Current Issues

Enggan Lakukan Social Distancing, Tanda-tanda Orang Narsis?

Delya Oktovie Apsari

Posted on April 19th 2020

(The New Yorker)

 

Ketika pandemi seperti ini, rupanya ada yang perlu kita waspadai selain coronavirus COVID-19: orang narsis. Lho, kok bisa?

Menurut Sean Grover, seorang psikoterapis, penulis dan pembicara publik di Psychology Today, orang narsis bisa 'membahayakan' orang lain.

Ia menceritakan pengalamannya bertemu 'orang narsis klasik' di supermarket yang penuh sesak. Grover saat itu sedang berbelanja sambil mengenakan masker N95.

Kemudian, ia melihat sosok narsis di keramaian tersebut; tidak mengenakan masker, menyenggol orang lain tanpa permisi dan menelepon dengan suara keras. Dari isi percakapannya, rupaya orang tersebut sedang merencanakan membuat pesta ulang tahun di rumahnya.

"Tidak hanya mengabaikan rekomendasi kesehatan, ia juga mengadakan pesta ulang tahun. So much for quarantining," tulis Grover dengan penuh sarkasme.

 

Apa 'bahaya' berinteraksi dengan orang narsis ketika pandemi?

1. Tidak bisa berpikir secara berkelompok
Coronavirus COVID-19 menyebar dengan cepat. Tergantung usia dan kesehatanmu, virus ini juga mematikan.

Untuk melindungi orang-orang yang rentan, kita harus menyesuaikan diri dengan norma sosial yang baru. Kita mengubah jadwal, mengadaptasi perilaku baru, dan mengubah gaya hidup kita. Dengan berpikir secara kelompok, kita melindungi diri sendiri dan orang lain dari COVID-19.

Sedangkan orang narsis tidak pernah berpikir secara kelompok. Mereka kekurangan kemampuan empati, memiliki pandangan sangat tinggi tentang diri mereka sendiri, dan percaya kalau mereka bebas dari norma sosial. Maka dari itu, tidak mengejutkan kalau mereka mengabaikan rekomendasi perlindungan diri dari instansi kesehatan.

 

2. Orang narsis belum dewasa secara emosional
Entah seberapa pintarnya mereka, orang narsis tetaplah belum dewasa secara emosional. Seperti anak kecil atau remaja, susah bagi mereka mendahulukan kebutuhan orang lain sebelum kebutuhan mereka.

Sesering apapun kamu berusaha mengedukasi mereka tentang kekuatan empati dan altruisme, hal tersebut tidak akan pernah 'menempel' di diri mereka.

 

3. Sulitnya mengenali orang narsis
Orang narsis tidak selalu mudah dikenali. Ada pula orang narsis yang menyenangkan, charming, lucu dan menghibur. Bahkan, banyak selebriti, politisi dan pebisnis sukses yang sebenarnya mengidap gangguan kepribadian ini.

Ketika memiliki teman, saudara atau atasan yang narsis, mereka mudah meninggalkanmu ketika kamu butuh, memusuhi ketika kamu meragukan mereka, dan mengabaikan ketika kamu tersakiti.

 

Tes untuk mengetahui orang narsis

Menurut Grover, ada sebuah tes sederhana untuk mengetahui apakah orang tersebut narsis atau tidak. Setelah menghabiskan waktu dengan seseorang yang menurutmu adalah narsisis, tanyakan pada dirimu sendiri:

-Apakah mereka menghabiskan energiku dan membuatku merasa lelah secara emosional?
-Apakah mereka hanya peduli diri sendiri, terus-terusan minta dipuji dan haus perhatian?
-Apakah mereka terobsesi dengan imej diri mereka?
-Apakah mereka hanya tertarik padaku karena mereka menginginkan sesuatu?
-Apakah mereka mengubah fakta untuk membuat diri mereka tampak seperti yang paling benar?

Bila kamu menjawab 'iya' terhadap tiga atau lebih pertanyaan-pertanyaan ini, bisa jadi kamu sedang berharapan dengan seorang narsisis. (*)

Artikel Terkait
Current Issues
10 Cara Mengurangi Stres Gara-gara Coronavirus dari Pakar Kesehatan Mental

Current Issues
Kepanikan Massal Akibat Corona Bisa Picu Gangguan Kecemasan

Current Issues
Ahli: Nostalgia Senjata Ampuh Menghadapi Social Distancing