Current Issues

Pembatasan Kurang Efektif, Covid-19 di Indonesia Bisa Meledak Seperti di Italia

Delima Pangaribuan

Posted on April 18th 2020

 
Setiap harinya, angka jumlah kasus Covid-19 yang dilaporkan pemerintah lewat media semakin tinggi. Meskipun demikian, masih banyak masyarakat yang beraktivitas seperti biasa. Antara yang memang tidak punya pilihan karena harus bekerja harian, atau ada juga yang memang abai dengan imbauan untuk menjaga jarak dan mengisolasi diri dalam rumah.
 
Kondisi ini bahkan menarik perhatian media-media luar negeri. South China Morning Post mencatat jumlah kasus kematian akibat Covid-19 di Indonesia menjadi yang tertinggi se-Asia Tenggara, menyentuh angka 469 kematian per Jumat (17/4). Melihat jumlah ini dan masih tingginya mobilitas manusia terutama dari daerah ke daerah, mereka menyimpulkan bahwa kemungkinan kasus bisa meroket. Dan Indonesia bisa mengulang kasus di Italia.
 
 

Pemerintah kita memang nggak menerapkan lockdown seperti sejumlah negara lain. Hanya menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), itu pun baru berlaku di beberapa daerah saja. Belum secara menyeluruh. Ibu kota Jakarta yang sudah melakukan PSBB pun masih banyak ditemukan warga yang bepergian ke luar atau memilih keluar dari Jakarta untuk pulang ke kampung halaman.
 
Analis yang dikutip SCMP mengatakan bahwa Indonesia berpotensi menjadi seperti Italia. Negara di Eropa bagian selatan ini banyak diperbincangkan soal Covid-19 karena buruknya sistem pencegahan persebaran penyakit mereka. Meski jumlah kasus mulai meningkat pada Februari, warga Italia masih beraktivitas seperti biasa. Mereka tetap jalan-jalan, nongkrong, mencari hiburan, karena merasa tidak akan tertular.
 
Tindakan ini yang kemudian membuat jumlah kasus Covid-19 di Italia meroket tajam. Angka kematiannya mencapai 21 ribu, terbanyak kedua di dunia setelah Amerika Serikat yang mencapai 31 ribu. Tapi mengapa Italia lebih mendapat sorotan? Sebab perbandingannya dengan jumlah penduduknya yang lebih tinggi. AS berpenduduk 300 juta jiwa, 1 berbanding 10 ribu. Sementara Italia "hanya" 60 juta jiwa. Sekitar satu di antara 3 ribu orang terinfeksi.
 

Ahli menilai pergerakan Indonesia yang lamban dalam penanganan ini bisa berujung seperti Italia. Dengan jumlah penduduk yang lebih banyak, 270 juta jiwa, maka potensi jumlah warga yang tertular lebih tinggi lagi. Universitas Indonesia bahkan menghitung prakiraan akan ada 1,5 juta orang yang terjangkit Covid-19 per bulan Mei. Dengan angka kematian diperkirakan mencapai 140 ribu jiwa.
 
Periset dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) M Habib Abiyan Dzakwan menyebutkan, alih-alih menjadi "Italia kedua", Indonesia mungkin akan memiliki kasus yang jauh lebih parah dibandingkan Italia. Dengan risiko terhadap tenaga medis juga besar. Italia mencatat kematian dokter hingga lebih dari 100 orang. Saat ini, sudah ada 22 dokter dan 16 tenaga medis lainnya di Indonesia yang meninggal akibat Covid-19.
 
Angka yang meningkat ini bakal nggak terbendung kalau pemerintah tidak mengambil langkah tegas dengan aturan mengikat soal pembatasan sosial. Sejauh ini, orang tetap bisa mudik atau pulang kampung karena memang nggak dilarang, cuma diimbau jangan mudik aja. Warga yang berpindah kota inilah yang berisiko membawa virus dan menularkannya ke daerah lain, memperluas cakupan penularan SARSS-Cov-2.(*)
Artikel Terkait
Current Issues
Muncul Lagi Istilah PPKM untuk Pembatasan Jawa-Bali, Apa Bedanya dengan PSBB?

Current Issues
WHO: Enam Negara Melaporkan Virus Corona Terkait Peternakan Cerpelai

Current Issues
Ilmuwan Sarankan Pengujian dan Pelacakan Kontak Sebelum Sekolah Dibuka Kembali