Current Issues

Begini Cara Negara Paling Sehat di Dunia Melawan Coronavirus

Dwiwa

Posted on April 21st 2020

Pandemi corona virus disease 2019 (Covid-19) membuat banyak sistem kesehatan di berbagai negara kewalahan. Tapi di antara negara-negara tersebut, ada yang berhasil bangkit dan menekan laju pertumbuhan kasus sehingga jumlah kematian kecil.

Rupanya, output positif ini berkorelasi dengan ranking sistem kesehatan negara di tahun sebelumnya. Ranking ini dilihat dari The Legatum Prosperity Index yang dirilis pada 2019. 

Daftar yang dikeluarkan Legatum Institute di London itu mengukur kesejahteraan ekonomi dan sosial sebuah negara berdasarkan 12 pilar. Ada 167 negara yang diteliti. Salah satu pilarnya adalah kesehatan.

Yang diukur adalah sejauh mana warga suatu negara memiliki akses ke layanan kesehatan. Termasuk kondisi kesehatan warga secara general, sistem kesehatan, penyakit dan faktor risiko, dan tingkat kematian di negara tersebut.

Dari kriteria tersebut, diperoleh jika Singapura, Jepang, Swiss, Korea Selatan dan Norwegia masuk ke dalam lima besar negara paling sehat. Kemudian di peringkat keenam ada Hongkong, disusul Islandia, Denmark, Belanda dan Austria.

Dikutip dari BBC, berikut beberapa pengalaman yang diceritakan oleh para dokter di beberapa negara paling sehat tentang cara mereka menghadapi virus corona, tantangan apa yang dihadapi, dan bagaimana perasaan penduduk yang tinggal di sana.

Jepang

Sebagai negara di peringkat kedua dalam indeks pilar kesehatan, Jepang telah mendapat banyak pujian tentang keberhasilannya menangani Covid-19. Bahkan ketika kembali terjadi lonjakan kasus dalam beberapa hari terakhir, Jepang terbilang masih mampu mengendalikan.

Negeri sakura ini pun belum memberlakukan lockdown sebagai salah satu upaya untuk pencegahan. Salah satu alasannya adalah karena kemampuan sistem medis negara tersebut dapat menangani virus pada tahap awal.

Para penduduk Jepang sejak dulu terbiasa menggunakan masker, terutama ketika musim dingin dan musim gugur. Hal tersebut menjadi penyebab Jepang tidak mengalami outbreak hingga saat ini.

Bahkan meskipun masyarakat tidak bisa mendapat tes Covid-19, yang masih difokuskan untuk pasien bergejala berat, mereka masih bisa mengunjungi klinik lokal dan didiagnosis secara cepat melalui CT scan.

“Pasien tanpa gejala dapat didiagnosa pneumonia dengan CT scan meskipun pasien berada pada fase awal (pneumonia),” ujar Mika Washio, seorang dokter asal Tokyo yang bekerja di AirDoctor.

Dengan begitu, pasien dapat segera mendapatkan perawatan. Ini adalah salah satu alasan Jepang tidak memiliki banyak kasus parah. Jepang juga sedang bekerja untuk menemukan kluster infeksi untuk meminimalisir penularan.

Kesadaran orang-orang Jepang terkait kesehatan juga menjadi faktor lain yang membuat fatalitas di negara ini rendah. Apalagi, lebih dari 60% orang Jepang rutin melakukan check-up

Meski begitu, bukan berarti Jepang tidak menghadapi tantangan. Washio mennyebut jika dalam kondisi normal pasien yang sudah terdiagnosis positif Covid-19 harusnya tinggal di rumah sakit. Namun karena keterbatasan, Jepang memprioritaskan bed rumah sakit untuk pasien dengan kondisi yang berat.

Korea Selatan

Sebagai negara dengan ranking keempat, penanganan Covid-19 di Korea Selatan juga patut mendapat pujian. Berkaca dari Middle-East respiratory syndrome (Mers) pada 2015, negeri ginseng ini terlihat begitu siap saat menghadapi pandemi.

Petugas kesehatan dan rumah sakit telahdilatih untuk menghadapi krisis semacam ini. Korea Selatan mampu melakukan tes kepada lebih dari 450 ribu orang. Dalam beberapa hari terakhir,  jumlah kasus baru yang ditemukan hanya 47 hingga 53 kasus.

Sistem kesehatan Korea Selatan juga memiliki kontribusi yang besar. Setiap penduduk dilindungi National Health Insurance Servide (NHIS). Hal ini membuat biaya medis menjadi rendah karena biaya untuk pelayanan, imaging dan tes laboratorium dicover oleh pemerintah.

“Dengan adanya outbreak Covid-19, banyak (orang) didiagnosis lebih awal dan manajemen yang baik diterapokan pada waktu yang tepat,” ujar dokter asal Korea Brandon B Suh yang juga CEO Lunit, sebuah perusahaan penyedia peralatan AI untuk layanan kesehatan.

Pemerintah juga bergerak cepat untuk membuat langkah kesehatan yang efektif. Persediaan masker distabilkan dengan menerapkan aturan khusus saat akan membeli masker. Pemeriksaan suhu badan pun dilakukan setiap akan memasuki bangunan.

Berdasar majalah Insurance Business Asia, untuk meng-cover biaya yang tidak ditanggung NHIS, 77% penduduk Korsel memilih untuk ikut asuransi kesehatan swasta. Kondisi ini memungkinkan untuk mendapat perawatan lebih baik dan juga penggunaan teknologi yang lebih mutakhir.

Secara keseluruhan, keberhasilan intervensi pemerintah di awal pandemi memunculkan harapan daripada keputusasaan. “Secara obyektif, outbreak telah berada pada tren turun. Orang-orang sudah mulai kembali beraktivitas di luar ruangan meskipun semua masih menggunakan masker,” tambahnya.

Israel

Meski berada di peringkat kesebelas, antisipasi yang dilakukan Israel sejak kasus Covid-19 merebak di Wuhan juga patut diacungi jempol. Bisa dibilang, negara ini sudah menerapkan pembatasan cukup ketat bahkan sebelum ditemukan kasus di dalam negara.

Akhir Januari 2020, menteri kesehatan telah mengeluarkan kebijakan untuk menghadapi kemungkinan adanya outbreak. Diantaranya pembatasan perjalanan internasional yang tidak penting dan isolasi mandiri selama 14 hari untuk warga yang baru pulang dari negara zona merah.

Pengujian akurat juga dilakukan sejak awal oleh Israel. “Tes diagnostik molekuler (RT-PCR) untuk mendeteksi virus corona di sampel pernapasan telah dikembangkan lebih awal oleh Central Virologi Laboratory, dan telah diperluas ke berbagai laboratorium di seluruh negeri," ujar Dokter Khitam Muhsen, konsultan kementerian kesehatan tentang krisis Covid-19.

Tidak heran jika Israel menjadi salah satu negara yang terdepan dalam melakukan tes virus corona per satu juta populasi.

Adanya sistem perawatan kesehatan berbasis publik juga memungkinkan respon yang lebih terintegrasi dan dikendalikan oleh pusat. “Orang tidak takut untuk mendatangi pusat kesehatan karena mereka tahu itu semua gratis,” ujar Profesor Arnon Afek, wakil direktur Israel Sheba Medical Center, pusat rujukan pasien virus corona.

Biaya sistem kesehatan menjadi sangat penting dalam situasi seperti ini. Sebab pemerintah ingin agar orang-orang mendatangi petugas kesehatan dan mencari pertolongan ketika memiliki gejala. Dengan begitu, petugas kesehatan dapat menemukan mereka dan mencegah terjadinya penularan.

Kelemahan Israel hanya ada pada tidak cukupnya produk domestik yang diarahkan ke pelayanan kesehatan, yang berarti lebih sedikit sumber daya. “Tetapi ini berarti kami sangat efisien, sangat aktif dan cepat beradaptasi,” tambahnya.

Arnon menyebut jika di Sheba, mereka selalu berpikir dua langkah ke depan dan mencoba menyelesaikan masalah sebelum muncul. ICU untuk virus corona dibangun, dokter tambahan juga dilatih untuk memberikan bantuan bahkan semenjak kasus belum mengalami kenaikan. Jadi ketika ada pasien datang, mereka sudah siap.

Negara ini juga memiliki tantangan pada populasi yang beragam. Misalnya komunitas ultra-orthodox yang mengabaikan peringatan dan memiliki outbreak paling besar di seluruh negeri. “Kami harus mendekati mereka dengan cara berbeda. Sekarang kami sudah mendapatkan mereka, mereka berkomitmen penuh untuk menghentikan penyebaran," sambungnya.

Jerman

Berada di peringkat kedua belas dalam indeks kesehatan, negara ini mampu menekan jumlah kematian akibat kasus Covid-19. Meski hal ini mendapat pujian, tetapi para ahli di sana memperingatkan jika saat ini negara masih belum benar-benar aman.

Ketua profesor manajemen sains di European Scool of Management and Technology di Berlin Francis de Vericourt menyebut jika tingginya tingkat pengujian di Jerman dapat memberikan ilusi tentang seberapa baik perawatan kesehatan di sana, termasuk rendahnya tingkat kematian.

Meski begitu, kemampuan negara dalam melakukan tes berskala besar berhasil memisahkan pasien tanpa gejala dari populasi sehat sehingga membantu menahan penyebaran.

Tingkat infeksi yang rendah juga bisa menjadi bumerang jika negara tidak hati-hati. Sebab, orang-orang yang memiliki imun terhadap Covid-19 jadi lebih sedikit. Karena itu, Francis meminta agar orang-orang tetap mematuhi aturan jaga jarak hingga negara benar-benar bebas dari Covid-19. “Jika tidak, akan ada gelombang besar lainnya,” ujarnya. 

Sistem perawatan kesehatan juga sangat baik dalam hal mendukung respon efektif di seluruh negeri. Sebagai negara federal dengan kekuasaan diberikan pada negara bagian, Jerman memiliki tempat tidur, ICU, dan dokter yang lebih banyak.

“Pengelolaan sumber daya ini didesentralisasi dan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Hal ini berarti jika seluruh partai politik memiliki tanggung jawab yang sama. Ini memfasilitasi kerja sama, kunci untuk menahan pandemi dan perawatan bagi pasien,” jelas Francis.

Tes sebenarnya yang dihadapi oleh sistem manajemen kesehatan negara ini adalah rantai suplai. Sebab semua ini bukan hanya tentang jumlah tempat tidur, tetapi juga jumlah persediaan untuk pasien dan tenaga medis.

“Sebagai contohnya, meningkatnya pembelian hand sanitizer di seluruh daratan Eropa membuatnya menjadi sulit didapat. Jikapun ada, tidak ada wadah ekonomis yang bisa digunakan. Ini menjadi perhatian terkait dampak item yang tidak pernah diperkirakan dalam rantai suplai kesehatan," ujarnya.

Australia

Berada di peringkat kedelapan belas di indeks pilar kesehatan, Australia berhasil menjaga tingkat pertumbuhan kasus menjadi kurang dari 5%. Australia mengombinasikan sistem perawatan kesehatan, baik itu yang ditanggung oleh pemerintah ataupun oleh pihak swasta, untuk membantu negara bersiap menghadapi skenario terburuk.

“Dalam pandemi saat ini, cara ini sangat cocok untuk mengakomodasi peningkatan untuk layanan darurat dan bed ICU,” ujar Dokter Alex Polyakov, dosen klinis senior di Universitas Melbourne. Pemerintah federal dan negara bagian menunda operasi yang tidak membahayakan nyawa. Hal ini membuat rumah sakit swasta siap untuk menampung pasien Covid-19.

Pemerintah juga menjamin dukungan finansial kepada rumah sakit swasta sebagai ganti untuk menggunakan bed dan staf mereka. Ini membuat kapasitas sistem publik menjadi dua kali lebih banyak.

Australia juga melihat rendahnya transmisi lokal yang terjadi dan memperkenalkan penelusuran kontak cepat serta karantina wajib bagi orang yang baru pulang dari luar negeri atau kontak dengan orang terinfeksi. Jika transmisi lokal ini bisa dihindari, jumlah kasus harian akan menjadi sangat rendah untuk waktu yang lama. “Ini adalah definisi dari kurva rata,” ujarnya.

Selain itu, ini juga berati jika sistem kesehatan Australia akan mampu mengelola peningkatan kebutuhan akan ventilator dan bed ICU. Hal tersebut membuat kapasitas tambahan yang disediakan dari rumah sakit swasta akan mampu menampung orang-orang yang memang membutuhkan penanganan tepat waktu.

Related Articles
Current Issues
Banyak yang Sembuh Lalu Positif Lagi, Bisakah Kita Tertular Covid-19 Dua Kali?

Current Issues
WHO: Tak Ada Bukti Orang Sembuh dari Covid-19 Jadi Kebal terhadap Infeksi Kedua

Current Issues
Ini yang Terjadi Saat Coronavirus Masuk Tubuh Manusia