Current Issues

Tak Hanya Paru-Paru, Penelitian Ini Sebut Covid-19 Bisa Merusak Organ Lain

Dwiwa

Posted on April 17th 2020

Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan coronavirus tidak hanya merusak paru-paru, tetapi juga mungkin merusak jantung, ginjal dan hati. Para ahli medis di seluruh dunia menemukan bukti jika kemungkinan Covid-19 dapat menyebabkan beberapa masalah yang tidak terkait dengan paru.

Dikutip dari New York Post, The Wasington melaporkan jika Covid-19 dapat menyebabkan inflamasi jantung, gagal ginjal akut, kerusakan saraf, pembekuan darah, kerusakan saluran cerna dan masalah hati.

Menurut keterangan Alan Kliger, seorang nefrolog di Sekolah Kedokteran Yale, hampir separuh dari pasien positif yang dirawat di rumah sakit memiliki darah dan protein di dalam urin mereka. Hal ini berarti jika terjadi kerusakan awal pada ginjal.

Data awal juga memperlihatkan jika 14 hingga 30 persen dari pasien ICU di New York dan Wuhan mengalami penurunan fungsi ginjal dan membutuhkan dialisis ataupun terapi penggantian ginjal terus menerus.

“Itu adalah jumlah yang besar untuk masalah ini. Hal tersebut baru bagi saya. Aku pikir sangat mungkin virus menempel pada sel ginjal dan menyerangnya,” ujar Alan. Bahkan penyakit ini dapat membahayakan jantung.

Dokter di New York dan Tiongkok juga melaporkan adanya miokarditis, peradangan pada otot jantung, dan irama jantung yang tidak teratur yang mengarah pada henti jantung pada pasien positif Covid-19.

“Mereka tampak baik selama status pernafasan berjalan, dan tiba-tiba berkembang ke masalah jantung yang terlihat tidak sebanding dengan masalah pernafasan,” ujar Mitchell Elkind, ahli saraf di Universitas Kolombia dan juga presiden terpilih di American Heart Association.

Beberapa laporan juga menunjukkan jika virus dapat mengincar hati. Termasuk juga menyebabkan terjadinya gumpalan darah di pembuluh darah kaki dan lainnya yang memungkinkan untuk pecah. Gumpalan ini bisa terbawa aliran darah ke paru-paru dan menyebabkan kematian akibat emboli paru.

Sanjum Sethi, asisten profesor kedokteran di Irving Medical Center Universitas Kolombia pun menyebut jika tidak heran obat pengencer darah semakin banyak digunakan untuk mengobati pasien. “Kami baru saja melihat hal ini sehingga masih harus menyelidikinya lebih lanjut,” ujarnya.(*)

Artikel Terkait
Current Issues
Setelah Kota Wuhan, Provinsi Hubei Kini Mulai Longgarkan Aturan Lockdown

Current Issues
Siswa di Wuhan, Kota Pertama Ditemukannya Covid-19, Kembali Sekolah

Current Issues
Lockdown Dibuka, di Wuhan Ada Kasus Baru, di Jerman Penderita Meningkat