Current Issues

Banyak yang Sembuh Lalu Positif Lagi, Bisakah Kita Tertular Covid-19 Dua Kali?

Dwiwa

Posted on April 15th 2020

Belum lama ini Korea Selatan melaporkan adanya pasien yang kembali dinyatakan positif corona virus disease 2019 (Covid-19) setelah sebelumnya dinyatakan sembuh. Jika pekan lalu dilaporkan hanya ada 51 kasus, pekan ini jumlah melonjak hingga 116 kasus.

Bukan hanya Korea Selatan saja yang melaporkan kejadian tersebut. Sebelumnya, Tiongkok juga sudah mempublikasikan kasus serupa. Bahkan di negeri panda ini jumlah pasien yang positif kembali mencapai 5 hingga 10 persen dari kasus yang sudah sembuh.

Kasus tersebut membuat seluruh dunia merasa khawatir. Mungkinkah virus SARS-Cov-2 bisa kembali menginfeksi? Apakah antibodi yang terbentuk setelah terinfeksi dapat menangkal virus ini?

Jawaban pasti dari pertanyaan-pertanyaan tersebut masih belum diketahui pasti hingga saat ini. Badan Kesehatan Dunia (WHO) masih menyelidiki bagaimana pasien yang sebelumnya sudah dinyatakan sembuh bisa kembali positif.

Juru bicara WHO mengatakan pada Reuters jika mereka memberikan perhatian penuh terhadap kasus kembalinya pasien positif yang sebelumnya sudah dinyatakan negatif Covid-19 dengan PCR (polymerase chain reaction).

“Kami bersama dengan para ahli klinis tengah bekerja keras untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang kasus tersebut. Penting untuk memastikan jika sampel yang diambil dari suspek (pasien dicurigai) dilakukan dengan prosedur yang benar,” ujarnya.

Berdasarkan panduan WHO, seorang pasien bisa dinyatakan sembuh ketika melakukan dua kali tes PCR dan hasilnya negatif. Kedua tes ini dilakukan setidaknya dengan jarak waktu 24 jam. Penelitian saat ini menunjukkan adanya periode dua minggu antara timbulnya gejala dan pemulihan klinis pasien Covid-19.

“Kami tahu beberapa pasien kembali positif saat tes PCR setelah pulih secara klinis, tetapi kami membutuhkan pengumpulan sampel pasien sembuh yang sistematis untuk lebih memahami berapa lama mereka menjadi gudang untuk virus yang hidup,” tambahnya.

Sementara itu, direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea Selatan (KCDC) Jeong Eun Kyeong menyebut jika kasus yang terjadi mungkin aktif kembali. Dia meyakini jika semua kasus positif kembali ini bukan karena terinfeksi kembali. Meski begitu, penyebab sebenarnya dari kejadian ini masih dilakukan penyelidikan.

Sementara para ahli lain berpendapat jika kesalahan dalam melakukan tes mungkin saja memiliki peran. Atau bisa jadi ada sisa-sisa virus masih ada di dalam tubuh pasien tetapi tidak menular ataupun membahayakan pasien maupun orang lain.

Hal yang menarik adalah, baik di Tiongkok maupun Korea Selatan, pasien sembuh yang kembali ditemukan positif sama sekali tidak menimbulkan gejala.Mereka terlihat sehat tanpa adanya batuk ataupun demam seperti yang banyak dirasakan saat terinfeksi virus pertama kali.

“Untuk kasus yang kembali positif, pihak resmi menyatakan jika mereka belum terbukti menular. Ini tidak sama dengan mengatakan mereka tidak menular,” ujar salah satu dokter di Wuhan yang kembali dinyatakan positif setelah sembuh kepada NPR.

Selain Tiongkok dan Korea, Jepang juga pernah melaporkan adanya kasus pasien yang kembali positif setelah sembuh pada Februari lalu. Beberapa ahli kesehatan memperingatkan jika mungkin saja virus dapat “tidur” di dalam tubuh sebelum mencapai paru-paru dan membuat kekacauan.

“Ketika kalian terinfeksi, ini bisa tetap dorman dengan gejala minimal. Dan kemudian kondisi akan memburuk ketika virus ini menemukan jalan ke paru-paru,” ujar Profesor Philip Tierno di sekolah kedokteran Universitas New York.

Philip pun tidak yakin apakah virus ini bifasik seperti antraks atau tidak. Maksudnya adalah apakah penyakit ini mungkin terlihat sembuh sebelum akhirnya kambuh kembali. Meski begitu, belum ada penjelasan pasti tentang apa yang sedang terjadi saat ini.

Dikutip dari Independent, Direktur Pencegahan dan Penanganan Pneumonia di China Japan Frienship Hospital di Beijing menyebut jika orang yang telah terinfeksi akan membuat antibodi untuk perlindungan. Tetapi masih belum jelas berapa lama perlindungan ini bertahan.

“Pada beberapa individu tertentu, antibodi tidak dapat bertahan lama. Beberapa pasien yang sembuh bisa saja kambuh,” kata Li kepada USAToday. Pada anak-anak, saat ini diyakini jika virus membuat tubuh mengembangkan setidaknya sistem kekebalan jangka pendek.

Dokter Peter Jung, asisten profesor pediatri di sekolah kedokteran Universitas Texas di Houstan mengatakan kepada The Huffington Post bahwa meski belum pasti, kebanyakan anak-anak mungkin menghasilkan kekebalan jangka pendek untuk virus yang menyebabkan Covid-19.

“Tetapi seperti halnya flu dapat bermutasi, demikian juga Covid-19, yang dapat membuat seseorang rentan untuk terinfeksi kembali,” ujarnya. Namun menurut dokter Stephen Gluckman, seorang dokter penyakit menular di Penn Medicine, orang yang sudah pernah terpapar penyakit ini akan menghasilkan kekebalan tubuh pada sebagian besar individu, seperti yang terlihat pada virus corona jenis lain.

“Virus corona bukan hal baru. Jenisnya banyak dan tidak hanya menginfeksi manusia. Jadi kita tahu banyak tentang virus corona secara umum. Setidaknya, ketika terinfeksi jenis virus corona tertentu akan membuat kalian kebal. Kami tidak memiliki cukup data untuk virus baru ini, tetapi sepertinya hal yang sama juga terjadi,” ujarnya.

Beberapa pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh mungkin memiliki penurunan pada fungsi paru-paru. Hal ini berarti bahwa orang yang awalnya dinyatakan sembuh cenderung kambuh dibanding kembali terinfeksi.

Sebuah penelitian menunjukkan jika seseorang yang terinfeksi ringan dapat dites positif dengan swab tenggorokan selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu setelah sakit. Tetapi ini tidak berarti tidak mungkin tertular lagi, khususnya untuk mereka yang memiliki gangguan pada sistem imun.

CDC menyatakan jika respon imun terhadap Covid-19 masih belum dipahami. Pada pasien yang terinfeksi MERS-Cov, mereka tidak terinfeksi kembali dalam waktu dekat setelah pulih. “Tetapi saat ini belum diketahui apakah perlindungan imun yang serupa berlaku untuk pasien Covid-19,” jelas CDC.

Saat ini para ilmuwan tengah sibuk mempelajari SARS-Cov-2 dan mencoba menemukan obat dan vaksin yang tepat. Para tenaga medis berjuang untuk menyelamatkan sebanyak mungkin pasien yang positif terinfeksi. Sedangkan kita sebagai orang awam bisa berkontribusi dengan tetap diam di rumah, jaga jarak, dan rajin mencuci tangan dengan sabun.

Related Articles
Current Issues
Begini Cara Negara Paling Sehat di Dunia Melawan Coronavirus

Current Issues
WHO: Tak Ada Bukti Orang Sembuh dari Covid-19 Jadi Kebal terhadap Infeksi Kedua

Current Issues
Ini yang Terjadi Saat Coronavirus Masuk Tubuh Manusia