Current Issues

Perubahan Iklim Bikin Virus Makin Kuat, Manusia Tambah Lemah

Delima Pangaribuan

Posted on April 16th 2020

(NASA)

 
Nggak ada yang tahu sampai kapan pandemi Covid-19 ini akan berlangsung. Sebab virus ini menyerang seluruh dunia dengan rentang waktu yang cukup lama, mungkin bisa dibilang ini merupakan pandemi terparah abad ini. Tapi kalian tahu nggak sih kalau ternyata kondisi coronavirus saat ini dipengaruhi juga sama perubahan iklim?
 
Korelasinya emang nggak bisa dikaitkan secara langsung. Tapi, menurut ahli yang dikutip sama The Washington Post, kita tidak bisa mengabaikan fakta kalau perubahan iklim memang bisa mengakibatkan coronavirus berada pada level super. Bukan cuma Covid-19 aja ya, tapi nggak menutup kemungkinan jenis coronavirus lain juga.
 
National Academies of Sciences menyatakan kalau virus SARS-Cov-2 khususnya nggak terpengaruh sama temperatur global. Dia sudah bermutasi dan menyesuaikan diri dengan suhu di berbagai belahan bumi.

 
Anggapan manusia bahwa virus ini bisa mati di tempat yang lebih panas atau lembab terpatahkan. Dia bisa hidup di mana saja. Fakta ini menegaskan juga kalau perubahan iklim ternyata "memperkuat" virus dan menjadikannya dua-tiga kali lebih mengancam.
 
The Washington Post menyebutkan ada setidaknya 320 ribu jenis virus di dunia dan jarang banget mereka hanya menyerang satu jenis makhluk hidup. Virus membajak kemampuan sel dalam tubuh untuk menggandakan diri. Virus juga lebih cepat berkembang dan bermutasi dibandingkan sel dalam tubuh itu sendiri.
 
Virologist atau ahli viruis University of Wisconsin, Dave O'Connor, menilai fragmentasi habitat merupakan masalah utama. Fragmentasi habitat mengubah kondisi lingkungan akibat aktivitas manusia dan menyebabkan beberapa masalah. Mulai dari kerusakan lingkungan, kepunahan spesies, sampai mempermudah penularan penyakit dari hewan ke manusia. Masalah terakhir ini yang diyakini ahli sebagai biangnya pandemi.

 
"Kita memiliki jaringan interaksi jaringan yang rumit dan ini memberikan kesempatan untuk penyakit mengeksplorasi inang (host) yang lebih beragam dan memperoleh berbagai sifat yang bisa disesuaikan untuk membentuk virus itu," jelas Dave.
 
Kontak manusia dan hewan yang lebih banyak ini disebabkan antara lain oleh aktivitas perpindahan binatang yang lebih masif. Habitat aslinya rusak karena perubahan iklim (bisa karena kebakaran hutan atau banjir) dan membuat mereka berpindah ke tempat lain serta kontak dengan manusia.
 
Kemudian, perubahan iklim ikut mengubah kondisi tubuh manusia. Cuaca yang semakin tidak menentu berpengaruh ke daya tahan tubuh. Polusi yang tinggi sedikit demi sedikit mempengaruhi saluran pernafasan manusia menjadi semakin lemah dari waktu ke waktu. 
 
Studi yang dilakukan Harvard University menyebutkan bahwa orang-orang yang tinggal di lingkungan dengan polusi tinggi lebih rentan dan sulit melawan penyakit seperti Covid-19. Kemudian, cuaca yang hangat justru membuat partikel-partikel kecil seperti debu, alergen, dan ozon lebih mudah terurai dan mengiritasi saluran pernafasan.
 
Ekologis ekosistem McGill University Montreal, Elena Bennet, berpendapat kalau cara yang paling ampuh untuk mencegah merebaknya pandemi mematikan ini adalah dengan menjaga Bumi juga tetap sehat. Kalau Bumi sehat, maka manusia yang tinggal di dalamnya juga akan sehat. Sulit untuk menjaga kesehatan manusia kalau lingkungannya sendiri sudah rusak.
 
Elena menilai tindakan masyarakat saat ini yang sudah membatasi aktivitas ke luar rumah sedikit banyak membantu "penyembuhan" Bumi itu. Polusi nggak separah dulu, baik karena kendaraan maupun aktivitas pabrik dan ekonomi lainnya. Dia berharap ketika vaksinnya nanti sudah ditemukan pun, manusia nggak lupa untuk tetap menjalankan perilaku yang ramah lingkungan seperti ini. (*)
Related Articles
Current Issues
Perubahan Iklim dan Covid-19: Apakah Global Warming Menyebabkan Pandemi?

Current Issues
Seru! Ratusan Murid di Dunia Belajar Bikin Film Pendek dari Rumah

Current Issues
WHO: 1 Dari  10 Orang Mungkin Sudah Tertular Covid-19