Interest

Desainer Indonesia Ini Jual Tas Berbahan Dasar Tulang Manusia dan Kulit Albino

Ahmad Redho Nugraha

Posted on April 14th 2020

Arnold Putra, seorang desainer pakaian asal Indonsia baru-baru ini menjadi sasaran kemarahan warganet. Pasalnya, ia menjual sebuah tas berbahan dasar lidah aligator dan tulang belakang manusia yang ia peroleh 'secara etis' dari kelebihan suplai organ dalam manusia di Kanada.

Tas tangan tersebut mulai diperjualbelikan pada 2016 dengan harga USD 5.000. Pegangan tas ini nampak seperti tulang belakang manusia yang direkatkan, dan beberapa ahli meyakini bahwa itu memang tulang belakang asli.

Putra selama ini dikenal sebagai sosok flamboyan yang hidup mewah, modis dan senang bepergian ke tempat-tempat eksotis. Pada 2017 lalu, Tatter Indonesia menyebutnya sebagai salah satu kolektor mobil mewah paling masyhur di Indonesia.

Putra sering mengunggah fotonya bersama selebriti-selebriti fashion dunia, seperti Michele Lami, di akun instagram @arnoldputra yang baru-baru ini diubah ke mode private karena polemik yang baru-baru ini melandanya.

Sementara akun instagram keduanya, @byarnoldputra, mengunggah produk-produk fashion yang ia rancang. Salah satu produk yang ia unggah disana tak lain adalah tas berbahan tulang belakang manusia yang memulai kehebohan tersebut.

Pada postingan foto tas tersebut, ia memberi caption: "alligator tongue basket bag. Made of an entire child's spine who had osteoporosis." Postingan tersebut diunggah pada 2016, serta diunggah juga di media sosial distributor pakaian di Inggris, The Unconventional.

Kepada Insider, Putra mengatakan bahwa akun tersebut dikelola oleh orang lain dan ia hanya berkontribusi mengisi kontennya, tapi ia tidak mengatakan apakah tulang belakang tersebut benar-benar milik seorang anak.

Postingan yang sudah berumur 4 tahun tersebut baru menarik perhatian publik baru-baru ini, tepatnya sejak tanggal 23 Maret. Bermula dari seorang mahasiswa dan kurator bernama Maxim yang mengunggah screenshot dari postingan tersebut di Twitter @wqbisabi. Dari sanalah polemik dimulai. Orang-orang yang melihat tweet tersebut beramai-ramai memborbardir akun instagram Arnold Putra beserta distributornya, The Unconventional.

Pertanyaan tentang asal-muasal tulang belakang tersebut akhirnya ditanggapi oleh The Unconventional. "Ia melakukan pertukaran dengan sebuah suku kuno, barang-barang berharganya untuk barang berharga milik suku itu," demikian balasan juru bicara The Unconventional lewat aplikasi messenger Whatsapp.

Jawaban tersebut ditampik olehh Arnold Putra. Ia mengatakan tidak pernah mengunjungi suku apa pun sebelum produk tersebut dibuat. "Metode produksiku tidak melibatkan perjalanan ke tempat-tempat seperti itu," jawabnya.

Putra berkilah bahwa tulang belakang tersebut ia peroleh dari Kanada, dengan membelinya. Menurutnya, tulang manusia bisa dibeli dari perusahan resmi penerima donor organ tubuh manusia, selagi persediaan organ tersebut surplus.

Sementara untuk lidah aligator, ia mengaku memperolehnya dari sisa industri pengolahan daging dan kulit aligator, mengingat aligator memang bukan satwa langka lagi di Amerika Serikat.

Merespons tudingan yang membanjirinya, Putra justru membuat pernyataan lain yang tidak kalah kontroversial lewat story instagramnya. Ia menyebut tas buatannya tersebut bukan hanya menggunakan bahan tulang belakang manusia, tapi juga "dibuat dari kulit orang albino dan organ dalam manusia yang diplastinasi".

Putra menyebut bahan-bahan tersebut juga ia peroleh dari surplus donor di institusi kesehatan, tapi ia tidak bersedia melakukan klarifikasi lebih jauh.

Hukum perdagangan tulang manusia memang beragam di seluruh dunia. Beberapa negara bagian Amerika Serikat dan Kanada termasuk negara yang melegalkan perdagangan tersebut.

SkullStore adalah nama salah satu toko yang memperjualbelikan organ tubuh manusia. Pemiliknya, Ben Lovatt berpendapat bahwa tulang belakang yang digunakan dalam pembuatan tas Arnold Putra tampak seperti spesimen pelajaran kedokteran yang sudah tidak digunakan lagi.

Ia juga menambahkan bahwa perdagangan tulang di seluruh dunia, baik untuk motif penelitian, kebudayaan dan personal memiliki sejarah yang sangat panjang.

Kini, iklan produk tas kontroversial tersebut sudah dihapus dari web The Unconventional, demikian pula dengan nomor kontak perusahaan tersebut.

Warganet bukan hanya mengomentari tas rancangan Putra, tetapi juga caranya dalam menggambarkan suku-suku adat yang pernah ia kunjungi lewat postingan Instagram-nya. "Ini adalah bagian kreatif dari proses belajar, di mana kita harus melihat dari sudut pandang yang berseberangan. Jika tidak, semuanya hanyalah pembenaran yang diulangi terus-menerus," ujar Arnold.

Maxim, mahasiswa yang menviralkan berita tentang Putra dan tasnya tersebut kini sudah menghapus tweet-nya. "Aku membagikannya (tas berbahan tulang belakang) karena kupikir itu hal yang harus dilihat semua orang. Aku tidak percaya dia bisa lepas begitu saja setelah apa yang dia lakukan," tutur Maxim kepada Insider.(*)

Related Articles
Sport
Lockdown, Kota-Kota Ini Ubah Jalan Raya Jadi Jalur Sepeda dan Jalan Kaki

Interest
Kerahkan Pocong hingga Robot Demi Pastikan Warga Berdiam di Rumah

Interest
Hadapi Pandemi Covid-19, Begini Cara 8 Masjid Besar Dunia Beradaptasi