di dalamnya.

Tim peneliti yang dipimpin Li menggunakan metode penelitian lebih canggih yang dikenal dengan nama "ultra-deep sequencing". Setiap kelompok kecil virus 'dibaca' hingga lebih dari 100 kali, sehingga para peneliti dapat melihat perubahan yang mungkin luput dari pendekatan konvensional.

Pengetahuan manusia tentang Coronavirus memang masih sangat dangkal. Hingga kini, belum ada jawaban mengenai darimana virus tersebut berasal dan mengapa virus tersebut dapat membunuh manusia muda yang sehat tanpa menunjukkan gejala yang bisa dideteksi.(*) 

Artikel Terkait
Current Issues
Cegah Gelombang Kedua Covid-19, Jepang Cek Antibodi 10.000 Penduduknya

Current Issues
Ilmuwan Oxford Klaim Vaksin Covid-19 Akan Siap September Mendatang

Current Issues
Vaksin Coronavirus Bikinan Oxford x AstraZeneca Bakal Diuji ke Anak-Anak