Current Issues

WHO: Tidak Ada Bukti Tes Antibodi Tunjukkan Tubuh Kebal Terhadap Coronavirus

Dwiwa

Posted on April 18th 2020

Tes antibodi untuk mengetahui ada tidaknya sistem kekebalan tubuh terhadap virus SARS-Cov-2 telah menjadi tren dalam beberapa waktu terakhir. Tes serologi (pemeriksaan darah untuk mendeteksi antibodi) ini disebut dapat menangkap apa yang mereka pikir akan menjadi ukuran dari kekebalan tubuh seseorang.

“Tes antibodi dapat mengukur level serologi, yang merupakan level antibodi, tetapi itu tidak berarti jika orang yang telah memiliki antibodi menjadi kebal,” ujar dokter Maria Van Kerkhove, kepala emerging disease dan unit zoonosis Badan Kesehatan Dunia (WHO) seperti dikutip dari CNBC.

Tes serologi atau tes antibodi ini dapat melihat jika seseorang pernah terpapar corona virus disease 2019 (Covid-19) di masa lalu baik itu tanpa gejala ataupun yang sudah sembuh. Fungsi dari tes ini adalah untuk mengukur level antibodi yang ada di dalam tubuh.

Respon antibodi muncul pada tubuh dalam waktu seminggu atau dua minggu setelah terinfeksi. “Saat ini, kami tidak memiliki bukti jika penggunaan tes serologi dapat memperlihatkan seseorang kebal atau terlindungi dari infeksi berulang,” ujar Maria.

Dokter Mike Ryan, Direktur Eksekutif WHO untuk program kedaruratan, mengatakan jika ilmuwan tengah meneliti berapa lama antibodi dapat melindungi seseorang yang pernah terinfeksi oleh virus corona.

“Tidak ada yang yakin apakah seseorang dengan antibodi akan sepenuhnya terlindungi dari penyakit ataupun infeksi berulang. Lagi pula, tes yang dilakukan memiliki masalah dengan sensitivitas. Ini mungkin bisa menghasilkan negatif palsu,” jelasnya.

Awal minggu ini WHO menyatakan jika tidak semua orang yang sembuh dari virus Corona memiliki antibodi untuk melawan infeksi kedua. Hal ini meningkatkan kekhawatiran jika pasien mungkin tidak mengembangkan kekebalan tubuh setelah sembuh dari Covid-19.

“Sehubungan dengan kesembuhan dan infeksi ulang, saya yakin kami tidak memiliki jawabannya. Ini masih belum diketahui,” tambahnya.

Sebuah penelitia pendahuluan pada pasien di Sanghai, Tiongkok menemukan hal serupa. Beberapa dari pasien yang mereka teliti terdeteksi tidak memiliki respon antibodi, sementara sebagian lain memiliki respon yang sangat tinggi. “Apakah pasien yang memiliki respon antibodi tinggi kebal terhadap infeksi kedua, itu adalah pertanyaan yang berbeda,” ujar Maria.

Hingga hari ini (18/4), Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 2,2 juta orang di dunia. Namun para ahli berpikir jika mungkin saja jumlah kasus sesungguhnya di lapangan jauh lebih tinggi. Hal ini dikarenakan banyak orang yang tidak terdeteksi. Banyak negara juga masih kesulitan untuk melakukan tes secara massal.

Nah, agar jumlah kasusnya tidak semakin meningkat, tetap #dirumahaja adalah pilihan yang bijak. Jika memang terpaksa harus keluar rumah, gunakanlah masker kain dan jaga jarak setidaknya dua meter dari orang lain. Jangan lupa, selalu cuci tangan dengan sabun di air mengalir.(*)

 

Related Articles
Current Issues
Gelombang Pertama Masih Berlanjut, WHO Peringatkan Covid-19 Bukan Musiman

Current Issues
WHO Peringatkan Pandemi Covid-19 Mungkin Masih Bisa Lebih Buruk

Current Issues
WHO: Tak Ada Bukti Orang Sembuh dari Covid-19 Jadi Kebal terhadap Infeksi Kedua