Current Issues

Survei Sebut Gen Z Alami Stres Pascatrauma (PTSD) Akibat Pandemi Covid-19

Dwiwa

Posted on April 16th 2020

Pandemi Covid-19 memengaruhi hidup siapa saja. Termasuk Gen Z alias generasi Z, yakni anak-anak yang lahir dari tahun 1996 hingga 2010. Dalam survei yang dilakukan oleh Archrival, terungkap bagaimana anak-anak yang tumbuh bersama teknologi itu merasa resah dan tak yakin dengan kehidupan pascapandemi. 

Dikutip dari Teenvogue, Archrival telah bertanya kepada lebih dari 200 anak muda di Amerika Serikat tentang bagaimana virus Corona telah mengubah hidup mereka.

Salah satu pertanyaan dari penelitian ini adalah berapa banyak Gen Z yang merasa telah dirampok dari momen penting mereka di masa muda. “Hampir semua dari anak muda yang kami tanyai selama penelitian menyebutkan jika Covid-19 telah mengganggu sebagian besar kehidupan dan rencana yang telah mereka susun,” ujar Ben Harms, direktur insights and strategy di Archrival.

Beberapa rencana yang sudah dinanti lama seperti acara kelulusan sekolah maupun kuliah, magang di musim panas dan bekerja harus dibatalkan karena pandemi. Bahkan situasi hidup mereka berubah drastis. Situasi memaksa agar mereka, dan sebagian besar orang di dunia, untuk diam di rumah demi mencegah virus Corona semakin meluas.

Apa yang diungkapkan oleh Gen Z ini tidak mengejutkan. Situasi saat ini membuat semua orang benar-benar merasa terganggu dengan penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 tersebut. “Tetapi yang terasa sangat memilukan pada Gen Z adalah bagaimana mereka merasa momen dan pengalaman yang telah mereka kerjakan sepanjang hidup dirampas begitu saja,” tambahnya.

Hal ini membuat Gen Z merasa terpukul. Acara yang sudah mereka tunggu selama bertahun-tahun dengan tidak sabar harus batal begitu saja. “Semua orang di kelas akhir membicarakan tentang pembatalan, termasuk prom dan kelulusan. Itu membuatku dan teman-teman angkatan 2020 merasa kesal karena ini adalah hal yang kami harapkan dan harusnya kami dapatkan,” ujar Emma.

Bukan hanya itu saja yang menjadi duka bagi Gen Z. Sementara krisis nasional ini menjadi yang pertama untuk banyak orang, Ben menyebut jika banyak Gen Z yang mengekspresikan keprihatinan jika kekecewaan yang mereka alami akan menjadi sesuatu yang berlanjut sepanjang hidup mereka.

“Banyak Gen Z berkata mereka mempertanyakan dan memikirkan ulang standar untuk sukses dan apa yang mungkin mereka capai dalam hidup. Beberapa bertanya-tanya apakah mereka telah diberi tahu kehidupan mereka akan lebih baik dibanding yang seharusnya,” lanjutnya.

Ben menyebut jika generasi ini seolah-olah memiliki gangguan stress pascatrauma (PTSD) kolektif. Bahkan banyak yang mengatakan jika mereka khawatir tidak akan bisa melupakan gagasan bahwa segala sesuatu bisa hancur dalam sekejap mata.

Para anak muda yang menjadi bagian dari survei itu pun banyak mengungkapkan apa yang mereka rasakan saat ini. “Saya selalu tahu jika perubahan iklim harus kita hadapi, tetapi sekarang kita harus berurusan dengan kekacauan dunia dengan cara berbeda,” ujar Cooper, 21.

Hal senada juga diungkapkan oleh Mathias. Pemuda 20 tahun ini menyebut jika generasinya memang sudah siap untuk sesuatu semacam krisis global. “Tetapi ketika kami berada di dalamnya, kami tidak tahu langkah selanjutnya,” kata Mathias.

Tetapi itu tidak berarti jika Gen Z benar-benar putus asa. Meski ada banyak pertanyaan di benak mereka yang belum terjawab, Gen Z tetap menghargai waktu yang mereka habiskan bersama orang-orang terkasih, baik itu yang dekat ataupun jauh.

Mereka memang hyper-digital, tetapi ini tidak berarti jika Gen Z tidak merindukan berkumpul dengan teman-teman mereka secara langsung.

“Kami pikir mereka adalah generasi yang paling akrab dengan dunia digital saat ini, tetapi sekarang banyak yang sadar jika koneksi digital, entah itu pesta lewat Zoom, Instagram Lives, FaceTime, sama sekali tidak cukup. Mereka benar-benar ingin kembali terhubung dengan teman-teman mereka di dunia nyata,” ujar Ben.

Jika kalian merasa bersalah karena medindukan teman-teman atau kecewa karena acara kelulusan dibatalkan, ingatlah bahwa bersedih untuk hal-hal yang kecil itu tidak apa-apa. Tidak ada benar dan salah dalam perasaan. Saat kalian membutuhkan seseorang untuk berbicara, bicaralah dengan orang yang kalian percayai dan sayangi.

Related Articles
Current Issues
Mirip Generasi Pertama, Ilmuwan Temukan Jenis Sel Tubuh yang Rentan SARS-Cov-2

Current Issues
WHO: Tak Ada Bukti Orang Sembuh dari Covid-19 Jadi Kebal terhadap Infeksi Kedua

Current Issues
Peneliti di AS Buat Laboratorium Robot yang Mampu Menguji 1000 Sampel per Hari