Current Issues

Kata Peneliti Kalau Kondisi Ini Terjadi, Lockdown Bisa Berjalan Sampai 2022

Ahmad Redho Nugraha

Posted on April 16th 2020

Hingga sekarang, belum ada yang tahu pasti sampai kapan pandemi Covid-19 akan terus berlangsung. Meski beberapa negara seperti Tiongkok sudah mulai pulih dan mencabut status lockdown-nya secara bertahap, sebagian besar negara lain di dunia baru akan memasuki fase puncaknya. Salah satunya adalah Amerika Serikat (AS).

Sebagian peneliti meramalkan bahwa AS harus memberlakukan pembatasan sosial, termasuk penutupan sekolah dan imbauan untuk tinggal di rumah, sampai tahun 2022 mendatang. Ini terjadi jika negara yang dipimpin Donald Trump itu tidak kunjung memiliki vaksin. Atau setidaknya memiliki metode pengobatan yang lebih baik dalam menghadapi Covid-19.

Perkiraan tersebut dicetuskan oleh peneliti-peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health dalam sebuah jurnal ilmiah Yang dipublikasikan Selasa (14/04). Hasil penelitian tersebut bertolak belakang dari penelitian White House yang menyatakan bahwa pandemi akan berakhir pada musim panas mendatang atau sekitar tahun depan. 

"Penjagaan jarak antar orang akan terus dibutuhkan sampai tahun 2022 mendatang, kecuali jika kapasitas penanganan kesehatan meningkat, atau jika vaksin atau teknik pengobatan baru telah ditemukan sebelum itu," tulis mereka dalam jurnalnya.

"Bahkan dalam masa eliminasi seperti ekarang, pemantauan SARS-CoV-2 harus dapat terus dilakukan, karena penularan dapat terus berlangsung hingga paling lambat tahun 2024."

Tim peneliti Harvard juga yakin bahwa penyebaran virus akan kembali terjadi dengan cepat jika karantina wilayah dicabut. Selain itu, untuk saat ini belum diketahui bagaimana cara mengetahui apakah seseorang yang pernah terinfeksi virus korona langsung memiliki kekebalan terhadap virus ini atau tidak.

"Jika penjagaan jarak (antar orang) adalah pendekatan medis yang dilakukan, maka itu perlu dilakukan hingga selama beberapa tahun, atau dengan kata lain dalam waktu yang sangat panjang," ujar Dr. Marc Lipstich, penulis jurnal tersebut, sekaligus profesor epidemiologi di Harvard School of Public Health.

Tantangan utama dalam penanganan pandemi adalah menemukan cara untuk mengidentifikasi manusia yang sudah memiliki antibodi. Mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkannya untuk membangun imunitas terhadap virus, serta membangun sistem yang efisien dalam melakukan uji imunitas untuk semua orang.

Selain dari sisi medis, hasil penelitian tim Harvard tersebut juga meninjau dampak pembatasan sosial dari sisi ekonomi, sosial dan pendidikan. Mereka berharap hasil penelitian mereka dapat membantu banyak pihak dalam mengidentifikasi solusi alternatif serta menjadi pertimbangan untuk merancang cara mengendalikan pandemi Covid-19.

Dalam menghadapi jumlah kasus Covid-19 di AS terus meningkat, pembatasan sosial sejauh ini menjadi solusi yang efektif. Robert Redfield, Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS mengatakan bahwa pembatasan sosial saat ini merupakan salah satu senjata paling ampuh dalam melawan Covid-19.

"Jika kita bisa memaksimalkan pembatasan sosial, kita bisa membatasi kemampuan (penyebaran) virus ini," ujarnya awal bulan April lalu.

Berbagai negara bagian di AS telah mengimbau masyarakatnya untuk tetap tinggal di rumah dan hanya memperbolehkan keluar rumah untuk urusan penting atau mendesak. Hukuman bagi pelanggar imbauan tersebut cukup variatif di tiap negara. Di Maine, pelanggar bisa dikenai penjara hingga enam bulan atau dikenakan denda 1000 dolar Amerika atau sekitar Rp 15,6 juta. 

Pekan ini, negara bagian di timur dan barat Amerika mengumumkan bahwa mereka membentuk pakta untuk bekerjasama mengamankan wilayah mereka jika perintah karantina wilayah dicabut. California, Washington dan Oregon juga menyatakan bahwa mereka siap bekerjasama dalam menyukseskan perpanjangan perintah pembatasan sosial.

Semoga saja vaksi dan pengobatan untuk Covid-19 bisa segera ketemu ya.(*)

Related Articles
Interest
Panic Buying Warga AS Berubah, Minggu Kelima Borong Pewarna Rambut

Current Issues
Pindah Lagi, Kini Titik Pusat Pandemi Covid-19 Berada di Brasil

Current Issues
Peneliti Ini Buat Simulasi Bagaimana Coronavirus Bisa Menyebar Lewat Udara