Interest

5 Pemimpin Perempuan ini Selamatkan Negaranya dari Dampak Terburuk Coronavirus

Delya Oktovie Apsari

Posted on April 15th 2020

Kanselir Jerman Angela Merkel, Perdana Menteri Finlandia Sanna Marin, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen, Perdana Menteri Islandia Katrín Jakobsdóttir dan Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern.

 

Di tengah carut-marut pandemi coronavirus COVID-19, berbagai keputusan yang diambil pemimpin negara tak pernah luput dari kritik masyarakat. Dari 210 negara yang diketahui memiliki kasus coronavirus COVID-19, hanya beberapa di antaranya yang dinilai berhasil menangani pandemi dengan baik, seperti Korea Selatan, Singapura dan Vietnam.

Selain ketiga negara tersebut, ada lima negara lain yang pemimpin negaranya merupakan perempuan, dan aksi mereka dalam menangani pandemi mendapat pujian dari luar maupun rakyat negara mereka sendiri. Kelima negara ini adalah Taiwan, Jerman, Selandia Baru, Finlandia dan Islandia.

 

1. Presiden Taiwan Tsai Ing-wen

(Yahoo)

 

Dilansir dari CNN, ketika Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen mendengar tentang virus baru misterius yang menginfeksi warga Wuhan pada Desember tahun lalu, ia segera memerintahkan pemeriksaan terhadap semua penerbangan di Taiwan yang datangnya dari Wuhan.

Tsai Ing-wen kemudian mendirikan pusat komando epidemi, menggenjot produksi Alat Pelindung Diri (APD), masker wajah, dan membatasi semua penerbangan dari Tiongkok, Hong Kong dan Makau.

Berkat langkah awal yang agresif ini, tercatat hanya 393 warga Taiwan yang terinfeksi coronavirus COVID-19, dan enam di antaranya meninggal.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) pun memuji keberhasilan Taiwan dan meminta agar Taiwan diberi status pengamat di WHO Assembly. Kini, Taiwan menjadi negara yang mengekspor jutaan masker untuk membantu Uni Eropa dan negara lainnya.

 

2. Kanselir Jerman Angela Merkel

(Medium)

 

Jumlah orang yang terinfeksi coronavirus COVID-19 di Jerman adalah 132.210 dari 83 juta penduduk. Tetapi, angka kematiannya paling rendah dibanding negara Eropa lainnya, yakni 3.495. Sebanyak 58.112 orang sudah sembuh.

Berkat penanganan cepat tanggapnya, rating persetujuan Angela Merkel yang dilakukan oleh warganya meningkat tajam. Saat ini, Jerman memiliki tempat tidur untuk perawatan intensif paling banyak, serta program tes coronavirus dengan skala terbesar se-Eropa.

"Mungkin kekuatan terbesar kami di Jerman ... adalah pengambilan keputusan yang rasional di tingkat pemerintahan tertinggi dikombinasikan dengan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah," kata Hans-Georg Kräusslich, kepala virologi di Rumah Sakit Universitas di Heidelberg, kepada New York Times.

 

3. Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern

(10daily)

 

Selandia Baru adalah negara pulau dengan jumlah penduduk hampir 5 juta, dan pendapatan terbesarnya didapat dari pariwisata.

Meski begitu, Perdana Menteri Jacinda Ardern memutuskan untuk menutup perbatasan Selandia Baru dari pengunjung asing pada 19 Maret, dan mengumumkan lockdown selama empat minggu pada 23 Maret. Ia mengharuskan semua pekerja yang non-esensial untuk tinggal di rumah kecuali bila harus belanja bahan makanan atau berolah raga di daerah rumah.

Selandia Baru telah melakukan tes secara luas dan menemukan 1.300 kasus coronavirus COVID-19. Tetapi, kematian akibat virus tersebut hanya sembilan.

"Dalam menghadapi ancaman terbesar terhadap kesehatan manusia yang telah kita saksikan di lebih dari seabad, Kiwi diam-diam dan secara bersama-sama telah mengimplementasikan tembok pertahanan nasional, kata Ardern dalam pidatonya.

 

4. Perdana Menteri Finlandia Sanna Marin

(Pinterest)

 

Empat dari lima negara Nordik dipimpin oleh perempuan. Tiap negara memiliki angka kematian yang jauh lebih rendah dibanding negara Eropa lainnya.

Dari empat negara tersebut, ada dua negara yang aksi pemimpinnya disanjung. Salah satunya ialah Perdana Menteri Finlandia, Sanna Marin.

Sanna Marin bisa jadi merupakan pemimpin termuda yang baru berusia 34 tahun. Namun, ia telah mengantongi 85 persen rating persetujuan dari rakyat Finlandia berkat kesiapannya dalam menghadapi pandemi. Dari jumlah populasi 5,5 juta, angka kematian hanya 59.

 

5. Perdana Menteri Islandia Katrín Jakobsdóttir

(EVZ)

 

Katrín Jakobsdóttir memimpin negara pulau kecil yang hanya dihuni 360.000 orang. Tetapi, tes coronavirus berskala besar yang ia lakukan berkontribusi besar bagi dunia.

Katrín Jakobsdóttir menemukan bahwa sekitar setengah dari semua orang yang positif coronavirus rupanya tidak menunjukkan gejala apapun. Islandia juga melakukan intervensi awal, yakni melacak kontak dan mengkarantina kasus-kasus terduga coronavirus secara agresif. (*)

Related Articles
Current Issues
WHO: Tak Ada Bukti Orang Sembuh dari Covid-19 Jadi Kebal terhadap Infeksi Kedua

Current Issues
Kangen Piknik? Berikut Daftar Lengkap Negara yang Siap Kalian Kunjungi

Current Issues
Begini Cara Negara Paling Sehat di Dunia Melawan Coronavirus