Current Issues

Harimau Kebun Binatang Bronx Positif Covid-19, Ternyata Begini Cara Ngetesnya...

Dwiwa

Posted on April 13th 2020

Corona virus disease 2019 (covid-19) telah menjadi teror baru di dunia. Hanya dalam kurun waktu empat bulan, penyakit yang disebabkan oleh Coronavirus ini telah menginfeksi lebih dari 1,8 juta orang.

Yang tak kalah mengkhawatirkan, saat semua orang tengah berkonsentrasi menangani virus yang telah menginfeksi manusia, kabar mengejutkan lain datang. Hewan-hewan peliharaan mulai ikut terinfeksi saat pemiliknya dinyatakan positif.

Bahkan terbaru, seekor harimau bernama Nadia di kebun binatang Bronx, New York Amerika Serikat dinyatakan positif Covid-19 awal April lalu. (Baca juga: Tidak Hanya Manusia, Coronavirus Juga Mulai Infeksi Harimau)

Kabar ini menjadi kontroversi baru di tengah pandemi. Banyak pertanyaan yang muncul tentang bagaimana penyakit ini bisa tertular ke harimau di kebun binatang. Apakah ini juga bisa terjadi pada hewan peliharaan?

Kemudian beberapa orang kritis juga bertanya-tanya. Bagaimana mungkin seekor harimau bisa mendapatkan akses untuk tes dengan cepat? Sementara Amerika Serikat yang memiliki jumlah kasus terbanyak di dunia mengalami kekurangan alat tes. Ribuan orang masih harus menunggu dalam ketidakpastian karena keterbatasan alat tes untuk manusia.

Mereka harus diam di rumah dan memposisikan diri sebagai orang yang telah terinfeksi sembari menunggu kesempatan untuk menjalani tes. Tentu ini membuat orang-orang menjadi stres. Dan mendengar seekor harimau bisa mendapatkan akses dengan begitu cepat dan menjadi pusat perhatian, sedikit banyak menimbulkan kemarahan.

Para dokter hewan pun segera menjelaskan jika tes yang dijalani Nadia dilakukan secara khusus di laboratorium hewan, sama sekali tidak menggunakan tes yang ditujukan untuk manusia. Lagi pula, adanya infeksi pada harimau ini relevan untuk para ilmuwan dalam memahami Covid-19.

“Sejak awal kita sudah tahu jika penyakit ini berasal dari hewan. Akan menjadi sangat penting bagi orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan manusia dan juga kesehatan hewan untuk bertukar informasi,” ujar Direktur CDC One Health Office di Pusat Nasional untuk Penyakit Menular dan Zoonosis, Casey Barton Behravesh.

Sementara ini, asal-usul Covid-19 diyakini dari kelelawar dan menginfeksi manusia lewat pasar di Tiongkok yang khusus menjual daging dan ikan, termasuk hewan hidup. Ini adalah pengetahuan dasar yang harus dipahami oleh orang-orang di bidang kesehatan manusia dan juga hewan.

Melakukan tes pada harimau mungkin terdengar aneh, tetapi ini memiliki kaitan erat untuk mempelajari bagaimana Covid-19 berdampak pada manusia dan hewan. Apalagi diperkirakan jika Nadia tertular dari pekerja yang positif tapi tidak bergejala. Semua masih belum jelas seberapa mudahnya manusia menularkan infeksi ini kepada binatang.

Adanya hubungan kasus Nadia dengan krisis kesehatan masyarakat membuat Departemen Kesehatan Kota New York berencana melakukan pelacakan kontak. Para penjaga kebun binatang akan dilakukan wawancara untuk melihat seberapa sering mereka kontak dengan hewan dan mencoba menentukan kapan kontak itu terjadi.

“Departemen kesehatan akan melakukan investigasi. Ini terlihat seperti penularan dari manusia ke kucing, tetapi bagaimana penularan itu terjadi masih perlu kita pelajari,” ujar Sekretaris Departemen Kesehatan Kota New York Patrick Gallahue. (Baca juga: Tidak Hanya Manusia, Coronavirus Juga Mulai Infeksi Harimau)

Dokter hewan di Laboratorium Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Illinois, Sam mengatakan jika perlu kerja sama semua orang, termasuk beragam spesialis untuk menemukan jawaban cara mengayasi virus secara efektif dan efisien.

“Pengembangan vaksin lebih lanjut juga sangat dimungkinkan. Melakukan uji tambahan untuk mendapatkan jawaban lebih spesifik tentang bagaimana virus bereplikasi dan kapan bermutasi,” ujarnya.

Nadia sendiri dinyatakan positif Covd-19 dalam tiga tes. Nadia harus dibius terlebih dulu agar para dokter hewan bisa mengambil sampel dari rongga hidung, bagian belakang tenggorokan, dan trakea. Sampel kemudian dikirim ke Universitas Cornel dan Laboratorium Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Illinois.

“Kami menggunakan tes molekuler yang sama dengan tes pada manusia,” ujar Leyi Wang, ahli virologi hewan yang mencipatakan tes untuk Nadia di Universitas Illinois. Setelah mendapatkan hasil positif, laboratorium kemudian memastikannya lagi dengan memberikan sampel ke Laboratorium Layanan Veteriner Nasional (NVSL) milik Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). Saat dikonfirmasi positif, publikasi kemudian dilakukan pada 5 April.

Laboratorium diagnostik hewan di seluruh Amerika juga sedang mengembangkan tes untuk Covid-19 versi mereka sendiri. Banyak dari laboratorium tersebut menggunakan proses dasar yang serupa dengan pengujian sampel pada manusia.

Teknik RT-PCR (reverse transcriptase polymerase chain reaction) untuk menganalisa sampel dan mencari urutan genetik yang sama dengan virus SARS-Cov-2 cenderung dipilih. Ini merupakan metode yang digunakan untuk menguji sampel Nadia dan untuk konfirmasi di NVSL.

Salah satu di antaranya adalah Laboratorium Diagnosis Penyakit Hewan yang dipimpin oleh Tim Basler yang membuat versi tes sendiri khususnya untuk hewan peliharaan. “Prosedur untuk melihat apakah hewan memiliki virus Corona bukanlah hal baru. Yang baru adalah penyakitnya,” ujarnya.

Sebab, sejatinya virus Corona bukan hanya satu jenis saja. Selain yang menjadi penyebab Covid-19, masih ada jenis coronavirus lain yang juga sudah menginfeksi hewan sedari dulu. Prevalensi dan variasi coronavirus di dunia hewan sangat beragam sehingga tes yang dilakukan pada hewan tidak sesuai untuk manusia. Beberapa tes bahkan hanya cocok untuk spesies tertentu saja.

“Tes yang kami gunakan hanya khusus untuk hewan. Kami perlu memastikan bahwa kami mengembangkan tes yang tidak bereaksi silang, atau memberikan hasil positif palsu untuk virus Corona lain dan bukan penyebab Covid-19,” ujar Jim Blacka, dokter hewan di Idexx.

Idexx sendiri merupakan laboratorium diagnostik veteriner komersial yang telah mengembangkan uji Covid-19 untuk hewan pada Februari lalu. Setidaknya sudah lebih dari 5 ribu sampel yang diuji, khususnya untuk kucing, anjing, dan juga kuda.

Menurut Ann Hohenhaus, staff dokter di Pusat Kesehatan Hewan New York, kucing rentan terhadap virus Corona, misalnya yang berdampak pada saluran pencernaan. Setidaknya 80 persen kucing mengalami jenis yang “sangat umum” ini. Gejala yang muncul diare ringan, tetapi tidak sampai membuat mereka sakit.

Jenis virus Corona ini biasanya spesifik pada spesies tertentu. Ada empat sub kelompok utama, yakni alfa, beta, gamma, dan delta. Kucing umumnya tidak rentan terhadap coronavirus jenis beta seperti yang menyebabkan Covid-19. Hal ini membuat fakta jika Nadia tertular menjadi semakin aneh sekaligus menjadi bukti jika penyakit kadang tidak terduga.

Meski begitu, dokter hewan mengingatkan jika para pemilik hewan peliharaan tidak perlu panik tertular infeksi dari mereka. Sebab sampai saat ini belum ada bukti jika kucing dapat menularkan ke manusia. Beberapa penemuan awal justru mengatakan jika manusia yang mungkin menulari kucing atau bahkan musang.

Para peneliti tengah melihat bagaimana hewan merespon infeksi dalam pengaturan laboratorium. “Kami menemukan jika kucing, musang, dan golden hamster dapat terinfeksi virus ini dalam dosis sangat tinggi pada uji coba laboratorium,” ujar Casey. Tes ini mungkin dapat mengungkapkan sifat alami infeksi yang selama ini masih menjadi misteri.

Namun sekali lagi, pecobaan tersebut tidak perlu membuat kita panik berlebihan. Sebab meski paralel, tetapi sama sekali berbeda dengan pengujian pada manusia. “Pesan yang ingin saya sampaikan adalah jangan menyerah dengan hewan peliharaan kalian. Mereka bisa menjadi teman baik kita selama masa sulit ini, bukan sumber stress atau kecemasan yang lain,” pesan Jim.(*)

Related Articles
Current Issues
Tanpa Prom, Sekolah di AS Punya Berbagai Cara Unik Rayakan Kelulusan

Interest
Hadapi Pandemi Covid-19, Begini Cara 8 Masjid Besar Dunia Beradaptasi

Current Issues
WHO Resmi Sebut Coronavirus Berasal dari Hewan, Bukan Kebocoran Laboratorium